Sholat Lailatul Qadar Menghiasi 10 Malam Akhir Ramadhan

Ramadhan 1447 H hari ke 22

Sholat Lailatul Qadar Menghiasi 10 Malam Akhir Ramadhan
Djoko Tetuko Abdul Latief

Oleh Djoko Tetuko  —  Direktur Utama Media Koran Transparansi

Kebiasaan qiyamul di kampung Celep Sidoarjo, sejak langgar wakaf berubah menjadi masjid Al Hidayah (karena kebutuhan dan tuntutan jaman), maka jamaah bersama takmir masjid selalu melakukan i’tikaf di masjid, selama malam ganjil 10 akhir Ramadhan, dan sudah hampir 15 tahun lebih sudah berubah menjadi i’fikaf 10 malam akhir Ramadhan secara penuh, baik malam ganjil maupun malam genap.

Salah satu panggilan sangat kuat itu, pada pengajian rutin diasuh KH Roufiuddin (dari Ponpes Al Hidayah Tanggulangin, almarhum 2 tahun yang lalu), menganjurkan di antara amalan malam 10 akhir di bulan suci Ramadhan, melakukan sholat Lailatul Qadar, dua rakaat sampai 100 rakaat bahkan hingga 1000 rakaat, dengan bacaan setiap rakaat surat Al Fatihah (1 kali), surat Al Qadar (1 kali) dan surat Al-Ikhlas (3 kali), setelah salam dan selesai mengerjakan sholat Lailatul Qadar, dilanjutkan membaca dzikir ; surat Al Qadar (10 kali),

Astaghfirullahaladzim wa atubu ilaihi* (70 kali),

“Assholatu wassalamu ala sayyidina anam”* (70 kali), “La ilaha illallah al-malikul haqqul mubin, Muhammadur Rasulullah”(70 kali), dan “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna” (70 kali). Dan ketika dibaca getaran dzikir dan doa terasa ada perbedaan, apalagi dilantunkan pada 10 malam akhir Ramadhan.

Hal itu dilakukan setelah sholat, setelah rukuk, i’tidal, sujud, dan duduk tahiyat akhir dengan posisi tawarruk, yaitu duduk di atas lantai/tanah, kaki kiri dimasukkan ke bawah betis kanan, dan telapak kaki kanan ditegakkan dengan jari-jari menghadap kiblat.

Di antara i’tikaf dan dzikir sholat Lailatul Qadar dengan wiridnya begitu menghiasai amalan menanti janji malam Lailatul Qadar.

Bahkan semakin terasa berbeda karena sholat Lailatul Qadar seperti sebuah panggilan dan memanggil hamba yang senantiasa mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Ketika dzikir Astaghfirullahaladzim wa atubu ilaihi

(“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya”). Ini adalah dzikir untuk memohon ampunan atas dosa dan kembali taat kepada Allah, sering dibaca setelah shalat, saat menyesal, atau dzikir harian. Sebuah pengakuan dan harapan tertumpahkan.

Ketika dzikir “Assholatu wassalamu ala sayyidina anam”

(“Rahmat dan keselamatan semoga tercurah kepada pemimpin manusia, yaitu Nabi Muhammad SAW).”, janji Rasululloh Shollahu Alaihi Wassalam (SAW) bersama orang orang beriman ketika mengikuti jejak i’tikaf 10 malam di akhir Ramadhan, selalu bersama umatnya, semakin nyata.

Ketika dzikir kalimat agung *”La ilaha illallah al-malikul haqqul mubin, Muhammadur Rasulullah”* adalah dzikir dan syahadat agung, bermakna “Tiada Tuhan selain Allah, Raja yang Maha Benar dan Nyata, Muhammad utusan Allah”. Sebuah pengakuan iman, Islam dan berharap dipandu Sang Khaliq ikhlas meraih ikhsan dengan rentak qolbu mengiringi rangkaian ibadah malam sunyi dan suci.

Ketika membaca doa “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna” sebuah doa memohon ampunan yang diajarkan Rasulullah SAW, terutama dianjurkan saat malam Lailatul Qadar. (“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai kemaafan, maka maafkanlah aku (jika -‘anni) / kami (jika -‘anna)”. Ada keyakinan bahwa berbagai permohonan maaf dan keinginan bertaubat sejak mengawali i’tikaf, dengan sholat taubat berjamaah, seakan akan benar benar sesuai janji Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dekat dengan hamba yang senantiasa memohon.

Seperti pada kajian pengajian di masjid Al Hidayah selama ini,  dikutip dari Kitab Sholatullailiyyah, ketika sholat Lailatul Qadar dan surat Al Qadar  berkumandang di antara kesunyian dan kesepian malam, karena nawaitu  mengabdi, karena berniat meminta ampunan, memuji, dan berdoa kepada Ilahi Robbi, semakin membuat diri seakan tiada arti, kecuali mendapat ridlo Alloh, memperoleh ridlo Ilahi Robbi.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna”

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna” .

