Satu Langkah = Ibadah Satu Tahun

Ramadhan hari ke 12

Satu Langkah = Ibadah Satu Tahun
Djoko Tetuko Abdul Latief

Ilmu layaknya lampu yang menerangi ruangan, ilmu melenyapkan kebodohan dan membimbing langkah manusia agar tidak tersesat.

Bahkan Imam Syafi’i menekankan bahwa ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya tersebut tidak akan masuk ke hati yang kotor atau pelaku kemaksiatan.

Sehingga kehidupan dengan ilmu agama, khususnya, dianggap sebagai sumber kehidupan (hayatun) dan cahaya (nur) yang membawa pada ketaatan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Apalagi berbagai potret kehidupan dunia saat ini, sudah menjungkirbalikkan prediksi. Ketika sejak 10 Ramadhan 1447 Hijriyah tahun 2026, terjadi “Perang Dahsyat Iran vs Israel – Amerika Serikat”. Dengan membaca kembali sejarah masa lalu di Kitab Suci Al Qur’an, maka keimanan dan ketakwaan insyaAllah akan terjaga, dan selalu dekat dengan Sang Kahliq, dengan dzikir, syukur, sholat juga sabar.

Ketika dunia pers Indonesia dan belahan dunia lain, “Tidak Hidup Juga Tidak Mati”, insyaAllah dengan membuka majelis ilmu dengan sungguh-sungguh, akan menemukan jalan keluar untuk bersama-sama gotong royong, mengatasi. Bukan saling menyalahkan, apalagi mencari “kambing hitam”.

Bahkan, sesama anak bangsa ketika sengaja diadu domba, hanya untuk kepentingan segelintir orang atau tokoh, hanya untuk menyelamatkan gengsi pribadi. Untuk menjaga marwah pemimpin kelompok kecil maupun kelompok besar. Maka dengan membuka majelis ilmu, InsyaAllah akan terbuka jalan menuju persatuan untuk perbaikan.

Hari-hari ini ketika musibah masih terus silih berganti, berpindah pindah tempat, dan belum semua terselesaikan. Maka majelis ilmu, dzikir, bersyukur, sholat dan sabar, akan menyelesaikan berbagai ujian itu.

Bahkan, ketika sesama anak bangsa, masih saling mencari kesalahan untuk menjatuhkan, mendapatkan isu-isu negatif. Maka majelis ilmu akan memberi penyegaran sekaligus tambahan ilmu pengetahuan untuk merenung dan menyadarkan bahwa, kritik konstruktif adalah rahmat, sekaligus menyelesaikan dengan bersama-sama secara musyawarah. Bersatu padu dalam berbagwi isu jauh lebih jitu dan bermutu.

Mari sisa bulan suci Ramadhan, kita manfaatkan untuk membuka majelis ilmu dengan harapan mendapat kemudahan penyelesaian berbagai persoalan berbangsa, bernegara, beragama dengan sungguh-sungguh.

Di Pondok Pesantren sudah menjadi tradisi menambah majelis ilmu secara khusus. Di sejumlah kantor sudah menggelar majelis ilmu, tetapi masih belum banyak umat Islam sebagai penyanggah anak bangsa terpanggil.

Sekedar mengingatkan bahwa tulisan sederhana ini, hanya mengingatkan yang lupa keistimewaan mencari ilmu, terutama ilmu agama. Mari berlomba-berlomba menuju majelis ilmu. Sehingga tidak hanya istighfar dan dzikir yang berlomba-lomba. Mencari ilmu dengan melangkahkan kaki menuju majelis ilmu sangat penting dan bermanfaat, sebagai bagian cara mengubah peradaban lebih kuat dan hebat. InsyaAllah. (*)