Cermin Retak Media Sosial

Ramadhan 1447 hari ke 19

Cermin Retak Media Sosial

Feny Cholisoh

(Psikolog Klinis & Dosen Psikologi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Media sosial sering dipuji sebagai ruang berbagi inspirasi. Namun di balik layar yang penuh senyum, prestasi, dan kesalehan yang dipamerkan, ada satu realitas yang jarang dibicarakan: media sosial juga menjadi cermin retak yang memantulkan penyakit hati manusia.Di ruang digital, manusia tidak hanya berinteraksi. Ia juga membandingkan, menilai, dan ingin dinilai.

Setiap unggahan tentang keberhasilan orang lain dapat dengan mudah menyalakan percikan iri. Setiap foto ibadah atau kegiatan sosial berpotensi berubah menjadi panggung pencitraan. Dan setiap pujian yang datang melalui “like” atau komentar dapat menumbuhkan rasa bangga yang berlebihan. Dalam bahasa tasawuf, di sinilah hasad, riya, dan ujub menemukan rumah barunya.

Media sosial bekerja dengan logika perhatian. Algoritma mendorong konten yang paling menarik emosi: yang paling memancing kagum, iri, atau kekagetan. Akibatnya, yang terlihat di layar bukanlah kehidupan apa adanya, melainkan kehidupan yang telah dipoles. Orang memamerkan keberhasilan, tetapi menyembunyikan kegagalan.

Menunjukkan kebahagiaan, tetapi menyimpan kesedihan.
Masalahnya bukan pada teknologi, tetapi pada hati manusia yang mudah terpengaruh oleh panggung digital itu. Ketika seseorang terlalu sering melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna, ia mulai merasa hidupnya sendiri kurang berarti. Ketika pujian publik menjadi ukuran harga diri, seseorang dapat kehilangan keikhlasan dalam berbuat.

Di titik inilah media sosial tidak lagi sekadar alat komunikasi. Ia berubah menjadi arena kompetisi citra diri.

Tradisi Islam sejak lama mengingatkan bahwa kerusakan manusia sering berawal dari penyakit hati. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa iri, kesombongan, dan cinta berlebihan terhadap pujian adalah racun batin yang perlahan merusak jiwa. Apa yang dahulu dibahas dalam kitab-kitab tasawuf kini justru tampak semakin nyata dalam budaya digital.

Ironisnya, banyak orang merasa semakin terhubung secara sosial, tetapi semakin rapuh secara psikologis. Mereka memiliki ribuan pengikut, tetapi kehilangan kedamaian batin. Mereka sibuk membangun citra diri, tetapi lupa membangun kejujuran terhadap diri sendiri.

Karena itu, tantangan terbesar manusia di era digital bukanlah teknologi, melainkan kemampuan menjaga hati. Media sosial boleh menjadi ruang berbagi, tetapi jangan sampai menjadi panggung kesombongan. Ia boleh menjadi tempat belajar, tetapi jangan sampai menjadi sumber iri hati.

Jika tidak berhati-hati, layar kecil di tangan kita bisa menjadi jendela yang terus-menerus membuka pintu bagi penyakit
Dan ketika hati sudah sakit, teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menyembuhkannya. (*)

Artikel ini dilangsir dari website Kemenag.