Opini  

Antara Covid-19 dan Dajjal (1)

Antara Covid-19 dan Dajjal (1)

Kalau melihat catatan sejarah AS, spekulasi bahwa virus ini bermula justru dari AS agak nyerempet akal. Akhir-akhir ini AS terseok-seok bersaing dengan China. Muncul spekulasi, virus Covid-19 ini merupakan “senjata biologi” untuk memaksa China bertekuk lutut tanpa syarat. Kalau sekarang justru AS yang paling parah terkena pademi Covid-19 boleh dibilang senjata makan tuan. Ngundhuh wohing pakerti.

Saat frustrasi melawan Jepang di Perang Dunia II, AS menggunakan senjata pemusnah massal yang namanya bom atom di dua kota Jepang yaitu Hiroshima dan Nagasaki.

Menuduh Presiden Irak Saddam Hussein memproduksi senjata pemusnah massal berupa senjata kima dan biologi. Nyatanya semua itu nihil belaka. AS yang sesungguhnya produsen senjata pemusnah massal. Hanya alasan untuk memperkuat posisi Presiden Bush dalam politik domestik. Dan alasan menyerang Irak untuk menguasai sumber energi minyak dan mencekeramkan despotisme politiknya di kawasan Timur Tengah.

Menuduh Al Qaeda Usama bin Laden sebagai dalang pemboman WTC. Sebagaimana ditulis dalam buku How Democracies Die, rakyat Amerika sendiri belakangan mulai curiga jangan-jangan dilakukan AS sendiri untuk kepentingan politik domestik rejim.

Kebiasaan AS itu membolak-balik kebenaran. Imam Khomeini, Bapak Revolusi Islam Iran, menjuluki AS sebaga setan besar.

(Saya mengungkap spekulasi ini dengan risiko bisa dituding antek China).

Masih banyak pertanyaan sekitar Covid-19 yang sampai sekarang belum terjawab secara sahih. Kalaulah dijawab, biasanya jawabannya bermacam-macam. Tidak jelas antara hasil penelitian, spekulasi, hipotesis, pra keyakinan, bahkan rumor dan hoax. Batasannya sangat kabur antara informasi, disinformasi, misinformasi dan malainformasi.

Yang pasti, apakah Covid-19 ini bersifat alamiah atau hasil rekayasa genetika, bisa terjadi atas ijin Allah. Semua yang terjadi di dunia ini pasti atas ijin Allah.

JAZAD

Walhasil awal sejarah virus ini misterius. Gelap. Proses berkembangnya juga misterius. Bagaimana akhirnya juga misterius. Sampai sekarang tidak ada yang memastikan kapan pandemi ini berakhir. Tidak ada yang menjamin seandainya vaksin sudah ditemukan, pandemi Covid-19 ini habis.

Apalagi sejauh ini produsen vaksin tidak ada yang berani menjamin produknya manjur 100 persen. Rata-rata memasang tingkat kemanjuran 95 persen. Yang menjadi pertanyaan, 5 persen itu faktual atau ruang untuk ngeles jika vaksinnya tidak manjur.

Apakah Dajjal misterius? Jawabnya: sangat misterius. Allah memberi informasi secara simbolis kemesteriusan Dajjal dengan menyampaikan secara implisit di Al Quran. Dia berada secara tersembunyi di Quran Surah Kahfi ayat 1-10. Nabi Muhammad dawuh, agar selamat dari fitnah Dajjal maka hafalkan Kahfi 1-10.

Petunjuk Nabi itu bisa dipahami secara luas. Misalnya, Dajjal adalah pembohong kelas tinggi. Pemahaman lain, ketika datang fitnah Dajjal hanya satu yang bisa dijadikan pegangan hidup yaitu Quran, kitab yang tidak bengkok (Kahfi ayat 1).

Bisa juga sebagai tanda kemesteriusan Dajjal adalah Allah tidak langsung menyebut namanya Al Masih al Dajjal melainkan dengan istilah jazad. Syekh Imran Hosein menunjuk Quran Surah Shad ayat 34. Sekaligus ayat itu sebagai petunjuk bahwa Dajjal diberi misi oleh Allah untuk menjadi Al Masih palsu. Yaitu menjadi khilafah di Yerusalem seolah sebagai penerus kekhilafahan Sulaiman. Tapi tidak bisa karena Allah sudah mengabulkan doa Sulaiman agar tidak ada penerus kekhilafahannya. (QS Shad 35).

MEMBUTUHKAN PENAFSIRAN
Dalam konteks misteriusnya itulah, maka hampir seluruh Hadits tentang Dajjal bisa dikategorikan mutasyabihat. Masih membutuhkan penafsiran. Tentang postur fisik Dajjal saja ada yang seperti digambarkan dalam Hadits Tamim al-Dari. Berbeda dengan yang digambarkan dalam mimpi Rasulullah.

Bahkan Rasulullah juga memberi perhatian ketika para syahabat mencurigai Abu Shayyad sebagai Dajjal. Padahal Abu Shayyad tidak buta sebelah, di dahinya tidak ada huruf KFR tapi mengapa Rasulullah tidak langsung mementahkan? Bahkan memberi jawaban yang tidak pasti ketika Umar bin Khttab hendak membunuh Abu Shayyad. Rasul dawuh, jika dia benar-benar Dajjal maka Umar tidak akan bisa mengalahkannya karena bukan tandingannya. Jika ternyata bukan Dajjal, Umar berdosa besar membunuh orang.

Intinya, postur Dajjal itu harus dipahami secara simbolik. Bukan harfiah, tekstual. Dan dalam memahami Dajjal harus mengikuti petunjuk Rasulullah karena sesuai dawuh Nabi, tidak ada orang yang paham tentang Dajjal lebih dari beliau.

Ikuti petunjuk Rasulullah agar selamat dari fitnah Dajjal. Yaitu, hafalkan 10 pertama atau 10 terakhir QS Kahfi. Baca doa minta perlindungan di akhir tasahud akhir.

Di samping ciri misterius, ada titik singgung kemiripan dan kesamaan Dajjal dengan Covid-19. Antara lain, munculnya pandemi hoax, jagat terbalik (sungsang bawana balik), stay at home, Dajjal punya gunung roti, dan lain-lain yang insya Allah diuraiakan lebih jauh lagi. Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono – Wartawan senior tinggal di Sidoarjo.