Oleh: M. Najihul Huda, M.Pd
Ramadhan selalu hadir dengan dua wajah sekaligus: spiritualitas dan peradaban. Ia bukan sekadar bulan ibadah individual, melainkan juga musim pembentukan karakter sosial. Di tengah derasnya arus digital, krisis keteladanan, dan tantangan ideologis yang semakin kompleks, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana Ramadhan benar-benar mampu membentuk generasi muda yang kokoh secara akidah dan matang secara kepribadian?
Di sinilah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai tauhid sebagaimana dirumuskan dalam kitab Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad al-Marzuqi. Kitab ini bukan sekadar nazham teologis untuk dihafal, melainkan fondasi kesadaran ketuhanan yang membentuk cara pandang hidup seorang Muslim. Jika nilai tauhid dalam Aqidatul Awam dihidupkan dalam praktik puasa Ramadhan, akan lahir generasi muda yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga kokoh secara ideologis dan matang secara moral.
Tauhid sebagai Pondasi Segala Amal
Aqidatul Awam secara sistematis mengenalkan Allah melalui sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz. Di antara yang paling mendasar ialah keyakinan bahwa Allah Maha Esa, Maha Berkehendak, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tauhid dalam perspektif ini bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi kesadaran total bahwa seluruh realitas berada dalam genggaman-Nya.
Generasi muda hari ini hidup dalam budaya visual, serba instan, dan sering kali permisif. Tanpa fondasi tauhid yang kuat, mereka mudah terombang-ambing oleh tren, opini publik, dan standar sosial yang relatif. Tauhid mengajarkan keteguhan: standar kebenaran bukanlah viralitas, melainkan wahyu; bukan popularitas, melainkan ridha Ilahi.
Ketika seorang remaja memahami bahwa Allah memiliki sifat al-‘Ilm (Maha Mengetahui), ia merasa diawasi bukan oleh kamera, tetapi oleh kesadaran ilahiah. Saat ia meyakini sifat al-Qudrah (Maha Kuasa), ia tidak mudah putus asa karena menyadari bahwa perubahan selalu mungkin dalam kuasa-Nya. Ketika ia memahami sifat al-‘Adl (Maha Adil), ia belajar menegakkan keadilan dalam lingkup kecil kehidupannya.
Tauhid, dengan demikian, membentuk struktur batin yang kokoh. Ia melahirkan orientasi hidup yang jelas, kompas moral yang stabil, dan identitas yang tidak rapuh.
Puasa Ramadhan sebagai Laboratorium Ketauhidan
Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga; ia adalah laboratorium tauhid. Puasa merupakan ibadah paling sunyi—tidak ada yang mengetahui seseorang berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Allah. Di sinilah tauhid diuji dan dilatih.
Puasa melatih keikhlasan. Seseorang mungkin dapat berpura-pura dalam ibadah yang tampak, tetapi sulit berpura-pura berpuasa sepanjang hari tanpa keyakinan bahwa Allah melihatnya. Dalam konteks ini, Ramadhan menjadi ruang internalisasi sifat al-Raqib (Maha Mengawasi) dan al-Sami’ (Maha Mendengar).
Bagi generasi muda, hal ini sangat relevan. Dunia digital memberi ruang untuk membangun citra, bahkan memanipulasi identitas. Puasa mengajarkan integritas: menjadi baik meski tak terlihat, jujur meski tak diawasi, dan taat meski tak dipuji. Inilah karakter Islami yang lahir dari rahim tauhid.
Lebih dari itu, puasa menumbuhkan pengendalian diri (self-control). Dalam Aqidatul Awam, Allah ditegaskan sebagai Dzat yang tidak bergantung pada apa pun. Kesadaran ini mengajarkan manusia agar tidak menjadi budak nafsu. Menahan lapar bukan sekadar latihan fisik, tetapi simbol bahwa manusia mampu mengendalikan dorongan instingtifnya.
Generasi muda yang terbiasa berpuasa dengan kesadaran tauhid akan memiliki daya tahan terhadap berbagai godaan—pornografi, narkoba, hedonisme, bahkan radikalisme ideologis. Mereka tidak mudah terprovokasi, karena jiwanya telah dilatih untuk bersabar dan berpikir jernih.
Dari Hafalan Menuju Kesadaran
Selama ini, Aqidatul Awam sering diajarkan sebagai teks yang dihafal di pesantren atau madrasah. Hafalan tentu penting, tetapi Ramadhan memberi momentum untuk menggeser pendekatan dari sekadar hafalan menuju kesadaran eksistensial.
Ketika dalam nazham disebutkan dua puluh sifat wajib Allah, itu bukan sekadar angka, melainkan fondasi cara pandang hidup. Sifat al-Qiyam binafsihi (berdiri sendiri) mengajarkan kemandirian. Sifat al-Wahdaniyah (keesaan) mengajarkan konsistensi dan integritas. Sifat al-Iradah (berkehendak) mengajarkan bahwa segala sesuatu terjadi dengan hikmah, bukan kebetulan.
Bayangkan jika generasi muda memahami bahwa hidup mereka berada dalam skenario Ilahi yang penuh hikmah. Mereka tidak mudah frustrasi saat gagal, tidak sombong saat berhasil, dan tidak rapuh saat diuji.
Ramadhan adalah momentum kontemplasi. Tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, dan i’tikaf membuka ruang hening untuk merenungi kembali pelajaran tauhid. Di sinilah integrasi terjadi: teks bertemu konteks, hafalan bertemu pengalaman, ilmu bertemu laku.
Membentuk Karakter Islami
Karakter Islami tidak lahir dari slogan, tetapi dari proses internalisasi nilai. Tauhid membentuk kesadaran vertikal (hubungan dengan Allah), sedangkan puasa membentuk disiplin horizontal (hubungan dengan sesama).
Pertama, karakter jujur. Kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui membuat seseorang enggan berbohong, meski kebohongan itu tampak menguntungkan. Puasa memperkuat kejujuran karena ia menuntut integritas batin.
Kedua, karakter sabar. Menahan lapar, dahaga, dan emosi selama sebulan penuh adalah latihan kesabaran intensif. Generasi muda yang sabar tidak mudah tersulut konflik, tidak reaktif di media sosial, dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.
Ketiga, karakter empati. Lapar yang dirasakan saat puasa menghadirkan solidaritas sosial. Tauhid mengajarkan bahwa seluruh manusia adalah ciptaan Allah; puasa mengajarkan untuk merasakan penderitaan sesama. Dari sini lahir kepedulian sosial yang autentik.
Keempat, karakter disiplin. Ramadhan mengatur waktu secara terstruktur: sahur, berbuka, tarawih, tadarus. Disiplin waktu adalah fondasi produktivitas. Jika nilai ini ditanamkan sejak muda, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang profesional dan bertanggung jawab.
Ramadhan sebagai Titik Balik
Pada akhirnya, Ramadhan adalah kesempatan. Ia datang setahun sekali, tetapi dampaknya dapat berlangsung seumur hidup. Jika nilai tauhid dalam Aqidatul Awam benar-benar diinternalisasi selama Ramadhan, bulan ini akan menjadi titik balik pembentukan generasi.
Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara akidah; generasi yang mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan identitas; generasi yang menjadikan tauhid sebagai poros hidup dan Ramadhan sebagai madrasah pembentukan diri.
Ramadhan mengajarkan bahwa kemenangan bukan pada banyaknya konsumsi, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri. Tauhid mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada pengakuan manusia, melainkan pada kedekatan dengan Allah.
Integrasi tauhid dan puasa bukan sekadar tema ceramah, tetapi agenda peradaban. Dari masjid-masjid kecil di kampung hingga ruang kelas di sekolah, dari pesantren hingga rumah-rumah sederhana, nilai-nilai ini harus terus dihidupkan.
Sebab di tangan generasi muda yang bertauhid kuat dan berkarakter Islami, masa depan umat ditentukan. Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulainya. (Penulis adalah Dosen Universitas Darul Ulum Jombang)





