Opini  

Kuli Tinta Sang Pejuang

Kuli Tinta Sang Pejuang
Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin dan Dirut Media Koran Transparansi dalam acara Retret PWI di BOGOR.

Oleh: Joko Tetuko

Sejarah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak pernah berdiri sendiri. Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PWI termaktub jelas bahwa perjuangan wartawan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia—merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak awal republik ini dilahirkan, wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa. Mereka adalah kuli tinta, saksi zaman, sekaligus pejuang. Pena menjadi senjata. Kata-kata menjadi peluru kesadaran.

Kini, di usia hampir delapan dekade kemerdekaan, PWI kembali menegaskan jati dirinya: kumpulan kuli tinta sang pejuang. Pejuang yang bersiap melakukan terobosan digitalisasi, sekaligus melawan kedzaliman digital yang kerap dimanfaatkan para bandit negeri untuk menipu, membelokkan fakta, dan meninabobokan rakyat.

Dalam pidatonya, Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoedin menegaskan kembali posisi historis PWI sebagai mitra strategis tentara dan para pejuang penjaga kedaulatan bangsa.

Sejak masa revolusi, pers hadir menjaga api kemerdekaan, membangkitkan semangat kebangsaan, dan membongkar kebobrokan yang menggerogoti negara dari dalam.

PWI, kata dia, bukan hanya penjaga informasi, tetapi bagian dari instrumen pertahanan non-militer bangsa.
Komitmen itu kini kembali disuarakan lantang.

PWI menyatakan siap dan berani membela negara, berdiri bersama seluruh instrumen penjaga kedaulatan NKRI. Siap berjuang mengembalikan martabat anak bangsa—bahkan bila harus ditempuh dengan pengorbanan.

Sebab hari ini, ibu kandung bernama Indonesia terasa terkoyak. Setelah puluhan tahun merdeka, “penjajah modern” hadir tanpa senjata, tetapi dengan tipu daya, sogokan demokrasi, dan kekuasaan ekonomi. Rakyat dibuat tak berdaya, dilalaikan, dan diadu domba.

Di tengah kondisi itu, kuli tinta sang pejuang memilih berdiri. Menyuarakan dan menyiarkan cahaya kebenaran—seterang rembulan saat padang bulan, ketika gelap tak lagi mampu menyembunyikan luka.

Ibu Pertiwi menangis. Kekayaan alam terkuras, dinikmati segelintir orang. Amanat rakyat dikhianati oleh mereka yang pernah bersumpah setia. Korupsi menjadi tradisi, kemewahan dipertontonkan, sementara rakyat dipaksa bertahan dalam kemiskinan dan kebingungan informasi.

Maka PWI kembali menegaskan langkah:
terdepan bersama rakyat, bergotong royong menjaga kedaulatan. Bela negara bukan slogan, tetapi laku.

Penulis: Djoko Tetuko