Opini  

Ketika Rembulan Diperlambat atau Dipercepat

Ketika Rembulan Diperlambat atau Dipercepat
H. Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh: Djoko Tetuko

Rukyatul hilal dalam kajian astronomi memperkirakan adanya potensi perbedaan awal bulan puasa Ramadhan 1447 H/2026 M. Perbedaan itu bukan semata-mata karena posisi hilal sebagaimana lazim terjadi, melainkan karena perbedaan sudut pandang antara kriteria hilal lokal dan hilal global.

Rukyatul hilal merupakan pelaksanaan sunnah Rasulullah SAW dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal dengan melihat bulan. Tradisi ini adalah bagian dari sunnatullah, mengikuti tuntunan Nabi dalam menjalankan ibadah puasa dan mengakhirinya.

Di sisi lain, perkembangan ilmu pengetahuan melalui metode hisab (perhitungan astronomi) juga menjadi instrumen penting dalam memahami perjalanan bulan. Hisab menghadirkan pendekatan ilmiah dan global dalam menentukan awal bulan qamariyah.

Namun, dalam keyakinan keimanan, perjalanan rembulan — apakah tampak dipercepat atau diperlambat — adalah hak mutlak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ilmu manusia, setinggi apa pun, tetap berada dalam batas ikhtiar. Rukyatul hilal menjadi simbol kepasrahan bahwa dalam ibadah, manusia membaca tanda-tanda kekuasaan Allah, lalu berikhtiar sesuai kemampuan, sementara keputusan hakiki tetap milik-Nya.

Ikhtiar keilmuan itu dalam Islam dikenal sebagai ijtihad — usaha sungguh-sungguh seorang ahli untuk merumuskan hukum atas persoalan yang belum diatur secara tegas dalam Al-Qur’an dan Hadis. Ijtihad menjaga fleksibilitas ajaran tanpa meninggalkan prinsip dasarnya.

Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 2026
Pada Kamis, 5 Februari 2026, Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menyampaikan bahwa terdapat potensi perbedaan penentuan awal Ramadhan 1447 H.

Menurutnya, sumber perbedaan bukan lagi semata posisi hilal, tetapi perbedaan antara kriteria hilal lokal dan hilal global.

Pemerintah Indonesia dan mayoritas ormas Islam menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Berdasarkan perhitungan astronomi, saat magrib 17 Februari 2026 posisi hilal di wilayah Asia Tenggara masih berada di bawah ufuk, sehingga tidak memenuhi kriteria visibilitas. Dengan demikian, awal Ramadhan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun, sebagian ormas menggunakan kriteria Turki (tinggi hilal minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat). Di wilayah Amerika, termasuk Alaska, kriteria tersebut telah terpenuhi. Dengan pendekatan global ini, awal Ramadhan berpotensi jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.