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna”

“Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan aku bertaubat kepada-Nya”. Dzikir permohonan ampunan,   untuk memohon ampun atas dosa dan kembali taat kepada Allah, seperti orkestra dalam beribadah dengan menunduk pasrah.

Sebuah perjalanan dan pengakuan bahwa Allah Yang Maha Agung adalah satu-satunya tempat memohon ampun atas dosa-dosa yang dilakukan, baik sengaja maupun tidak.

Apalagi doa ini  dianjurkan dibaca setiap saat, terutama setelah shalat fardhu, saat sadar berbuat khilaf, atau saat merasa sedih/sempit untuk melapangkan rezeki.

Tentu permohonan tertinggi penghapusan dosa-dosa, menenangkan jiwa, dan membuka pintu rezeki.

Dzikir “Assholatu wassalamu ala sayyidina anam”,  merupakan harapan kepasrahan kepada kanjeng Nabi Muhammad karena mengharap

“Rahmat dan keselamatan semoga tercurah kepada pemimpin manusia (yaitu Nabi Muhammad SAW).”

Dzikir kalimat “La ilaha illallah al-malikul haqqul mubin, Muhammadur Rasulullah shodiqul wa’dil amin” adalah zikir dan syahadat agung, bermakna “Tiada Tuhan selain Allah, Raja yang Maha Benar dan Nyata, Muhammad utusan Allah, yang benar, menepati janji, dan terpercaya”. Zikir ini dianjurkan dibaca 100 kali sehari sebagai pembuka pintu rezeki, pelindung dari kefakiran, dan pemberi ketenangan.

Diyakini sebagai amalan yang teruji menjaga tauhid untuk menjaga ibadah tetap kepada Yang Maha Kuasa,  memperlancar rezeki lahir dan batin. Bahkan membaca dzikir 100 kali sehari memberikan keamanan dari kemiskinan.

Menjadi perlindungan dari kesepian atau azab kubur. Juga menjadi perusahaan dari  kebiasaan buruk diubah  menjadi baik serta menambah pahala.

Waktu Mengamalkan:

Dzikir dan Doa “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna” adalah doa memohon ampunan yang diajarkan Rasulullah SAW, terutama dianjurkan saat malam Lailatul Qadar.  Sifat Allah yang bukan hanya mengampuni, tetapi menghapus dosa secara menyeluruh hingga seolah tidak pernah terjadi.

Secara khusus sangat dianjurkan dibaca berulang kali, khususnya di 10 malam terakhir Ramadhan. Mengingat doa  ini sebuah pengakuan bahwa Allah senang memaafkan hamba-Nya.

Hari ini, Jumat (13 Maret 2026/23 Ramadhan 1447 H), InsyaAllah sudah melewati malam ke-23 dan selanjutnya mengisi malam 24 hingga akhir malam Ramadhan. Semoga dimudahkan oleh Alloh SWT melakukan dengan nawaitu semata-mata mengharapkan rahmat dan ridlo Alloh Subhanahu wa Ta’ala, meraih Lailatul Qadar (malam Qadar, malam lebih baik dari 1000 bulan).

Siapa tahu dari munajat selama 10 malam di akhir Ramadhan, mendapat kemudahan dari Alloh SWT dengan pertolongan dari semua urusan dunia yang ada di Indonesia maupun di negara lain, diberi jalan keluar terbaik. Hanya Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang mampu mengubah berbagai permasalahan dunia menjadi sebuah kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran.

Tertib dzikir dan doa setelah sholat Lailatul Qadar, bisa 2 rakaat, bisa 10 rakaat, bisa 20-30 rakaat, bisa 100 rakaat. Setelah salam membaca; Surat Al-Qadr (Latin, 10 kali)

Innâ anzalnâhu fî lailatil-qadr.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”

Wa mâ adrâka mâ lailatul-qadr.

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?”

Lailatul-qadri khairum min alfi syahr.

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”

Tanazzalul-malâ’ikatu war-rûḫu fîhâ bi’idzni rabbihim, ming kulli amr.

“Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan.”

Salâmun hiya ḫattâ mathla’il-fajr.

“Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”

Astaghfirullahaladzim wa atubu ilaihi (70 kali),

“Assholatu wassalamu ala sayyidina anam” (70 kali), “La ilaha illallah al-malikul haqqul mubin, Muhammadur Rasulullah”(70 kali), dan “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni/anna“(70 kali),

Dan doa sebagaimana permohonan saat Ramadhan dan biasa  dibaca setelah sholat witir, sholat Sunnah ganjil di malam hari dan penutup sholat-sholat malam.

 “Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak. kami mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia”.

“Ya Allah, Tuhan kami terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyu’an, rendah diri dan ibadah kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad SAW, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah, Tuhan semestra alam.”. (*)