Opini  

Kuli Tinta Sang Pejuang

Kuli Tinta Sang Pejuang
Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin dan Dirut Media Koran Transparansi dalam acara Retret PWI di BOGOR.

Mengembalikan kekayaan rakyat untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat, dan menyeret para pengkhianat ke hadapan nurani publik.

Kesadaran itu menguat dalam Retret Memperkuat Pers Profesional, Menjaga Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Ketahanan Nasional. Sebuah ruang refleksi, sekaligus titik balik. Wartawan disadarkan kembali akan perannya: membebaskan rakyat dari kemiskinan informasi dan jebakan tipu-tipu digital.

Alam seolah ikut bersaksi. Tanda-tanda perlawanan terhadap kedzaliman mulai tampak. Ada harapan bahwa kedaulatan rakyat yang hampir hilang bisa direbut kembali.

Para peserta retret—para kuli tinta sang pejuang—siap menjadi garda terdepan. Berperang opini, melawan kenakalan digitalisasi, dan menembus kabut kepalsuan. Demi mengembalikan amanat umat yang lama terlumat oleh para penjilat kekuasaan.

Malam itu, suasana sunyi. Para wartawan terdiam. Seperti rembulan tertutup awan, qolbu mereka meratap ketika mendengar pidato para menteri tentang negeri yang terasa “mati suri”.
Namun dari keheningan itu, tekad justru mengeras.

PWI kembali memeluk tradisi patriotiknya—berjuang dalam semangat demokrasi, menjaga kedaulatan NKRI dengan pena yang jujur dan nurani yang merdeka.

Kini, para kuli tinta bangkit dari tidur panjang.

Siap menjadi penjuru informasi kebenaran.

Siap membela negara.

Siap membangunkan rakyat agar siuman dari panjangnya peninaboboan, menuju kehidupan yang adil, makmur, dan gemah ripah loh jinawi.

Karena selama masih ada kebenaran yang harus disuarakan,
kuli tinta akan tetap menjadi pejuang. (*)

Penulis: Djoko Tetuko