Kediri  

Bangun Sekolah Ramah Anak, KKNT 33 UNP Kediri Sosialisasi Anti-Bullying di SDN Ngronggo 1

Bangun Sekolah Ramah Anak, KKNT 33 UNP Kediri Sosialisasi Anti-Bullying di SDN Ngronggo 1
Mahasiswa KKNT 33 UNP Kediri berfoto bersama siswa kelas 4 dan 5 SDN Ngronggo 1 seusai menggelar edukasi pencegahan bullying di Kota Kediri, Senin 2 Februari 2026. (Foto: Istimewa).

KEDIRI, WartaTransparansi.com – Mahasiswa Kelompok KKNT 33 Ngronggo Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri menggelar sosialisasi pencegahan perundungan (bullying) di SDN Ngronggo 1, Kota Kediri pada Senin 2 Februari 2026 lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sekolah ramah anak sekaligus menekan potensi kekerasan di lingkungan pendidikan dasar.

Ketua KKNT 33 Ngronggo, M. Ferdy Okta, menegaskan program tersebut menyasar siswa kelas 4 dan 5 karena berada pada fase perkembangan sosial yang aktif.

“Kami memilih kelas 4 dan 5 karena pada usia tersebut anak-anak mulai aktif bersosialisasi dan membentuk kelompok pertemanan. Edukasi ini penting agar mereka memahami bahwa perundungan, sekecil apa pun bentuknya, dapat berdampak serius terhadap kondisi psikologis teman mereka,” ujarnya dalam rilis tertulis, Selasa 17 Februari 2026.

Ia menambahkan, kegiatan itu merupakan bentuk komitmen mahasiswa UNP Kediri dalam mendukung terwujudnya sekolah ramah anak di wilayah Kelurahan Ngronggo.

Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa memaparkan bentuk-bentuk bullying, mulai kekerasan fisik, verbal, hingga perundungan siber. Penyampaian materi dilakukan secara komunikatif dan interaktif agar siswa lebih mudah memahami serta berani menyampaikan pendapat.

Penanggung jawab program, Monica Lediana, menjelaskan pendekatan edukasi disesuaikan dengan karakter anak usia sekolah dasar.

“Kami menggunakan pendekatan komunikatif dan interaktif agar siswa tidak hanya memahami definisi bullying, tetapi juga mampu menumbuhkan empati dan keberanian untuk melapor jika melihat atau mengalami perundungan,” jelasnya.

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), kasus kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan masih menjadi perhatian nasional, termasuk bentuk perundungan verbal dan siber yang meningkat seiring penggunaan gawai pada anak usia sekolah. Data Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) juga menunjukkan praktik bullying masih ditemukan di satuan pendidikan dasar dan menengah setiap tahunnya.

Kepala Kelurahan Ngronggo, Achmad Koharudin, S.STP., M.A.EI., mengapresiasi langkah preventif tersebut.

“Program tersebut sangat baik. Edukasi merupakan langkah pencegahan yang lebih efektif daripada penanganan setelah kejadian. Memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya dan dampak bullying sangat penting agar tidak terjadi perundungan di kemudian hari,” ungkapnya.

Sementara itu, guru SDN Ngronggo 1, Kristina Primalayanova, S.Pd., menyampaikan pihak sekolah mendukung penuh kegiatan mahasiswa. Ia mengakui tren perundungan kini semakin beragam dan mulai merambah ke ranah digital meski pelakunya masih di usia sekolah dasar.

“SDN Ngronggo 1 sangat mendukung program mahasiswa KKN dalam mengedukasi siswa terkait bullying. Ini sangat penting bagi perkembangan siswa ke depannya,” ujarnya.

Pihak sekolah berkomitmen melanjutkan penguatan nilai saling menghargai dan pengawasan penggunaan gawai di lingkungan belajar guna menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh siswa.(*)

Penulis: Moch Abi Madyan