Minggu, 7 Maret 2021
More
    Opini Ketika Media Dituntut Ramah Penyandang Disabilitas

    Ketika Media Dituntut Ramah Penyandang Disabilitas

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Focus Group Discassion (FGD) keempat Dewan Pers tentang Pedoman Pemberitaan Ramah Penyandang Disabilitas (PPRPD), Senin (25/1/2021) telah sepakat membentuk tim perumus. Tetapi masih belum mampu memilih prioritas dalam keikutsertaan media secara lebih khusus.

    Dalam FGD virtual tersebut dengan agenda membahas draft PPRPD, dan memang masih tersusun sebatas kulit-kulitnya saja. Tetapi justru belum mewakili bahasa dan karakter wartawan dan media, yaitu “to The point”.
    Sehingga masih hampir sama dengan pedoman pemberitaan umum.

    Mengacu pada
    Undang-Undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, sebagaimana pada angka 1 draft PPRPD, maka fokus pembahasan pada
    setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik, dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif.

    Kemudian peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab perusahaan pers dan wartawan sebagai ujung tombak dalam memfasilitasi pemberitaan bagi penyandang disabilitas
    sesuai dengan nafas UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.

    Diketahui dalam ketentuan umum;
    (1) Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
    (2). Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi.
    (3). Kantor berita adalah perusahaan pers yang melayani media cetak, media elektronik, atau media lainnya serta masyarakat umum dalam memperoleh informasi.
    (4). Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.
    (5). Organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers.

    Dari ketentuan umum diatas bahwa dapat diambil satu kesimpulan bahwa bagimana menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi kepada para penyandang disabilitas.

    Pasal 3 UU Pers menegaskan bahwa;
    (1) Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
    (2)Di samping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.

    Pasal 4 UU Pers sebagai penguatan menyebarluaskan gagasan dan informasi kepada para penyandang disabilitas, sebagimana sudah jelas dan tegas;
    (1)Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.
    (2)Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran.
    (3)Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.
    (4)Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak.

    Pasal 5 UU Pers memberikan ruang dan waktu menghormati norma-norma agama, sebagai para penyandang disabilitas adalah peneguhan tentang keimanan bahwa semua ciptaan Allah SWT mendapat hak yang sama dalam memperoleh informasi, sebagaimana termaktub bahwa;
    (1)Pers nasional berkewajiban memberikan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.
    (2)Pers wajib melayani Hak Jawab.
    (3)Pers wajib melayani Hak Koreksi.

    Pasal 6 UU Pers memberikan garansi dalam melaksanakan peranan terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan, bahwa;
    Pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:
    a.memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui;
    b.menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan;
    c.mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar;
    d.melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum;
    c.memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

    Sementara itu, konsideran UU No 8/2016 menyatakan bahwa;
    (1). Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, termasuk para penyandang disabilitas yang mempunyai kedudukan hukum dan memiliki hak asasi manusia yang sama sebagai Warga Negara Indonesia dan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari warga negara dan masyarakat Indonesia merupakan amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, untuk hidup maju dan berkembang secara adil dan bermartabat;

    (2). sebagian besar penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kondisi rentan, terbelakang, dan/atau miskin disebabkan masih adanya pembatasan, hambatan, kesulitan, dan pengurangan atau penghilangan hak penyandang disabilitas;

    (3). untuk mewujudkan kesamaan hak dan kesempatan bagi penyandang disabilitas menuju kehidupan yang sejahtera, mandiri, dan tanpa diskriminasi diperlukan peraturan perundang- undangan yang dapat menjamin pelaksanaannya; bahwa Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, sudah tidak sesuai lagi dengan paradigma kebutuhan penyandang disabilitas sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru;

    Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:(1). Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga
    negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

    (2). Kesamaan Kesempatan adalah keadaan yang memberikan peluang dan/atau menyediakan akses kepada Penyandang Disabilitas untuk menyalurkan potensi dalam segala aspek penyelenggaraan negara dan masyarakat.

    (3). Diskriminasi adalah setiap pembedaan, pengecualian pembatasan, pelecehan, atau pengucilan atas dasar disabilitas yang bermaksud atau berdampak pada pembatasan atau peniadaan pengakuan, penikmatan, atau pelaksanaan hak Penyandang Disabilitas.

    (4). Penghormatan adalah sikap menghargai atau menerima keberadaan Penyandang Disabilitas dengan segala hak yang melekat tanpa berkurang.

    (5). Pelindungan adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk melindungi, mengayomi, dan memperkuat hak Penyandang Disabilitas.

    6. Pemenuhan adalah upaya yang dilakukan untuk memenuhi, melaksanakan, dan mewujudkan hak Penyandang Disabilitas.

    (7). Pemberdayaan adalah upaya untuk menguatkan keberadaan Penyandang Disabilitas dalam bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan potensi sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi individu atau kelompok Penyandang Disabilitas yang tangguh dan mandiri.

    (8). Aksesibilitas adalah kemudahan yang disediakan untuk Penyandang Disabilitas guna mewujudkan Kesamaan Kesempatan.

    (9). Akomodasi yang Layak adalah modifikasi dan penyesuaian yang tepat dan diperlukan untuk menjamin penikmatan atau pelaksanaan semua hak asasi manusia dan kebebasan fundamental untuk Penyandang Disabilitas berdasarkan kesetaraan.

    (10). Alat Bantu adalah benda yang berfungsi membantu kemandirian Penyandang Disabilitas dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

    (11). Alat Bantu Kesehatan adalah benda yang berfungsi mengoptimalkan fungsi anggota tubuh Penyandang Disabilitas berdasarkan rekomendasi dari tenaga medis.

    (12). Konsesi adalah segala bentuk potongan biaya yang diberikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau setiap orang kepada Penyandang Disabilitas berdasarkan kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

    (13). Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

    (14). Unit Layanan Disabilitas adalah bagian dari satu institusi atau lembaga yang berfungsi sebagai penyedia layanan dan fasilitas untuk Penyandang Disabilitas.

    (15). Pemberi Kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

    (16). Komisi Nasional Disabilitas yang selanjutnya disingkat KND adalah lembaga nonstruktural yang bersifat independen.

    (17). Setiap Orang adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.

    (18). Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

    (19). Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

    (20). Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial.

    Pasal 2 UU Penyandang Disabilitas menyebutkan;
    Pelaksanaan dan Pemenuhan hak Disabilitas berasaskan:
    a. Penghormatan terhadap martabat;
    b. otonomi individu;
    Penyandang
    c. tanpa Diskriminasi;
    d. partisipasi penuh;
    e. keragaman manusia dan kemanusiaan;
    f. Kesamaan Kesempatan;
    g. kesetaraan;
    h. Aksesibilitas;
    i. kapasitas yang terus berkembang dan identitas anak;
    j. inklusif; dan
    k. perlakuan khusus dan Pelindungan lebih.

    Pasal 3 UU Penyandang Disabilitas
    Penghormatan, pemajuan, Pelindungan, dan Pemenuhan hak sebagai martabat yang melekat pada diri Penyandang Disabilitas, bahwa;

    Pelaksanaan dan Pemenuhan hak Penyandang Disabilitas bertujuan:
    a. mewujudkan Penghormatan, pemajuan, Pelindungan,
    dan Pemenuhan hak asasi manusia serta kebebasan dasar Penyandang Disabilitas secara penuh dan setara;
    b. menjamin upaya Penghormatan, pemajuan, Pelindungan, dan Pemenuhan hak sebagai martabat yang melekat pada diri Penyandang Disabilitas;
    c. mewujudkan taraf kehidupan Penyandang Disabilitas yang lebih berkualitas, adil, sejahtera lahir dan batin, mandiri, serta bermartabat;
    d. melindungi Penyandang Disabilitas dari penelantaran dan eksploitasi, pelecehan dan segala tindakan diskriminatif, serta pelanggaran hak asasi manusia; dan
    e. memastikan pelaksanaan upaya Penghormatan, pemajuan, Pelindungan, dan Pemenuhan hak Penyandang Disabilitas untuk mengembangkan diri serta mendayagunakan seluruh kemampuan sesuai bakat dan minat yang dimilikinya untuk menikmati, berperan serta berkontribusi secara optimal, aman, leluasa, dan bermartabat dalam segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

    Pasal 4
    (1) Ragam Penyandang Disabilitas meliputi:
    a. Penyandang Disabilitas fisik;
    b. Penyandang Disabilitas intelektual;
    c. Penyandang Disabilitas mental; dan/atau
    d. Penyandang Disabilitas sensorik.
    (2) Ragam Penyandang Disabilitas sebagaimana
    dimaksud pada ayat (1) dapat dialami secara tunggal, ganda, atau multi dalam jangka waktu lama yang ditetapkan oleh tenaga medis sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Pasal 5 UU Penyandang Disabilitas berkaitan hak meraka terutama perempuan dan anak yaitu;
    (1) Penyandang Disabilitas memiliki hak:
    a. hidup;
    b. bebas dari stigma;
    c. privasi;
    d. keadilan dan perlindungan hukum;
    e. pendidikan;
    f. pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi;
    g. kesehatan;
    h. politik;
    i. keagamaan;
    j. keolahragaan;
    k. kebudayaan dan pariwisata;
    l. kesejahteraan sosial;
    m. Aksesibilitas;
    n. Pelayanan Publik;
    o. Pelindungan dari bencana;
    p. habilitasi dan rehabilitasi;
    q. Konsesi;
    r. pendataan;
    s. hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam
    masyarakat;
    t. berekspresi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi;
    u. berpindah tempat dan kewarganegaraan; dan
    v. bebas dari tindakan Diskriminasi, penelantaran,
    penyiksaan, dan eksploitasi.
    (2) Selain hak Penyandang Disabilitas sebagaimana
    dimaksud pada ayat (1), perempuan dengan disabilitas memiliki hak:
    a. atas kesehatan reproduksi;
    b. menerima atau menolak penggunaan alat kontrasepsi;
    c. mendapatkan Pelindungan lebih dari perlakuan
    Diskriminasi berlapis; dan
    d. untuk mendapatkan Pelindungan lebih dari
    tindak kekerasan, termasuk kekerasan dan
    eksploitasi seksual.
    (3) Selain hak Penyandang Disabilitas sebagaimana
    dimaksud pada ayat (1), anak penyandang disabilitas memiliki hak:
    a. mendapatkan Pelindungan khusus dari
    Diskriminasi, penelantaran, pelecehan, eksploitasi, serta kekerasan dan kejahatan seksual;
    b. mendapatkan perawatan dan pengasuhan keluarga atau keluarga pengganti untuk tumbuh kembang secara optimal;
    c. dilindungi kepentingannya dalam pengambilan keputusan;
    d. perlakuan anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak anak;
    e. Pemenuhan kebutuhan khusus;
    perlakuan yang sama dengan anak lain untuk mencapai integrasi sosial dan pengembangan individu; dan
    g. mendapatkan pendampingan sosial.

