Takwa dan Layanan Publik

Ramadhan hari ke 1

Takwa dan Layanan Publik

Oleh Syafi’i

Dalam sebuah hadis populer, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa baik dan buruknya manusia ditentukan oleh satu organ dalam tubuh: hati (nurani). Jika hati terjaga, baiklah seluruh perilaku; jika rusak, rusaklah semuanya. Karena itu, pengendalian diri menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan sebagai khalifah di muka bumi.

Sejak awal, manusia diciptakan sebagai khalîfatullâh fil ardl—pengelola bumi yang bertugas mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan. Namun, tugas tersebut harus dilandasi penghambaan kepada Tuhan, bukan kesombongan atau pelampauan batas.

Tanpa kendali diri, potensi akal dan kekuasaan justru dapat menjelma menjadi sumber kerusakan sosial. Di sinilah puasa hadir sebagai instrumen pendidikan spiritual untuk melatih manusia mengendalikan nafsu, ego, dan ambisi.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri dalam keadaan mampu melakukannya. Menahan amarah saat berkuasa, menolak korupsi saat ada peluang, serta tetap berbuat baik saat lapang maupun sempit—itulah wujud takwa. Takwa berarti menghadirkan kesadaran ilahiah dalam niat, pikiran, ucapan, dan tindakan.

Ibadah puasa memiliki dimensi legal formal sekaligus substansial. Memenuhi syarat dan rukun adalah bentuk kepatuhan, tetapi substansinya adalah transformasi moral. Nabi SAW mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya memperoleh lapar dan haus. Artinya, puasa yang bermakna adalah puasa yang membentuk integritas dan akhlak.

Takwa memiliki dua dimensi: aktif dan pasif. Dimensi aktif berupa pelaksanaan perintah Tuhan dan perbuatan baik sekecil apa pun. Dimensi pasif berupa menjauhi larangan dan kesia-siaan, meski tampak remeh. Dalam konteks pelayanan publik, kedua dimensi ini menjadi fondasi etika kerja aparatur negara.

banner 728x90