Sabtu, 28 Mei 2022
25 C
Surabaya
More
    WawancaraPeneliti Senior SSC Surokim: Butuh Peta Jalan Baru Dekati  Pemilih Kultural NU

    Peneliti Senior SSC Surokim: Butuh Peta Jalan Baru Dekati  Pemilih Kultural NU

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto selama dua hari silaturahmi Kyai Miftachul Akhyar, Ketua MUI yang juga Rais’Aam PBNU Sabtu tanggal 19 Februari. Lalu pada hari Minggu, 20 Februari Airlangga sowan Gus Ali (KH. Agoes Ali Masyhuri). Pada hari yang sama Ketua Umum Partai Demokrat AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) juga melakukan kunjungan ke Kyai Miftah di Ponpes Miftahussunnah Jalan Kedungtarukan,Kec. Tambaksari, Surabaya.

    Pasca Muktarmar PBNU di Lampung peluang partai politik mendekat ke Kyai NU makin terbuka lebar menyusul sikap politik PBNU yang tetap berada di tengah tengah masyarakat untuk mengurus umat dan menghindari politik praktis.

    KoranTransparansi & WartaTransparansi.com sempat berbincang santai dengan Dekan FISIB Universitas Trunojoyo Madura UTM yang juga peneliti senior pada Surabaya Survey Centre (SSC) DR. Surokim Abdussalam mengenai fenomena politik Pasca Muktamr PBNU di Lampung. Berikut petikan wawancaranya:

    Transparansi : Ada perubahan politik PBNU bahwa pada era kepengurusan Kyai Yahya Cholil Staquf dan Rais’Aam Kyai Miftachul Akhyar, lebih mengutamakan mengurus ummat dan menghindari politik praktis. Apa komentar Anda ?

    Jawab:

    Jawa Timur tetap menjadi kunci dalam geopolitik nasional. Dan bicara tentang kekuatan politik Jatim memang tidak bisa lepas dari kekuatan kultural khususnya relasi dan power kuasa para kiai. Apalagi pemilih Jatim sebagian besar tinggal dan berada di wilayah rural area yang masih banyak anut grubyuk terhadap para patron tokohnya.

    Silaturahim ke tokoh termasuk Kyai tentu jalan strategis untuk mendapat insentif elektabilitas dan juga elektoral di Jatim. Dan menempuh politik jalan kultural adalah alternatif dan juga solusi ketika jalan struktural melalui PBNU yang menjaga jarak dan memberi batasan tegas. Saya pikir upaya membersamai warga nahdliyin salah satu jalan cepat (tol), ya melalui silaturahim dengan para kiai.

    Transparansi: Kalau begitu kunjungan tokoh politik itu sudah tepat ?

    Jawab:

    Para ketum partai seiring dengan policy PBNU yang menjaga jarak dengan parpol dan berusaha berdiri diatas semua parpol tentu menjadi kabar baik untuk partai partai nasionalis karena mendapat angin segar untuk bis mendapat insentif elektoral dan bIsa intens membangun komunikasi politik melalui silaturahim. Saya pikir itu perlu intensitas dan juga keberlanjutan karena tokoh lain juga akan melakukan hal serupa untuk mendapat momentum politik.

    Transparansi : Artinya kedekatan parpol dengan Kyai menjadi kunci dalam menggaet simpati nahdliyin dalam Pemilu 2024 ?

    Jawab: Larangan parpol mendekat ke struktur NU akan membuat jalan politik kultural kian ramai dan membuat peta politik jalan baru guna menemukan momentum baru mendekati pemilih nahdliyin.

    Saya memprediksi akan muncul tipologi tipologi kiai meramaikan pilpres 2024. Jika 2019 muncul tipologi kiai kampung meramaikan kontestasi maka 2024 juga akan juga muncul tipologi kiai kuktural yang lain sebagai alternatif peta jalan politik praktis para kiai

    Transparansi: Problem Kyai akan makin dinamis. Betulkah begitu ?

    Jawab: Tentu akan kian kompleks dan semakin dinamis melihat peran kiai di 2024 dan jelas butuh peta jalan baru untuk mendekati pemilih kultural NU. Tentu akan banyak jalan merebut simpati para kiai, akan banyak pula cara mendekati para kiai.

    Parpol akan berebut itu langsung ke basis basis kultural di grassroot dan hal itu jelas butuh energi besar dan juga ketahanan membersamai secara berkalnjutan tidak biss sporadis apalagi sesaat. Pembatasan untuk tidak mendekati struktur PBNU membuat politik arus bawah akan bergeliat. (min)

    Reporter : Amin Istighfarin
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan