JAKARTA – Mudik Idulfitri bukan sekadar tradisi pulang kampung, tapi juga jadi “mesin” penggerak ekonomi nasional. Setiap tahun, momen ini terbukti mampu meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, mulai dari transportasi, perdagangan, hingga UMKM di daerah.
Fenomena mudik yang berlangsung secara massal dan terjadwal menciptakan efek berantai atau multiplier effect. Sederhananya, setiap uang yang dibelanjakan pemudik akan terus berputar dan memberi dampak ke banyak pihak. Tak heran, konsumsi rumah tangga selama periode ini bisa naik sekitar 15%–20% dibanding bulan biasa.
Tingginya minat belanja masyarakat juga dipengaruhi oleh Marginal Propensity to Consume (MPC) yang meningkat saat Lebaran. Dampaknya terasa hingga ke pelaku UMKM di daerah, yang pendapatannya bisa melonjak hingga 50%–70%.
Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik tahun 2023, aktivitas mudik bahkan berkontribusi sekitar 1,5% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan. Ini terjadi karena adanya perpindahan uang dari kota besar ke daerah, sehingga ekonomi menjadi lebih merata.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, menjelaskan bahwa setiap pengeluaran pemudik memberi dampak luas bagi pelaku usaha. “Mulai dari UMKM, pedagang kecil, hingga sektor transportasi ikut merasakan manfaatnya,” ujarnya.
Untuk Idulfitri 2026, prospek ekonomi diprediksi makin cerah. Berkaca dari tahun 2025, jumlah pemudik mencapai 154,62 juta orang. Tahun ini, angka tersebut diperkirakan meningkat, seiring dengan target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,5%–5,6%.





