Hati-Hati, Puasa Jangan Sampai Hanya Dapat Lapar dan Haus

Ramadhan hari ke 2

Hati-Hati, Puasa Jangan Sampai Hanya Dapat Lapar dan Haus
Djoko Tetuko

Oleh Djoko Tetuko

Di era modern seperti sekarang, teknologi berkembang begitu cepat. Berbagai konten bisa dengan mudah masuk lewat beragam aplikasi dan media sosial. Semua kembali pada bagaimana kita menggunakan handphone dan seberapa bijak kita menyikapinya.

Lalu pertanyaannya, saat kita berpuasa, apakah kita benar-benar berada di jalur menuju derajat takwa? Atau justru tanpa sadar hanya menahan lapar dan haus saja?

Memasuki bulan suci Ramadhan, Kamis (19 Februari 2026), ini menjadi momen penting untuk refleksi diri. Apakah puasa kita masih berada di lintasan yang benar? Ataukah sudah mulai tergelincir karena godaan-godaan yang tampak kecil, tetapi berdampak besar?

Puasa bukan sekadar menahan makan dan minum. Puasa adalah latihan menahan diri — dari amarah, dari ghibah, dari kebohongan, dari fitnah, dan dari perbuatan sia-sia lainnya. Di sinilah tantangan terbesar justru muncul.

Hari ini, godaan itu bisa datang lewat genggaman tangan kita sendiri. Handphone yang setiap hari menemani, bisa menjadi sarana kebaikan, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk hal-hal yang menggerus pahala puasa. Tanpa sadar, scrolling berjam-jam, menyebar informasi yang belum tentu benar, berkomentar negatif, atau melihat hal-hal yang tidak pantas, dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasa.

Rasulullah SAW sudah mengingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Pesan ini sangat relevan sampai hari ini. Jangan sampai kita termasuk di dalamnya.

Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tujuan puasa jelas: agar kita menjadi pribadi yang bertakwa. Bukan hanya kuat menahan lapar, tetapi juga kuat menjaga hati, lisan, dan perbuatan.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Betapa besar janji Allah dan Rasul-Nya. Sayang sekali jika kita menyia-nyiakannya hanya karena tidak mampu menjaga diri dari hal-hal yang sebenarnya bisa kita hindari.

Mari kita isi Ramadhan dengan memperbanyak amal kebaikan, dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan menjaga akhlak. Tahan lisan dari berbohong dan ghibah. Tahan jari dari menulis komentar yang menyakiti.

Tahan mata dari melihat yang tidak pantas. Tahan hati dari iri dan dengki.
Puasa adalah tentang pengendalian diri. Tentang membangun kualitas iman. Tentang membentuk pribadi yang lebih sabar dan lebih bersyukur.

Jangan sampai seharian menunggu azan Maghrib, tetapi yang kita dapat hanya rasa lapar dan haus.

Semoga puasa kita benar-benar mengantarkan kita pada derajat takwa, bukan sekadar rutinitas tahunan tanpa makna. (*)