Optimisme ini juga didukung berbagai stimulus pemerintah. Di antaranya alokasi stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, bantuan sosial Rp11,92 triliun untuk jutaan keluarga penerima manfaat, serta diskon tarif transportasi senilai Rp911 miliar.
Selain itu, konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 53%–54% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi faktor utama penggerak ekonomi saat Lebaran. Artinya, semakin tinggi belanja masyarakat, semakin besar pula dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga terus menghadirkan kebijakan pendukung, seperti diskon tiket transportasi, program mudik gratis, hingga insentif penerbangan. Tahun lalu, misalnya, penangguhan PPN tiket pesawat berhasil menurunkan harga hingga 14%.
Tak kalah penting, kebijakan Work From Anywhere (WFA) juga memberi dampak positif. Dengan sistem ini, pemudik bisa tinggal lebih lama di kampung halaman tanpa kehilangan penghasilan. Alhasil, waktu belanja dan aktivitas ekonomi di daerah pun ikut meningkat.
Meski ada tekanan global, pemerintah memastikan kondisi ekonomi tetap stabil. Harga BBM pun tidak dinaikkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Dengan kondisi ini, kita optimistis ekonomi saat Idulfitri 2026 bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” tutup Haryo. (din/ais)





