JIWA LAPAR, RUH KENYANG

Ramadhan hari ke 6

JIWA LAPAR, RUH KENYANG
Ach. Muzajjad, SE., M.Si

Menemukan Kembali Kesehatan Spiritual di Bulan Ramadh

Ach. Muzajjad, SE., M.Si (Dosen Prodi Manajemen, FE UNDAR Jombang)

Pernahkah kita terbangun di tengah malam bukan karena suara adzan, bukan pula karena mimpi buruk, melainkan oleh perasaan hampa yang sulit dijelaskan? Pekerjaan terasa mapan, keluarga harmonis, kesehatan cukup baik, namun ada ruang dalam hati yang tetap kosong. Seolah ada celah yang tak mampu ditutup oleh pencapaian duniawi.

Sebagian dari kita juga pernah merasakan ibadah yang berjalan seperti rutinitas tanpa makna. Shalat terasa sekadar gerakan, bacaan Al-Qur’an hanya suara tanpa getaran, doa meluncur dari lisan tetapi tidak menyentuh relung jiwa. Jika kondisi ini pernah hadir dalam hidup kita, ketahuilah: kita tidak sendiri. Dan Ramadhan datang bukan sebagai beban, melainkan sebagai jawaban.

Data yang dipublikasikan oleh The Conversation bekerja sama dengan University of Queensland dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menunjukkan bahwa 1 dari 20 remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental berupa kecemasan dan depresi. Di sisi lain, sebuah penelitian pada 2019 di salah satu lembaga pendidikan menemukan bahwa 98,01% pelajar mengalami peningkatan kesehatan mental selama menjalani puasa Ramadhan.

Angka 98,01% bukan sekadar statistik biasa. Ia hampir sempurna. Dan menariknya, temuan ini bukan klaim religius, melainkan hasil penelitian ilmiah. Seakan-akan data tersebut menegaskan bahwa apa yang Allah wajibkan bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga kebutuhan jiwa manusia.

Memahami Kesehatan Spiritual
Kita begitu akrab dengan istilah kesehatan fisik: kolesterol, gula darah, tekanan darah, kesehatan jantung. Kita rutin memeriksakan diri ke dokter saat tubuh terasa tidak nyaman. Namun, jarang sekali kita berbicara tentang kesehatan spiritual.

Kesehatan spiritual bukan sekadar rajin beribadah atau hafal banyak dalil. Ia adalah kondisi ketika hubungan dengan Allah terasa hidup dan nyata. Ketika hati tenang bukan karena keadaan luar, melainkan karena keyakinan dalam dada. Orang yang sehat secara spiritual tidak mudah runtuh oleh kehilangan, tidak putus asa oleh kegagalan, dan tidak rapuh oleh tekanan hidup.

Sebaliknya, ketika spiritualitas sakit, segala sesuatu terasa berat. Harta melimpah tetapi gelisah. Jabatan tinggi tetapi hampa. Dikelilingi banyak orang tetapi tetap merasa sepi. Dalam perspektif psikologi Islam, inilah yang disebut penyakit ruhani. Dan Ramadhan adalah musim penyembuhannya.
Puasa: Jalan Menuju Taqwa
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Frasa la’allakum tattaqun (agar kamu bertaqwa) menjadi kunci. Taqwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran penuh bahwa setiap pikiran, perasaan, dan tindakan terhubung dengan Allah. Itulah puncak kesehatan spiritual.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah mekanisme penyembuhan. Penelitian terbaru yang dirilis National Library of Medicine (2024) menunjukkan bahwa puasa membantu menurunkan hormon kortisol—hormon stres—sehingga pikiran menjadi lebih jernih dan tenang. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah berkonsentrasi dan mengelola emosi.

Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Puasa adalah latihan sistematis untuk menaklukkan musuh itu. Studi dari Universitas Sirjan Azad di Iran menemukan bahwa individu yang berpuasa menunjukkan tingkat pengendalian diri yang lebih kuat dibandingkan yang tidak berpuasa.
Ketika kita mampu menahan lapar—kebutuhan paling mendasar manusia—kita sedang melatih otot kesadaran diri. Otot inilah yang kelak membantu menahan amarah, menahan godaan, dan menahan perilaku yang menjauhkan kita dari Allah.