Oleh: Junaedi
Dosen Program Studi Magister Ilmu Ekonomi, Universitas Darul ‘Ulum, Jombang
SETIAP Ramadan, kita menyaksikan denyut ekonomi yang menguat. Pasar ramai, pusat perbelanjaan padat, permintaan bahan pangan melonjak, dan perputaran uang meningkat signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5 persen, dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB).
Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu momentum musiman yang mendorong akselerasi tersebut.
Namun, di balik optimisme transaksi dan geliat konsumsi, ada sisi lain yang jarang kita perbincangkan, yaitu jejak ekologis dari pola konsumsi kita selama bulan Ramadan. Dari sudut pandang ekonomi lingkungan, Ramadan bukan hanya soal peningkatan daya beli dan distribusi zakat, tetapi juga tentang bagaimana pilihan konsumsi kita memengaruhi keberlanjutan sumber daya alam.
Kita tahu, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur PDB nasional. Artinya, setiap lonjakan belanja memiliki implikasi luas, termasuk terhadap energi, air, lahan, dan sistem pengelolaan sampah.
Selama Ramadan, permintaan pangan meningkat tajam. Berbagai laporan menunjukkan limbah makanan di banyak negara mayoritas Muslim bisa melonjak antara 25 sampai 50 persen selama bulan Ramadan dibanding bulan biasa. Fenomena ini menjadi semacam paradoks antara ajaran pengendalian diri dam perilaku konsumsi kita.
Di Indonesia, komposisi sampah nasional masih didominasi oleh sampah organik, terutama sisa makanan. Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa sisa makanan berkontribusi sekitar 40 persen dari total timbulan sampah.
Pada periode Ramadan, sejumlah pemerintah daerah melaporkan peningkatan volume sampah harian sekitar 10–20 persen, terutama dari kawasan permukiman dan pusat kuliner. Artinya, sebagian dari apa yang kita beli dan sajikan saat berbuka atau sahur tidak benar-benar dikonsumsi, melainkan berakhir di tempat pembuangan akhir.
Dari perspektif ekonomi lingkungan, ini adalah bentuk pemborosan dan inefisiensi sumber daya. Setiap makanan yang terbuang sesungguhnya memuat jejak air, energi, pupuk, transportasi, dan tenaga kerja yang telah digunakan dalam proses produksinya. Secara global, sistem pangan menyumbang sekitar 30 persen emisi gas rumah kaca. Ketika makanan terbuang, emisi tersebut menjadi sia-sia, bahkan bertambah melalui proses pembusukan yang menghasilkan metana atau gas rumah kaca yang daya rusaknya jauh lebih besar daripada karbon dioksida dalam jangka pendek.
Kita juga menghadapi persoalan sampah plastik sekali pakai. Tradisi berbagi takjil dan meningkatnya layanan pesan-antar mendorong penggunaan kemasan plastik, styrofoam, dan kantong sekali pakai. Tanpa pengelolaan yang memadai, limbah ini mencemari sungai dan laut. Biaya ekologisnya tidak langsung terlihat dalam harga makanan yang kita beli, tetapi dibayar mahal oleh lingkungan dan generasi mendatang.
Di sinilah pentingnya membaca Ramadan sebagai momentum koreksi perilaku ekonomi. Ekonomi lingkungan mengajarkan bahwa harga pasar sering kali tidak mencerminkan biaya lingkungan yang sesungguhnya. Ketika kita membeli makanan berlebih karena tergoda diskon atau gengsi sosial, kita tidak membayar langsung atas emisi dan sampah yang ditimbulkannya. Biaya itu tersembunyi sebagai eksternalitas yang ha ditanggung bersama oleh masyarakat.
Padahal, nilai dasar Ramadan justru sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang meliputi kesederhanaan, pengendalian diri, dan solidaritas. Jika kita terjemahkan nilai tersebut ke dalam perilaku ekonomi, maka Ramadan bisa menjadi laboratorium gaya hidup rendah karbon. Kita dapat mulai dari hal sederhana. misalmya membuat perencanaan menu secukupnya, mengolah ulang sisa makanan, memilih produk-produk di sekitar kita untuk mengurangi jejak transportasi, serta membawa wadah sendiri saat membeli takjil.
Lebih jauh, penguatan ekonomi berbasis komunitas dapat mempertemukan tujuan sosial dan ekologis. Ketika distribusi makanan menjadi lebih efisien dan tepat guna, kita tidak hanya mengurangi pemborosan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
Ramadan semestinya bukan hanya musim belanja, melainkan musim refleksi atas cara kita mengonsumsi. Kita berpuasa sepanjang hari untuk merasakan lapar dan dahaga, tetapi sering kali “membalasnya” dengan konsumsi berlebihan saat berbuka. Jika pola ini terus berulang, maka puasa kehilangan dimensi ekologisnya.
Kini, ketika krisis iklim semakin nyata dan tekanan terhadap sumber daya kian berat, kita membutuhkan tafsir baru atas praktik keagamaan yang lebih responsif terhadap bumi. Ramadan memberi kita ruang latihan selama sebulan penuh. Pertanyaannya, apakah kita berani memperluas makna puasa yang ramah bumi? Karena sesungguhnya Ramadan tidak hanya memperkuat spiritualitas kita, tetapi juga memperkecil jejak ekologis kita. Bukan begitu?.