    Pasal 6 UU Penyandang Disabilitas hak hidup berkaitan dengan harkat dan martabat, bahwa;

    Hak hidup untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak:
    a. atas Penghormatan integritas;
    b. tidak dirampas nyawanya;
    c. mendapatkan perawatan dan pengasuhan yang
    menjamin kelangsungan hidupnya;
    d. bebas dari penelantaran, pemasungan, pengurungan,
    dan pengucilan;
    e. bebas dari ancaman dan berbagai bentuk eksploitasi;
    dan
    f. bebas dari penyiksaan, perlakuan dan penghukuman
    lain yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia.

    Pasal 7 UU Penyandang Disabilitas dalam hal Hak Bebas dari Stigma

    Hak bebas dari stigma untuk Penyandang Disabilitas meliputi hak bebas dari pelecehan, penghinaan, dan pelabelan negatif terkait kondisi disabilitasnya.

    Oleh karena itu, PPRPD paling tidak secara khusus memberikan kepastian hak-hak penyandang disabilitas memperoleh (minimal) menyebarluaskan gagasan dan informasi.

    Secara garis besar;
    Pertama, perusahaan pers, LPP, lembaga penyiaran lain memfasilitasi informasi pada jam khusus untuk
    tuna netra, tuna rungu wicara, tuna daksa. Sedangkan tuna grahita lebih khusus lagi.

    Kedua, Wartawan dalam memberitakan penyandang disabilitas
    tuna netra, tuna rungu wicara, tuna daksa, dan tuna grahita menjaga kesetaraan menyangkut penghormatan, pemajuan, Pelindungan,
    dan Pemenuhan hak asasi manusia serta kebebasan dasar secara penuh.

    Ketiga, Wartawan dalam memberitakan penyandang disabilitas
    menjamin penghormatan, pemajuan, Pelindungan, dan Pemenuhan hak sebagai harkat dan martabat.

    Keempat, Wartawan dalam memberitakan penyandang disabilitas
    menjamin bebas dari
    penelantaran dan eksploitasi, pelecehan dan segala tindakan diskriminatif, serta pelanggaran hak asasi manusia

    Kelima, Wartawan dalam memberitakan penyandang disabilitas
    menjamin konten dengan menjaga dan mengawal penghormatan, pemajuan, Pelindungan, dan Pemenuhan hak Penyandang Disabilitas untuk mengembangkan diri serta mendayagunakan seluruh kemampuan sesuai bakat dan minat yang dimilikinya untuk menikmati, berperan serta berkontribusi secara optimal, aman, leluasa, dan bermartabat dalam segala aspek kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

    Keenam, bersama pemerintah membangun akses kemudahan informasi bagi penyandang disabilitas.

    Ketujuh, memastikan bahwa sejak PPRPD disahkan dan diberlakukan akses informasi yang dapat diperoleh (disebutkan sesuai kemanfaatannya)

    Sedangkan sebagai penguatan PPRPD
    (1). organisasi kewartawan dan organisasi perusahaan pers, memberi kesempatan penyandang disabilitas
    belajar jurnalistik di lembaga pendidikan per.

    (2) organisasi kewartawan dan organisasi perusahaan pers, memberi kesempatan
    penyandang disabilitas
    yang punya kemauan dan kemampuan sebagai pekerja pada perusahaan pers, baik sebagai wartawan maupun karyawan pers. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Komentar

    guest
    0 Komentar
    Inline Feedbacks
    View all comments

    Terkini

    Jangan Lewatkan