Selasa, 7 Februari 2023
24 C
Surabaya
More
    OpiniMengonrtruksi Profil Guru Menuju Pendidikan Indonesia yang Maju, Berkualitas dan Memerdekakan

    Mengonrtruksi Profil Guru Menuju Pendidikan Indonesia yang Maju, Berkualitas dan Memerdekakan

    Oleh Muchamad Taufiq

    Pesan penting Menteri Nadiem Makarim untuk mengajak guru menyatukan langkah menuju satu tujuan yakni pendidikan Indonesia yang maju, berkualitas, dan memerdekakan. Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) merupakan momen penting untuk dijadikan starting point mengkonstruksi profile guru memasuki suasana baru dan memerdekakan.

    Teorinya, sebelum upaya memerdekakann murid maka profile
    guru yang memerdekakan dirinya dulu dari pola pikir dan perilakunya dalam menjawab konsep merdeka belajar.

    Perjuangan para pahlawan melahirkan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagaimana termaktub dalam staatsfundamentalnorm bangsa Indonesia.

    Semangat mencerdaskan kehidupan bangsa ini tidak akan berhenti sepanjang bangsa Indonesia tetap berdiri. Disisi lain kewajiban pemerintah atas penyelenggaraan pendidikan tertuang dalam Pasal 31 ayat (3) UUD Negara RI Tahun 1945 (UUD), “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”.

    Kewajiban pemerintah adalah mengikhtiarkan penyelenggaraan pendidikan dalam keadaan yang bagaimanapun. Negara tidak boleh abai terhadap pemenuhan kebutuhan Pendidikan dalam kondisi apapun.

    Semangat HGN harus merasuk disemua lini kehidupan dalam berbangsa dan bernegara tak terkecuali dunia pendidikan yang bertanggung jawab untuk mencerdaskan generasi muda bangsa. Saat ini pendidikan Indonesia dihadapkan pada dua pilihan tegas, apakah menyerah dengan tekanan ekses pandemic covid-19 atau melakukan adaptasi dengan kebiasaan baru. Kondisi inilah yang harus dihadapi dan diambil keputusan agar dunia pendidikan tak mati suri.

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Guru sebagai pilar utama Pendidikan harus memiliki mental self adaptif yang lebih siap dalam menghadapi perubahan yang sifatnya darurat seperti saat ini. Guru juga tidak mudah untuk mengikuti irama pemerintah dalam mengendalikan kebijakannya ditengah kondisi yang tidak menentu ini.

    Guru harus mampu bertahan dibawah berbagai tekanan. Dilema target capaian pembelajaran dengan kondisi tidak stabil merupakan ujian tersendiri bagi siswa dan guru. Himpitan ekonomi masyarakat juga berkorelasi langsung dengan pemenuhan kewajiban mereka kepada sekolah. Berbagai kondisi keterbatasan ini mungkin sangat
    dirasakan disemua Lembaga Pendidikan saat ini.

    Keadaan inilah perlu bersama menghadirkan ruh merdeka belajar dalam diri pemangku kepentingan untuk senantiasa struggle for education.

    Makna “merdeka belajar” idealnya tidak memasung pendidik dan lembaga pendidikan untuk memiliki kemerdekaan dalam mengimplementasikannya sesuai dengan situasi dan kondisi lembaga Pendidikan berada. Tanpa bermaksud berpikir skeptis terhadap program “merdeka belajar” yang sifatnya darurat ini, maka cara. Jangan sampai program “merdeka belajar” ini hanya akan merupakan pelarian guru dan murid dari kejenuhan di kelas.

    Peringatan HGN 2022 seharusnya menjadi pintu pembuka bagi guru untuk mendekatkan dunia teori “das sollen” dan kebutuhan lapangan “das sein” bagi muridnya. Semangat "merdeka belajar” bagi yang memahami filsafat pendidikan akan meramu nilai-nilai merdeka belajar sebelum diterapkan penuh karena semangat link and match dari ruh merdeka belajar” harus dipandang secara komprehensif.

