Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono

WHO teriak kalap. Pandemi hoaks telah memperkeruh dan memperuwet pandemi Covid-19 di tingkat global. Bahaya pandemi hoaks ini tidak lebih ringan dari bahaya virus itu sendiri. “Semakin mempersulit penanganan pandemi virus itu,” kata pejabat WHO.

Pandemi hoaks itu seperti satu paket dengan virus Covid-19. Disimbolkan penggunaan masker selama pandemi. Masker itu dari kata mask yang berarti kedok. Topeng. Topeng itu bukan wajah asli. Menyembunyikan wajah aslinya. Bisa juga berarti bohong. Dusta. Maskerisasi global menjadi simbol jaman kebohongan. Jaman post truth.

Apa yang disampaikan WHO itu sealur dengan apa yang diperingatkan Al Quran lebih 1.400 tahun yang lalu. Tepatnya di Surah Al Hujurat ayat 6. Ditegaskan bahwa berita yang dibawa orang fasik (pendosa besar) itu harus diteliti. Jangan ditelan begitu saja layaknya menelan cendol dawet.

Sangat mungkin berita yang dibawa orang fasik itu hoaks, misinformasi, malinformasi bahkan disinformasi. Info palsu. Soalnya orang fasik itu tidak takut dosa sehingga enteng saja menyebar hoaks. Melakukan disinformasi itu sudah seperti nasi sayur saja. Nah, para buzzer itu boleh dibilang termasuk golongan fasik ini. Menyebar info bohong, memaki-maki, memanas-manasi, untuk meraup bayaran.

Orang yang tidak meneliti informasi dari pihak fasik termasuk orang bodoh. Apalagi langsung baper. Langsung share. Bahkan nge-share-nya ditambahi komen-komen meyakinkan. Kayak tahu-tahu saja. Akibatnya bisa mencelakakan suatu bangsa, komunitas, masyarakat.

Apa yang disampaikan Quran ini sudah ada bukti nyata. Operasi Arab Springs yang dilancarkan oleh Amerika dan Israel dengan menyebar hoaks, agitasi-propaganda, di media sosial khususnya, telah terbukti mampu menghancurkan beberapa negara Arab seperti Syuriah, Libia, Tunisia, Irak.

Dan Amerika kini mulai ngunduh wohing pakerti (memetik perbuatan sendiri). Operasi model Arab Springs kini justru berbalik melanda Amerika. Terjadi polarisasi tajam di antara penduduknya. Sentimen perpecahan semakin merebak.

“Amerika sedang dalam proses kehancuran oleh media sosial,” ujar seorang petinggi inteljen Rusia dalam film Red Sparrow.

Ranah publik virtual AS dipenuhi dengan virus yang bisa mematikan negara. “Rasisme, intoleransi, diskriminasi kini menggerogoti Amerika dari dalam,” kata seorang tokoh utama dalam film American History X.

Melihat fakta yang mengerikan kehidupan di Amerika, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam bukunya yang termasyhur, “How Democracies Die” sampai bertanya, “Apakah kita sedang hidup pada masa kemerosotan dan kehancuran suatu demokrasi tertua dan tersukses di dunia?”

INFODEMIK

Paus Fransiskus sangat prihatin dengan fake news (berita palsu) yang merebak di antara merebaknya virus Covid-19. Fake news seolah tidak bisa lepas dari Covid-19 seperti bau kecut pada keringat.

Substansi hoaks dan fake news itu sebenarnya sama. Sama-sama bohong. Sama-sama palsu. Hanya tempatnya saja yang umumnya berbeda. Hoaks itu biasanya di media sosial dan tutur getok tular, sedang fake news itu berada di media mainstream. Ibarat penyakit kulitlah. Jika di kepala namanya koreng kalau di sekitar bibir namanya patek.

Masih ditambah munculnya deepfake. Kebohongan jenis ini termasuk varian baru. Contohnya begini. Ada video Presiden AS Obama bicara. Tapi sebenarnya itu suara orang lain. Tapi dengan rekayasa canggih seolah itu benar-benar ucapan Obama. Vokal maupun gerak bibirnya sama dengan Obama. Nah, orang awam sulit mengetahui jika itu sebenarnya video palsu.

Baru-baru ini muncul varian kebohongan baru. Yaitu infodemik. Dosen senior Universitas Melbourne Australia Dr Greg Nyilasy bilang, pademi Covid-19 telah menciptakan fenomena batu yang dikenal dengan instilah infodemik. Misinformasi yang biasanya muncul dari hal-hal non-ilmiah, kini justru berkembang pesat di tengah pandemi yang berkaitan erat dengan ilmu pengetahuan.

Asbabul muncul (sebab muncul) “virus” infodemik itu kan begini. Covid-19 itu virus jenis baru. Para ahli, termasuk epidemiolog, ahli patologi, ahli mikrobiologi dan lain-lain aslinya belum begitu paham. Mereka dituntut harus berkomentar. Memberi penjelasan. Sungkan kalau disebut ahli tapi diam saja. Akhirnya memberi pernyataan, penjelasan yang sebenarnya belum memiliki kekuatan ilmiah.

Bukan hanya para ahli. Para pemimpin pun sungkan jika tidak memberi penjelasan. Apalagi pemimpin yang keranjingan ngetwit. Jika sejam tidak ngeteit jari-jarinya seperti jimpe (mengerut). Akhirnya yang penting ngomong biar tidak disebut kurang update. Infodemik ini menambah karut-marut pandemi Covid-19.

