Takwa dan Layanan Publik

Ramadhan hari ke 1

Takwa dan Layanan Publik

Sejumlah studi menunjukkan Ramadan dapat memengaruhi ritme kerja. Laporan World Bank (2017) dan kajian di negara-negara Teluk mencatat adanya penurunan output jangka pendek, terutama akibat perubahan pola tidur dan penyesuaian jam kerja. Namun, dampak jangka panjangnya justru positif bagi kesejahteraan dan kualitas hidup. Di sektor publik, Ramadan lebih memengaruhi ritme kerja daripada kualitasnya.

Di Indonesia, digitalisasi layanan, sistem kerja fleksibel (WFO, WFH, WFA), dan penguatan budaya kinerja membantu meminimalkan potensi penurunan produktivitas. Meski jam kerja berkurang, kualitas pelayanan tidak semestinya menurun. Justru Ramadan berpotensi memperkuat aspek nonteknis pelayanan: empati, kesabaran, integritas, dan kejujuran.

Motivasi religius mendorong aparatur menjauhi penyalahgunaan wewenang, memperkuat transparansi, serta memaknai tugas sebagai ibadah. Pelayanan publik bukan sekadar cepat atau lambat, tetapi adil atau tidak, tulus atau tidak, amanah atau khianat.

Kesadaran spiritual menumbuhkan kepatuhan bukan karena pengawasan, melainkan karena tanggung jawab moral.

Ritme pelayanan boleh saja berubah, tetapi kualitas integritas harus meningkat. Jika nilai-nilai Ramadan terus terjaga sepanjang tahun, pelayanan publik akan semakin prima, humanis, dan bebas penyimpangan. Inilah aktualisasi takwa dalam birokrasi. Semoga. (Syafii – Inspektur III, Inspektorat Jenderal Kemenag)

banner 728x90