    Namun yang harus kita pikirkan juga adalah murid sebagai obyek Pendidikan apakah sudah siap secara mental?

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Saat ini yang harus fokus pada pengembangan menuju pendidikan yang maju, berkualitas dan memerdekakan di daerah adalah 4 Pilar Pendidikan yaitu Pemerintah (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan), Guru, Manajemen Sekolah dan Komite Sekolah. Program Baik Menteri Nadiem Makarim harus ditangkap dengan perencanaan yang baik di daerah sehingga outputnya baik di lapangan.

    Program inovasi dibidang Pendidikan haruslah direncanakan seiring dengan alur penganggaran pemerintah. Ketika program yang bernuansa inovasi untuk mendukung “merdeka belajar” diterbitkan setelah semua sekolah menyusun RAPBS maka dapat dipastikan akan semakin carut marut pengelolaan program di sekolah.

    Manajemen Sekolah akan sulit mengalokasikan anggaran untuk kegiatan karena semua program telah disepakati dengan nomenklatur masing-masing. Manajemen Sekolah akan berada dalam dilema, antara kewajiban melaksanakan program dan aspek akuntabilitas pendanaannya. Sekali lagi, program “merdeka belajar” harus menjadi vitamin yang positif bukan sebaliknya menjadi alat memasung kreatifitas atas nama sebuah Gerakan Pendidikan.

    Perlu diingat bahwa proses dalam kehidupan di sekolah itu adalah konsep nilai-nilai. Nilai religius, kegotongroyongan, keadilan dan musyawarah. Nuansa itu yang harus dibangun di sekolah sehingga berimbas kepada murid sebagai subyek Pendidikan.

    Pilar kedua adalah guru. Guru disebut juga agent of knowledge. Guru berkewajiban
    mentransformasikan nilai-nilai ilmu kepada muridnya sehingga dapat dipahami dengan baik serta dapat diterapkan dalam kehidupan murid. Guru mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk mendidik anak-anak mereka. Guru harus menjadikan “profesinya” sebagai panggilan jiwa.

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Guru harus hadir di sekolah sebagai “profesional” Tidak ada lagi guru yang menghadapi muridnya dengan bekal “pas-pasan” karena pilihan sebagai guru atas sebuah alasan terpaksa. Harus segera diubah dari mindset “mengajar dan mendidik” adalah pekerjaan, ke “mengajar dan mendidik” adalah panggilan jiwa. Bahagialah dan hormati profesi guru yang telah melekat pada seorang guru.

    Pilar ketiga adalah manajemen sekolah. Manajemen sekolah berkewajiban mengendalikan semua potensi di sekolah untuk pencapaian visi dan misi sekolahnya. Manajemen Sekolah harus memiliki kesadaran bahwa pengelolaan yang dilakukan terdiri dari “subyek hidup” dan “subyek tak hidup”. Subyek hidup adalah para guru, murid dan orang tua murid yang harus dikelola dalam sebuah orchestra Pendidikan
    sekolah menuju harmoni Pendidikan yang maju dan berkualitas.

    Mengelola subyek hidup harus dengan think globally act locally. Lakukan dengan baik konsep learning to : know, do, be, life together. Berpikir terbuka, smart, menerima perbedaan dan solutif adalah ciri manajemen sekolah zaman now.

    Pilar keempat yang tidak kalah pentingnya adalah kehadiran komite sekolah yang berkomitmen. Profile komite yang mampu mengakselerasikan fungsi pendamping dalam planning, organizing, actuating dan controlling. Kehadiran komite sekolah bukanlah “stemple atas kebijakan kepala sekolah”.

    Komite Sekolah adalah menjalankan fungsi supervisi, pelaporan, evaluasi dan monitoring atas program kegiatan sekolah. Komite Sekolah sebagai wakil orang tua dan masyarakat pendidikan harus diapresiasi kehadirannya secara utuh. Komite Sekolah adalah kawan seperjalanan bagi Guru, Manajemen Sekolah dan Pemerintah.

    *) Penulis adalah Akademisi Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang dan Trainer

    Sumber : WarrtaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan