JIWA LAPAR, RUH KENYANG

Ramadhan hari ke 6

JIWA LAPAR, RUH KENYANG
Ach. Muzajjad, SE., M.Si

Penelitian Denny Jandali dkk. (2024) juga menyimpulkan bahwa puasa Ramadhan meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup, sekaligus menurunkan stres, kecemasan, dan depresi secara signifikan. Namun lebih dari sekadar angka, Ramadhan mengembalikan kita pada ritme fitrah: bangun sebelum subuh, sahur, shalat, membaca Al-Qur’an, berbuka dengan syukur, dan tarawih berjamaah.

Seluruh rangkaian itu bukan hanya ibadah, tetapi terapi dan kalibrasi jiwa. Seperti jam yang kembali disetel agar tepat waktu, hati yang selama ini melenceng dikembalikan pada frekuensi Ilahi.

Riset Sahaby dkk. (2022) bahkan menunjukkan bahwa puasa meningkatkan kesejahteraan mental di tengah kondisi sulit seperti pandemi. Artinya, kekuatan penyembuhan Ramadhan bekerja dari dalam—melalui koneksi ruhani kepada Sang Pencipta.
Ramadhan dan Realitas Sosial
Di Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Ramadhan bukan hanya peristiwa personal, tetapi juga sosial dan kultural.

Masjid penuh, tadarus terdengar di berbagai penjuru, keluarga berkumpul saat berbuka, dan tangan-tangan berbagi takjil.

Psikologi modern menjelaskan bahwa interaksi sosial semacam ini memicu pelepasan hormon oksitosin dan serotonin—hormon kebahagiaan. Tradisi ngabuburit, buka puasa bersama, dan tarawih berjamaah adalah terapi komunal yang telah diwariskan turun-temurun.

Namun pertanyaannya, apakah kita memaksimalkan momentum ini? Ataukah Ramadhan hanya menjadi agenda tahunan yang berlalu tanpa perubahan berarti?

Ramadhan seharusnya menjadi titik balik. Bukan sekadar peningkatan ibadah kuantitatif, tetapi transformasi kualitatif. Bukan hanya menahan lapar, tetapi menyembuhkan jiwa.

Seorang mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsabandiyah, Kyai Mudjib Musta’in, pernah berpesan,

“Perbanyaklah berdzikir daripada berdoa.” Dzikir menjaga kesadaran hati agar terus terhubung dengan Allah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 152 ditegaskan, “Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kepadamu.”Pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan kenyang fisik, tetapi juga kenyang ruhani. Dan seringkali, justru ketika perut kosong, jiwa menemukan kepenuhannya.

Semoga Ramadhan kali ini menjadi musim panen perubahan. Bukan hanya di lisan, tetapi di kedalaman hati. Bukan sekadar ritual, tetapi kebangkitan spiritual yang nyata. (*)