TANCAP GAS POL

Bola kebohongan ini terus menggelincir. Seperti bundaran tepung untuk onde-onde, semakin lama dan sering digulirkan semakin besar bundarannya. Kebohongan bukan hanya dalam konteks onformasi tetapi kian merebak multisektoral.

Kasus dugaan korupsi Bansos oleh Menteri Sosial (sudah mundur) Yuliari Batubara menunjukkan kebohongan dalam tindakan. Tidak bicara. Kesuwen. Langsung tancap gas pol mencaplok Rp 17 milyar.

Bisa jadi kobohongan jenis ini merupakan fenomena gunung api tertimbun salju. Sangat banyak yang belum terungkap. Mulai soal semprotan disinfektan, proyek kampung ini kampung itu, proyek operasi masker operasi entah apalagi, pengadaan APD sampai yang paling aktual soal vaksin. Kebohongan dengan banyak variannya ini fenomena global. Tidak cuma di Indonesia.

Sampai-sampai bos Takeda, perusahaan obat terbesar Jepang, meminta agar perusahan-poerusahan pengembang vaksin jujur. Tapi tuntutan jujur dan transparan itu tidak mudah. Karena vaksin itu juga mengandung misi bisnis sangat besar. Keuntungannya bisa berlipat-lipat ganda.

Di film Iron Fist diungkap, pada saat masa pandemi, masyarakat butuh obat. Maka produsen meroketkan harganya dari 5 dollar AS menjadi 50 dollar AS. Karena bisnis, maka produsen menggunakan promosi, iklan, infleuenzer, bahkan berkongkalikong dengan penguasa. Tapi igtu di film. Di alam nyata entahlah. Mungkin saja begitu pula. Ajuuur…

Walhasil, kebohongan benar-benar merata dan mencekeram kian lama kian kuat. Seperti terpal yang ditutupkan di kepala. Terpalnya ditambah terus, terus dan terus sehingga gelap sama sekali, sesak yang semakin sesak, ujung-ujungnya mati.

BABAK AKHIR

Proses kebohongan yang menyertai Covid-19 boleh dibilang ciri atau tanda ketiga semakin dekatnya Dajjal dimunculkan oleh Allah. Dimunculkannya Dajjal adalah babak akhir perjalanan Dajjal sekaligus pertanda menjelang kiamat.

Dajjal membangun kebohongan di dunia ini juga dengan pelan-pelan tapi pasti. Terdisain. Bertahap. Dikelola secara efektif. Misalnya, awalnya sebagai pejuang hak asasi manusia (HAM). Dunia terpana. Menganggap sebagai pemerintahan saleh. Padahal isu HAM itu hanya untuk menutupi topengnya sebagai penindas manusia. Irak dan Afghanistan dihancurkan. Iran diembargo sampai hampir 40 tahun. Venezuela dirusak. Despotisme dimaskeri dengan HAM.

Contoh lain membuat istilah bantuan keuangan. Padahal ada bunga berbunga dan jeratan-jeratan politik dan budaya. Tampil dengan masker (topeng) dermawan alias kesalehan social. Tapi sebenarnya rentenir, lintah darat. Setiap lintah darat, mulai dari pengijon, bank titil sampai rentenir kelas global itu patrap dan modusnya sama: menjilat, mengikat, menjerat, menyekarat.

Proses kebohongan Dajjal akan terus melaju karena inginnya kebenaran itu tertutup total. Dr Khalid Basalamah, ustad kondang mengatakan, Dajjal itu arti harfiahnya menutup. Jika dijabarkan menutup kebenaran dengan kebatilan. Menutup hati manusia dari nur Ilahiyah.

Puncak kebohongan dan kepalsuan Dajjal pada saat dia memproklamasikan dirinya sebagai tuhan. Kebohongan yang merambah ke ranah ilahiyah itulah kebohongan terbesar. Untuk itu Allah menyelipkan Dajjal di antara pembohong terbesar.

Siapa pembohong terbesar itu? Jawabnya ada di Quran Surah Kahfi 1-10. Yaitu, mereka yang membengkokkan (memalsukan) kitab Allah. (ayat 1). Kitab suci adalah hak Allah. Siapapun yang memalsukan seluruh atau sebagian kitab suci berarti telah menganggap dirinya sejajar dengan Allah. Nglamak kepada Allah.

Termasuk pembohong terbesar adalah mereka yang menyatakan Allah mengambil seorang anak. Mereka menyatakan itu tanpa ilmu. Demikian pula nenek moyang mereka. Tapi mereka telah menjadikan kebohongan itu sebagai keyakinan. (Ayat 5).

Kebohongan yang dibawa Dajjal hanyalah bagian kecil dari fitnah (ujian dan cobaan) untuk umat manusia. Ternyata Covid-19 pun juga merupakan fitnah yang sangat besar umat manusia. Mungkin juga yang terbesar. Fitnah Covid-19 sebagai pertanda semakin dekat dimunculkan Dajjal, akan kita bahas di episode berikutnya. Insya Allah episode terakhir. Kita rehat dulu. Ngopi. Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).(*)

Anwar Hudijono, kolumnis tinggal di Sidoarjo.