Opini  

Strategi Implementasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih

Strategi Implementasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Dr. Agus Raikhani, MMT

Oleh: Agus Raikhani – Dosen Pascasarjana MIE Universitas Darul Ulum Jombang

Sebagaimana harapan bersama, kehadiran Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) tidak berhenti pada tahap pembekalan pengurus, pembangunan gedung, maupun pembukaan gerai. Tahap terpenting justru dimulai ketika koperasi memasuki fase implementasi operasional sesuai proposal bisnis yang telah dirancang sebelumnya.

KDKMP dirancang memiliki beberapa jenis gerai usaha, antara lain gerai sembako, apotek desa/kelurahan, kantor koperasi, unit simpan pinjam, klinik desa, cold storage, layanan logistik, serta usaha lain yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat desa. Agar seluruh unit ini berjalan optimal, diperlukan strategi implementasi yang matang, inovatif, dan adaptif terhadap dinamika pasar.

Gerai Sembako: Harus Kompetitif dan Berbasis Lokal Gerai sembako diharapkan menjadi sentra pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga desa, mulai dari bahan pokok, perlengkapan rumah tangga, alat tulis kantor, hingga bahan bangunan ringan. Tantangan utamanya adalah keberadaan toko modern dan toko kelontong yang telah lebih dulu beroperasi.

Karena itu, pengelola KDKMP harus cerdas membaca peluang. Kerja sama dengan distributor sembako, Bulog, Dekopin, perusahaan gas, maupun perusahaan air minum dapat menjadi solusi untuk memperoleh harga kompetitif. Selisih harga inilah yang menjadi ruang keuntungan koperasi.

Selain itu, gerai sembako harus membuka ruang bagi produk UMKM lokal desa. Dengan kemasan dan standar mutu yang baik, produk lokal dapat bersaing sekaligus memperkuat ekonomi warga. Koperasi bukan sekadar pedagang, tetapi juga agregator dan etalase produk desa.

Apotek dan Klinik Desa: Layanan sebagai Kunci Kehadiran apotek dan klinik desa bertujuan menghadirkan layanan kesehatan dasar yang aman dan terjangkau. Penyediaan obat generik, pemeriksaan dokter, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga laboratorium dasar menjadi kebutuhan riil masyarakat.

Pengelola perlu menyiapkan SDM yang kompeten di bidang kefarmasian serta memiliki data profil kesehatan masyarakat desa. Dengan demikian, jenis layanan dan obat yang disediakan benar-benar sesuai kebutuhan.

Kerja sama dengan industri farmasi untuk mendapatkan harga produk yang lebih rendah serta koordinasi dengan Dinas Kesehatan terkait perizinan menjadi langkah penting. Namun yang tak kalah krusial adalah kualitas layanan. Karena bergerak di bidang jasa, keramahan, ketepatan, dan profesionalitas akan menentukan keberlanjutan unit usaha ini.

Unit Simpan Pinjam: Alternatif Sehat dari Pinjol

Gerai simpan pinjam dirancang sebagai lembaga keuangan mikro yang terpercaya, aman, dan mudah diakses. Tujuannya jelas: membantu permodalan UMKM, mendorong budaya menabung, sekaligus menghindarkan warga dari jerat pinjaman online.

Agar tidak terjadi masalah kredit macet, diperlukan regulasi internal yang kuat dan disepakati bersama anggota. Edukasi literasi keuangan juga menjadi bagian penting agar anggota memahami hak dan kewajibannya. Koperasi harus menjadi lembaga yang mendidik, bukan sekadar meminjamkan dana.

Cold Storage dan Logistik: Menangkap Nilai Tambah

Cold storage menjadi instrumen strategis untuk menjaga kualitas hasil pertanian, perkebunan, perikanan, maupun peternakan agar tidak cepat rusak. Produk seperti sayur, buah, umbi, ikan, dan daging dapat dikemas dengan baik dan disimpan sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi.

KDKMP juga dapat bekerja sama dengan petani dari luar desa untuk menjaga kontinuitas pasokan kebutuhan masyarakat maupun dapur SPPG di wilayah desa. Di sinilah koperasi berperan sebagai penghubung rantai pasok.

Sementara itu, gerai logistik dan pergudangan memfasilitasi penyimpanan dan distribusi barang, termasuk gabah dan produk kemitraan. Jika dikelola profesional, unit ini dapat menjadi pusat distribusi kebutuhan beras, sayur, ikan, telur, dan buah yang dibutuhkan masyarakat desa maupun program pemerintah.

Menggali Potensi Lain

Masih banyak peluang usaha yang dapat dikembangkan, seperti jasa event organizer pernikahan, PPOB, menjadi mitra Kantor Pos atau JNE dengan menyewakan ruang operasional, hingga bermitra dengan perusahaan telekomunikasi. Kreativitas dan keberanian berinovasi menjadi kunci agar koperasi tidak stagnan.

Pada akhirnya, keberhasilan KDKMP sangat ditentukan oleh keseriusan, daya juang, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan desa. Jika dikelola secara profesional, transparan, dan adaptif, KDKMP bukan hanya menjadi badan usaha, tetapi motor penggerak menuju kemandirian dan kedaulatan ekonomi desa. Semoga bermanfaat. (*)