Gus Dr.H. Mudjib Mustain, SH MSi – Dosen Univ. Darul Ulum Jombang
TIDAK ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia. Segala yang ada di langit dan di bumi menyimpan pelajaran bagi manusia yang mau berpikir, sebagaimana isyarat dalam QS. Ali Imran ayat 191—bahwa orang berakal senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, serta merenungi ciptaan-Nya.
Pendidikan dalam Al-Qur’an pun sering diawali dengan kisah (qashash) yang menyentuh hati, menghadirkan ‘ibrah (pelajaran), dan berujung pada syariat sebagai pedoman hidup.
Sebagai kiasan, kehidupan makhluk seperti ular dan kupu-kupu dapat menjadi cermin bagi perjalanan ruhani manusia. Ular mengalami proses pergantian kulit (moulting/ekdisis), di mana kulit lama yang usang dilepaskan untuk memberi ruang bagi yang baru. Proses ini membutuhkan waktu dan kondisi yang tepat. Namun, meskipun kulitnya berganti, sifat dasarnya tidak berubah—ia tetaplah ular dengan segala karakter alaminya.
Berbeda dengan kupu-kupu yang lahir dari kepompong. Dari fase ulat yang sederhana, ia berproses dalam diam, lalu keluar menjadi makhluk yang indah, membawa warna, dan memberi manfaat bagi lingkungan. Proses transformasi ini bukan sekadar perubahan fisik, tetapi juga simbol perubahan hakikat.
Ramadhan sejatinya adalah fase “kepompong” bagi manusia. Selama sebulan, kita ditempa untuk menahan diri, membersihkan hati, serta memperbanyak amal kebaikan. Di penghujungnya, kita diharapkan tidak sekadar “berganti kulit” seperti ular—yang hanya tampak berubah di luar—melainkan benar-benar “bertransformasi” seperti kupu-kupu, berubah lahir dan batin.
Kebersihan yang diraih bukan hanya pada pakaian yang indah saat Idul Fitri, tetapi juga pada hati yang telah memaafkan, jiwa yang sabar, dan kerelaan menerima ketetapan Allah. Lebih dari itu, kita dituntut membersihkan diri dari penyakit hati seperti riya’, takabur, iri, dengki, dan hasad. Inilah makna kembali kepada fitrah—kesucian yang sejati.
Keindahan pasca-Ramadhan juga harus dihiasi dengan amal: sedekah harta, tenaga, waktu, bahkan perhatian. Mendengarkan nasihat adalah sedekah telinga, berdzikir adalah sedekah lisan, dan berpikir baik adalah sedekah pikiran. Semua dilakukan dengan niat yang lurus, murni lillahi ta’ala, tanpa mengharap pujian atau pengakuan.
Sebaliknya, jangan sampai kita seperti ular: mampu “berpuasa” dan menahan lapar, tetapi sifat buruk tetap melekat. Bahkan lebih buruk lagi, ketika manusia justru menjadi “rakus”—bukan hanya terhadap harta, tetapi juga terhadap hak orang lain, bahkan menggerus pahala sendiri karena menyakiti sesama dan memakan yang haram.
Semoga kita termasuk hamba yang benar-benar bertransformasi setelah Ramadhan—menjadi lebih bersih, lebih lembut, dan lebih taat. Semoga Allah memberi kekuatan untuk istiqamah dan meraih ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (*)




