Rabu, 19 Juni 2024
26 C
Surabaya
More
    OpiniNegara Bakdo Mulud

    Negara Bakdo Mulud

    KH Masrihan Asy’ari, ulama kondang dari Mojokerto ketika memberikan ceramah pada Gebyar Maulid bersama Force (Forum Remaja Celep), Jumat (13/10) menyampaikan bahwa ada hadits menyatakan bahwa pada jaman akhir, di belahan wilayah sebelah timur Makkah, umat Islamnya begitu mencintai Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wassalam, kecintaan terhadap Rasululloh itu sudah menjadi tradisi atau kebiasaan.

    Salah seorang Habib, Senin dini hari. (16/10) pada acara pembacaan Rotibul Alawiyah dan Maulid Haqqul Yaqin menceritakan bahwa peringatan Maulid atau maulud (mulud, Jawa) diperingati dengan keyakinan membangkitkan semangat umat Islam ketika perang Salib, pada saat Sultan Salahuddin Alayubi mengajak pasukannya yang sudah tidak berdaya dan kehilangan semangat. Setelah membaca sholawat pada saat berdiri, tiba-tiba semangat seluruh pasukan bangkit dan seperti segar bugar kembali, sehat dan kuat juga menjadi terhormat. Sehingga mampu menembus benteng pertahanan lawan setelah beberapa kali gagal melakukan .

    Kecintaan mayoritas umat Islam di Indonesia, hampir di seluruh negeri setiap hari selalu membaca sholawat baik dalam kegiatan rutin sebelum sholat (pujian, membaca sholawat, syair, kalimat-kalimat mengandung makna ibadah), serta mentradisikan membaca sholawat diba’, sholawat burdah, juga berbagai sholawat dengan sentuhan sangat menghentakkan hati. Sehingga mencapai derajat kecintaan sejati dengan wujud begitu menikmati dan memberi arti dalam kehidupan sehari-hari.

    Sholawat bukan hanya dibaca, ditradisikan secara rutin, diucapkan dalam berbagai aktifitas, tetapi sudah menjadi kebutuhan dengan keyakinan akan mampu memberikan ketenangan sekaligus memberikan jalan kedamaian di dunia maupun di akhirat kelak. Sehingga pembacaan sholawat pada acara maulid maupun sholawat lain sudah merasuk dalam tulang sumsum kehidupan sehari hari.

    Baca juga :  Pilkada Magetan 2024: Menunggu Konstelasi Politik Terbaru

    Sebagaimana makna cinta, menurut
    Imam Ghazali, Sang Hujatul Islam dalam karya fenomenal, Ihya Ulumiddin, mengungkapkan cinta merupakan kecenderungan tabiat kepada sesuatu, disebabkan sesuatu itu mempunyai nikmat. Setiap kali kenikmatan sesuatu bertambah, maka semakin besar pula cinta kepada sesuatu itu.

    Rasa cinta terhadap sesuatu, dalam pandangan Imam Ghazali biasanya diperoleh berdasarkan kenikmatan yang dirasakan oleh panca indera (misalnya penglihatan dan pendengaran). Oleh Karena itu, di balik sesuatu yang ditangkap oleh panca indera, maka terdapat sesuatu yang dicintai dan dinikmati.

    Namun, hakikat cinta yang sejati, dalam kontrmplasi Imam Ghazali adalah kenikmatan cinta yang berasal dari penglihatan non fisik (batin), yakni kenikmatan hati. Kenikmatan hati yang disebabkan telah mengetahui perkara-perkara ilahiah yang mulia dan tidak dapat ditangkap oleh panca indera merupakan sesuatu yang lebih mulia, lebih sempurna, dan lebih besar kenikmatannya.

    Kenikmatan itu dalam pembacaan sholawat mampu menembus batas karena kecintaan dan kenikmatan. Sehingga meskipun siapa saja tidak sezaman, dan tidak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad, para sahabatnya, para pemimpin mazhab fikih, atau kalangan salafus shaleh, bukan berarti tidak bisa mendapatkan kenikmatan untuk mencintainya. Justru, meskipun mereka tidak bisa ditangkap dengan panca indera, kenikmatan untuk mencintainya akan tetap diperoleh, yakni melalui kebaikan-kebaikan, sifat-sifat, serta ajaran-ajarannya.

    Baca juga :  Meraih Nilai Hikmah Idul Adha dalam Bingkai NKRI

    Di Negara Kesatuan Republik Indonesia, mayoritas umat Islam begitu mencintai Baginda Rasulullah SAW, maka berbagai aktifitas sholawat atas Nabi Besar Muhammad, terutama pada bulan kelahiran dimeriahkan begitu gegap gempita, dari pelosok kampung sampai acara resmi kenegaraan dirayakan sebagai peringatan hari besar nasional.

    Bahkan tidak berlebihan menyebut Indoensia sebagai “Negara Bakda Mulud”, karena guna memperingati hari kelahiran tetap dalam nuansa maulid (hari kelahiran), maka bulan setelah itu disebut sebagai bulan “Bakda Mulud”.

    Seperti diketahui,
    sama seperti kalender pada umumnya, Kalender Jawa juga memiliki bulan atau dikenal dengan sebutan sasi atau bulan. Nama-nama bulan dalam kalender Jawa yang diserap dari bahasa Arab, mengalami perubahan dan disesuaikan dengan pengucapan dan bahasa orang Jawa, yaitu menjadi :

    Bulan 1 : Suro
    Bulan 2 : Sapar
    Bulan 3 : Mulud
    Bulan 4 : Bakdo Mulud
    Bulan 5 : Jumadil Awal
    Bulan 6 : Jumadil Akhir
    Bulan 7 : Rejeb
    Bulan 8 : Ruwah (Arwah, Sabun)
    Bulan 9 : Poso (Puwasa, Siyam, Ramelan)
    Bulan 10 : Sawal
    Bulan 11 : Selo, dan
    Bulan 12 : Besar.

    Pemberian nama bulan Bakdo Mulud, menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sebagai nakhoda Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah begitu mencintai Rasulullah di atas cintanya terhadap keluarga dan lainnya. Dan majelis sholawat menjadi sebuah konser besar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara begitu agung dengan semata mata karena Alloh Subahanahu wa Ta’ala.

    Baca juga :  Meraih Nilai Hikmah Idul Adha dalam Bingkai NKRI

    Sebagaimana termaktub dalam ayat kursi; Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.

    Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”

    “… Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya”. Adalah sesuatu yang mutlak bahwa kecintaan kepada Kanjeng Nabi adalah mengharapkan rahmat dari Allah SWT, karena petunjukNya untuk membaca sholawat kepada Nabi Muhammad.

    Kecintaan masyarakat Jawa atau mayoritas umat Islam kepada Nabi Muhammad, karena sabda Nabi SAW, “Salahseorang di antaramu tidak beriman sehingga saya lebih dicintai olehnya daripada orangtuanya, anaknya, dan semua manusia.” (HR Bukhari).

    Hal sebagaimana firmanNya,
    “Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (Surat An-Nisa, ayat 80)..(*)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2023 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan