Kedahsyatan Doa Tarawih dan Seruan Malaikat

Ramadhan hari ke 3

Kedahsyatan Doa Tarawih dan Seruan Malaikat
Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh Djoko Tetuko

Shalat Tarawih bukan sekadar rangkaian rakaat di malam Ramadan. Ia adalah ruang munajat yang hening, tempat hati berbisik dan jiwa bersujud penuh harap. Terlebih ketika doa penutup Tarawih dibaca dengan tenang, direnungi, dan dihayati—setiap kalimatnya menjadi ikrar kesetiaan seorang hamba kepada Rabb-nya.

Pada malam-malam Ramadan, setiap gerakan ibadah adalah janji:
berdiri dengan janji berbakti,
rukuk dengan janji merunduk,
sujud dengan janji tunduk hanya kepada Ilahi Rabbi.

Doa Tarawih yang agung itu memohon agar kita dijadikan hamba yang:
Sempurna imannya
Menunaikan kewajiban
Menjaga shalat
Menunaikan zakat
Mengharap ampunan-Nya
Berpegang teguh pada petunjuk
Zuhud terhadap dunia
Rindu akan akhirat
Ridha atas ketentuan-Nya
Bersyukur atas nikmat
Sabar dalam ujian
Lebih dari itu, doa tersebut memohon agar kelak kita berada di bawah panji junjungan Nabi Muhammad ﷺ pada hari kiamat, mendatangi telaga beliau, masuk ke dalam surga, selamat dari api neraka, serta berkumpul bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Itulah sebaik-baik teman dan sebesar-besar anugerah dari Allah SWT.

Keutamaan Tarawih Malam Ketiga
Dalam kitab Durratun Nasihin, disebutkan bahwa keutamaan shalat Tarawih pada malam ketiga adalah diampuninya dosa-dosa yang telah lalu bagi orang yang mengerjakannya dengan ikhlas.

Bahkan diriwayatkan, malaikat di bawah ‘Arsy berseru kepada hamba tersebut agar memulai lembaran baru amal kebaikan, karena dosa-dosanya telah diampuni. Sebuah kabar yang menggugah hati—seolah Allah SWT memberikan kesempatan baru untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan melangkah lebih dekat kepada-Nya.

Ramadan adalah bulan pembaruan jiwa. Jika pada malam ketiga saja telah dijanjikan ampunan, maka bagaimana dengan malam-malam berikutnya yang dipenuhi kesungguhan dan keikhlasan?
Semoga pada malam yang mulia dan diberkahi ini, kita termasuk golongan yang bahagia dan diterima amalnya.

Jangan sampai kita menjadi orang yang lalai hingga tertolak ibadahnya.
Mari kita jadikan setiap Tarawih sebagai momentum perubahan—
bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi meneguhkan penghambaan.

Semoga Allah menerima setiap rakaat, setiap doa, dan setiap air mata yang jatuh dalam sujud-sujud panjang kita.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.