Ramadhan : Bulan Pembelajaran Diri

Ramadhan hari ke 8

Ramadhan : Bulan Pembelajaran Diri

Oleh Farhad Muhammad, M.Pd. (Dosen Fakultas Agama Islam UNDAR)

Ramadhan kata banyak penceramah merupakan bulan pendidikan, dengan syariat puasa didalamnya kita diharapkan dapat lulus atau naik derajat baik secara moril, sosial, hingga spiritual. Namun masih banyak dari kita yang belum mengetahui bagaimana cara dan upaya yang mesti dilakukan untuk lulus atau menjadi pribadi yang Next Level itu.

Mari sejenak kita merefleksi diri ini dengan mengambil Pelajaran dari hadis qudsi yang diriwayatkan oleh sabahat Abu Hurairah RA:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه)رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hurairah RA., Rasulullah SAW., bersabda: “Allah ‘Azzawajalla berfirman -dalam hadits qudsi: “Semua amal perbuatan anak Adam-yakni manusia- itu adalah untuknya, melainkan berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya. Puasa adalah sebagai perisai -dari kemaksiatan serta dari neraka. Maka dari itu, apabila pada hari seseorang diantara engkau semua itu berpuasa, janganlah ia bercakap-cakap yang kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki-maki oleh seorang atau dilawan dengan bermusuhan, maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya saya adalah -sedang- berpuasa.” Dan atas nama dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya, dan sungguh bau mulut seorang yang berpuasa lebih baik bagi Allah dari wangi misik, dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan,  yaitu kebahagiaan Ketika berbuka puasa dan Ketika bertemu tuhannya ia berbahagia atas puasa yang telah ia lakukan.

Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa dan beberapa Pelajaran yang bisa kita ambil darinya;

Pertama. Allah menegaskan bahwa pahala atas amal merupakan hak kita atas perbuatan yang telah kita lakukan, namun tidak dengan puasa. Ia merupakan amal  ibadah hamba tapi hak miliknya dipegang sendiri oleh Allah SWT, sehingga menjadi ketentuan Allah sendiri dalam urusan pemberian pahalanya.

Kedua, bahwa puasa disebut sebagai “tameng” yang dengannya Allah hendak mendidik kita untuk menahan diri, mulai dari perasaan, ucapan, hingga perbuatan kita kepada orang lain, agar kita tidak berbuat kecuali itu membawa manfaat, bahkan dicontohkan agar kita menyatakan diri bahwa “saya sedang berpuasa” untuk menghindari diri dari perilaku beruk orang lain.

Ketiga, bahwa orang yang berpuasa memiliki derajatnya yang tinggi disisi Allah SWT. jika saja bau mulut orang yang berpuasa saja dinyatakan lebih baik dari minyak misik disisi Allah, bagaimana dengan derajat orang yang sedang berpuasa?

Oleh karenanya di akhir hadis Allah menegaskan bahwa akan ada dua kebahagian bagi orang-orang yang berpuasa;

Pertama, kebahagiaan kita tatkala berbuka puasa. Kebahagian dan kenikmatan begitu terasa oleh kita tatkala terdengar suara azan maghrib tanda berakhirnya puasa hari itu, apalagi kita menikmati hidangan pembuka puasa diiringi dengan kebersamaan keluarga yang hangat dan menenteramkan jiwa. Sungguh itu merupakan momen yang sangat kita patut bersyukur kepada Allah,

Kedua, Kebahagiaan kita adalah ketika kelak dapat bertemu dengan Allah SWT. Secara harfiah, memang kita akan berjumpa dengan Allah di surga. Bahkan telah disediakan pintu Ar-Rayyan sebagai pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa. Namun, lebih dari itu, kebahagiaan sejati adalah ketika Allah menganugerahkan kepada kita taufik dan hidayah-Nya sehingga kita mampu melaksanakan puasa dan berbagai ibadah sunnah lainnya. Dengan taufik itulah kita dapat mengumpulkan pahala dari amal-amal yang kita lakukan, yang insyaAllah akan mengantarkan kita menghadap ke hadirat Allah SWT dan meraih surga-Nya.

Akhir kata, mari kita kuatkan lagi tekad kita, dengan bekal hadis diatas semoga kita bisa lebih memaknai puasa Ramadhan yang kita lakukan dan semoga kita bisa lulus dan menjadi pribadi yang lebih baik dengan sarana ibadah puasa yang telah kita lakukan, dan semoga Allah SWT memberikan taufik dan hidayahnya sehingga kita termasuk golongan yang menang, yaitu orang yang diampuni dosanya, dilipatgandakan balasan amalnya dan dijaminkan surga di akhiratnya. Allahumma Aamiin (*)