Untuk menerapkan inovasi di pemerintahanya, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bersama dirinya menerapkan Cettar dalam lingkup Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Cettar itu cepat, efektif, efisien, tanggap, transparan, akuntabel, dan responsif.
“Akan sangat bagus ketika melaksanakan sebuah kepemimpinan atau leadership ada satu warna yang dibangun. Maka di Jatim ada istilah Cettar. Setiap hal yang dilakukan oleh insan yang ada di Jatim harus Cettar. Kita juga mendorong setiap OPD harus Cettar,” jelasnya.
Dikatakan, Jatim memiliki prestasi yang luar biasa, tetapi pada saat disurvei di masyarakat tetap mengharapkan kehadiran provinsi lebih lagi.
Apalagi di era media sosial yang luar biasa, kalau mau menjadi pejabat publik seperti bupati, walikota, gubernur, dan bahkan jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) harus bisa hadir di tengah-tengah masyarakat.
Maka Cettar inilah yang bisa digunakan masyarakat untuk menilai Pemprov Jatim. Bahkan pihaknya juga membuat audit Cettar untuk menilai seberapa Cettar OPD di lingkungan Pemprov Jatim.
Dalam paparannya, Emil Dardak menjelaskan, saat ini tidak pada era transfer of knowledge saja, tetapi lebih pada kolaborasi dalam menerapkan inovasi. Bukan mengenal pusat inovasi lagi, tetapi lebih mengenal jejaring inovasi atau innovation network.
“Jatim tidak hebat kalau berpikir sendiri. Jatim bisa semakin hebat karena hebatnya berpikir bersama-sama seperti dengan Sulawesi Selatan,” kata mantan Bupati Trenggalek ini. (min)





