Perbedaan ini adalah bagian dari dinamika ijtihad. Selama berangkat dari keilmuan dan keyakinan, keduanya memiliki dasar masing-masing.
Renungan Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Asy-Syams:
“Demi matahari dan sinarnya pada waktu duha, demi bulan saat mengiringinya, demi siang saat menampakkannya, demi malam saat menutupinya…”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh keteraturan kosmik berada dalam kekuasaan Allah SWT. Manusia hanya membaca, mempelajari, dan mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya.
Demikian pula dalam Surah Al-Kahfi ditegaskan bahwa kalimat-kalimat Allah tak akan pernah habis ditulis, sekalipun lautan menjadi tinta. Sebuah pengingat bahwa ilmu manusia tetap terbatas.
Karena itu, perbedaan awal Ramadhan — apakah 18 atau 19 Februari 2026 — hendaknya disikapi dengan kelapangan hati. Kualitas ibadah tidak ditentukan oleh klaim paling benar, melainkan oleh ketakwaan.
Allah SWT berfirman bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa.
Perbedaan sebagai Rahmat
Perbedaan dalam umat Islam Indonesia bukan hal baru. Justru, selama dilandasi ijtihad dan keilmuan yang sungguh-sungguh, perbedaan itu menjadi rahmat. Yang terpenting adalah tidak ada nafsu merasa paling benar atau lebih mulia.
Kisah kaum Tsamud dalam Surah Asy-Syams menjadi pengingat bahwa kesombongan dan merasa lebih hebatlah yang membawa kebinasaan, bukan perbedaan itu sendiri.
Menyambut Ramadhan dengan Shalawat
Menjelang Ramadhan, mari memperbanyak shalawat. Salah satu yang dikenal luas adalah Shalawat Fatih:
Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala sayyidina Muhammadinil faatihi limaa ughliqa…
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus…”
Membaca shalawat menjadi ikhtiar batin untuk menata diri, menenangkan hati, dan memohon petunjuk dalam beribadah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dan dalam hadis riwayat An-Nasa’i dari Abu Hurairah RA:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan penuh berkah. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu…”
Penutup
Mari menjemput bulan suci Ramadhan dengan kegembiraan dan kesungguhan. Baik memulai pada 18 atau 19 Februari 2026, yang terpenting adalah niat yang lurus, hati yang bersih, dan ibadah yang semata-mata karena Allah SWT.
Perbedaan adalah bagian dari ijtihad.
Ketakwaan adalah tujuan.
Semoga kita diberi rahmat, taufik, hidayah, dan ridha-Nya dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Aamiin. (*)





