Jumat, 24 Mei 2024
29 C
Surabaya
More
    OpiniMerajut Nilai Luhur Pancasila di Era Global

    Merajut Nilai Luhur Pancasila di Era Global

    Oleh Dr. Muchamad Taufiq, S.H.,M.H.,CLMA

    Bangsa yang besar haruslah mampu mengambil hikmah disetiap titik sejarahnya. Suatu bangsa akan kehilangan jatidirinya jika melupakan sejarah bangsanya. Masa sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai telah mengantarkan empat tokoh kemerdekaan untuk memberikan gagasannya dalam berbangsa dan bernegara yang dicita-citakan.

    Sidang BPUPKI pada 28 Mei-1 Juni 1945 menjadi saksi sejarah dari 68 orang anggota BPUPKI terdapat empat orang anggota yang mendapat kesempatan berpidato kurang lebih selama satu jam yaitu Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. Muhammad Yamin dan Prof. Mr. Dr. Soepomo.

    Sejarah mencatat pula bahwa Bung Karno adalah tokoh yang pertama memperkenalkan nama Pancasila dalam pidatonya yang sangat terkenal itu. Akhirnya Hari Lahir Pancasila diperingati setiap 1 Juni melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

    Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) telah merilis tema dan logo dalam memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Kamis, 1 Juni 2023. Tema Hari Lahir Pancasila 2023 adalah “Gotong Royong Membangun Peradaban dan Pertumbuhan Global”. Pesan yang ingin disampaikan oleh BPIP adalah Hari Lahir Pancasila hendaknya menjadi momentum untuk bergotong-royong membangun peradaban dan pertumbuhan global.

    Baca juga :  Pers Terancam!

    Pancasila menjadi energi bagi Bangsa Indonesia sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi untuk kemakmuran rakyat Indonesia dan Dunia.

    Apakah peringatan itu substansi mengenang dan merawat Pancasila? Stigma demikian yang harus selalu digali agar peringatan Hari Lahir Pancasila dapat mencapai arah tujuannya. Jika pemahaman terhadap sejarah menjadi dangkal karena casingnya saja yang ditangkap oleh masyarakat dan generasi muda khususnya, entah seperti apa dimasa mendatang pemahaman generasi muda kita terhadap sejarah bangsanya. Pada hal Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa (John Dalberg-Acton).

    Pancasila sudah final menjadi idelogi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ideologi ini harus mampu menjadi ‘roh” dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Pancasila harus mampu menjadi panduan ”cara berpikir dan bertindak” segenap elemen bangsa. Sehingga menjaga Pancasila dengan itikad yang baik sangatlah penting. Perlu disadari bahwa siklus ideology berada pada 3 segmen yaitu : 1)kemunculan (emergence), 2)Kemunduran (decline), dan 3)Kebangkitan kembali suatu ideologi (resurgence of ideologies).
    Nilai-nilai luhur Pancasila merupakan magnet luar biasa sehingga mampu mengantar pada Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.

    Maka memperingati Hari Lahir Pancasila haruslah dimaknai menjaga dan merawat nilai-nilai Ideologi Pancasila sehingga tidak hilang keindonesiaan kita sebagai bangsa yang besar dan berdaulat. Substansinya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus terwujud manjadi karakter bangsa yang unggul dan berkualitas guna terwujudnya pencapaian cita-cita nasional.

    Baca juga :  Refleksi Harkitnas 2024 Kebangkitan Berbudi Luhur

    Pancasila merupakan landasan idiil dalam mewujudkan ketahanan nasional karena mengandung nilai kebersamaan, kekeluargaan, harmoni, kedaulatan rakyat (demokrasi), bulat dan utuh.

    Ketahanan nasional adalah kondisi dinamis suatu bangsa, meliputi seluruh aspek kehidupan nasional yang terintegrasi, berisi keuletan, dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan, serta gangguan dari luar maupun dari dalam, langsung maupun tidak langsung membahayakan integrasi, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mengejar tujuan nasionalnya.

    Menjaga Pancasila artinya merawat nilai-nilai luhurnya. Pancasila sebagai ideologi akan kokoh jika mengandung 3 dimensi yaitu : realitas, idealisme dan fleksibilitas. Dimensi realitas maksudnya bahwa ideologi mengandung nilai-nilai hidup yang terkandung di dalam bangsa. Dimensi idealisme adalah ideologi memberikan harapan kepada pelbagai golongan yang ada di dalam bangsa untuk menuju kehidupan yang lebih cerah.

    Sementara dimensi fleksibilitas dimaksudkan ideologi memiliki kemampuan untuk mewarnai proses pengembangan mesayarakat dan menemukan pengertian-pengertian baru terhadap nilai-nilai dasar Menerjemahkan 3 dimensi tersebut dalam kehidupan sehari-hari haruslah menjadi semangat segenap elemen bangsa.

    Peringatan Hari Lahir Pancasila harus mewarnai kehidupan sehari-hari. Tercermin dalam perilaku yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan YME dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai golongan agama kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan. Mengutamakan perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, diarahkan pada perilaku yang mendukung upaya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Baca juga :  Nasehat Kematian dari Musibah Presiden Ebrahim Raisi

    Hari Lahir Pancasila merupakan momentum untuk memelihara 4 (empat) warisan nilai kebangsaan yang bisa kita ambil dari zaman sejarah dan pra sejarah, yaitu (1)nilai religius/keagamaan, (2)nilai gotong royong, (3)nilai musyawarah dan (4)nilai keadilan. (Noor dan Mansyur dalam penelitiannya Menelusuri Jejak-Jejak Masa Lalu Indonesia). Nilai-nilai tersebut hendaknya mampu mencerahkan semua komponen bangsa dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Penyelenggaraan pemilu yang berkualitas, berjuang memberantas korupsi dan menegakkan keadilan dengan penuh tanggung jawab adalah contoh wujud nyata memaknai Hari Lahir Pancasila dengan benar. Tujuan bernegara ini hanya akan terwujud melalui tangan-tangan para penyelenggara negara yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dengan baik dan benar. Konsep kepemimpinan nasional yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara sangat relevan untuk diteladani dimasa sekarang yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. (*)

    *) Penulis adalah Dosen ITB Widya Gama Lumajang dan
    Pengurus APHTN-HAN Provinsi Jawa Timur.

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan