Selain itu, di rumah-rumah umat Islam menyediakan makanan atau kue, sebagai bentuk daripada sadaqoh atau infak. Bahkan tidak jarang mengumpulkan uang untuk diinfak dan sodaqohkan kepada anak-anak kecil, maupun mereka yang membutuhkan .
Semua itu sebagai bagian dari upaya melaksanakan perintah Allah SWT dalam suasana yang aman, nyaman, tenteram dalam kebiasaan (tradisi) yang baik.
Oleh karena itu, dengan niat menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, maka sudah sepatutnya untuk mensyukuri atas nikmat tersebut, sebagaimana perintah
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
Rasululloh Muhammad SAW dalam haditsnya menyatakan;
عَنْ سَخْبَرَةَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنِ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ وَأُعْطِيَ فَشَكَرَ وَظُلِمَ فَغَفَرَ وَظَلَمَ فَاسْتَغْفَرَ أُوْلَئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ
Artinya; “Diriwayatkan dari Sakhbarah bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa diberi cobaan kemudian bersabar, diberi nikmat kemudian bersyukur, dianiaya kemudian memaafkan, dan berbuat dzalim kemudian meminta maaf, maka merekalah yang mendapatkan kedamaian dan merekalah yang mendapat hidayah” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 6482 dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 4117).
Suasana Idul Fitri dengan gambaran tidak semua berjalan lancar atau baik, ada kalanya seseorang mendapat ujian dalam benyak hal, maka disunnahkan bersabar, ketika mendapat nikmat selalu bersyukur.
Dua hal sangat bertentengan antara ujian dan nikmat diberikan sebuah pelajaran oleh Rasulullah SAW untuk senantiasa berbuat baik, sehingga penguatan dalam hal Halal Bihalal dan Hari Raya Ketupat sebagai simbol memberikn satu makna sebuah kebutuhan.
Dan dua hal ketika dianiaya dan mendzalimi, maka sama-sama diperintah memaafkan dan meminta maaf, semakin menguatkan bahwa dalam beragama, berbangsa, dan bernegara harus menjaga kerukunan dalam persudaraan untuk menyeimbangkan kehidupan.
Suasana Idul Fitri, terutama di Indonesia, termasuk tradisi halal bihalal, merupakan amal ibadah dalam bentuk PAKET IBADAH, ulama-ulama terdahulu mewariskan dalam bentuk gerakan dan kegiatan positif dengan mengedepankan kebaikan dan kebaikan, sekaligus melebur nafsu kurang baik, atau keinginan-keinginan berbuat jahat dan jelek, dalam bentuk saling memaafkan, silaturrahmi (sungkem) ke kedua orangtua, silaturrahmi mengunjungi sanak saudara, hanya karena ingin saling minta maaf dan memaafkan.
Bahkan memberi infak. Karena itulah sesungguhnya jati diri (jasad dan roh manusia), kita semua untuk MENGABDI kepada ILAHI ROBBI,
sebagaimana firman Allah SWT;
وَمًاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
ArtinyaL Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu (Adz Dzariyat 56).
Ibadah seperti apa sebagai kelanjutan penguatan menuju panggung pengabdian secara sungguh-sungguh sesuai dengan yang digariskan Allah SWT dan RasulNya, maka salah satu firman Allah memberi sebuah langkah-langkah sangat sistemetis.
۞ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya; Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba cahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri’’. Pesan moral dari ayat ini bahwa dalam hidup dan kehidupan beragama, maka melakukan erbuat baik merupakan perintah agama kepada kedua orantua, kerabat, dan siapa saja.
Ma’asyirol muslimin jamaah sholat Jum’at rahimakumullah, Rasulullah bersabda :
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه :
Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun. [Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya – QS al An’am/6 ayat 160-]”.
Bagi muslimin dan muslimat yang sudah melaksanakan puasa sunnah di bulan Syawal selama 6 hari, mudah-mudahan diridloi Allah SWT dan diterima sebagai penguatan amal ibadah di bulan Ramadan, sekaligus sebagai upaya pengendalian diri dengan mengekang emosi dan nafsu-nasfu duniawi, karena semata-mata hanya ingin menjaga dan memperkuat ke alam dzikir (selalu mengingat Allah SWT). Catatan puasa selama 1 tahun bukan sesuatu yang tidak wajar karena sebuah menyatuan amal ibadah dan keajaiban dari Allah SWT.
Oleh karena itu, menjaga puasa selama 1 tahun inilah menjadi tugas ke depan selalu menjalankan amar ma/ruf nahi anil mungkar. Rasulullah bersabda
عن ابن عباس رضى الله عنه ، عن النبي صلى الله عليه وسلم
الصَّائِمُ بَعْدَ رَمَضَانَ كَالكَارِ بَعْدَ الْفِرَارِ
Dari ibnu Abbas RA, Rosulullah bersabda, ” Orang yang berpuasa seusai melaksanakan puasa Ramadan, maka diibaratkan seperti orang yang kembali berperang, seusai perang.
Janji Allah SWT dengan jelas dan gamblang disebutkan bahwa, apabila kita menginginkan hidup dengan penuh barokah, kecukupan, dan ditutupi kekurangan maupun kemiskinan, sehingga nyaman dan tenteram, maka mengabdi dengan mengerjakan amal ibadah yang intinya kebaikan dan kebaikan, merupakan cara beribadah dan mengingat kepada Allah SWT agar selalu mendapat, pertolongan, petunjuk atau hidayah, serta ridloNYA.
Halal buhalal dan Hari Raya Ketupat ialah perwujudan amal ibadah selama Ramadhan dan Syawal dengan berbagai model dan simbol, semata-,mata untuk mengajak umat Islam secara terus menerus melakukan secara konsisten gerakan mengingat Allah (dzikir), gerakan menajalan sunnah Rasul dengan puasa sunnah Syawal.
Ha itu sebagaimana firman Allah :
يَااَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْالَاتُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَا اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِك فَاُولَىُكَ هُمُ اْلخَا سِرُوْنَ – المنافقون
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi
Ma’asyirol muslimin jamaah sholat Jum’at rahimakumullah.
Mudah-mudahan sekelumit khotbah Jum’at ini mampu menjadi bagian dari do’a permohon juga pertolongan kepada Allah SWT, semoga kita semua ditetapkan iman, Islam, ikhsan dengan penuh ikhlas menjalani karena ilmu dariNya. Dijauhkan dari zina, fitnah, bencana, marah bahaya, juga iri, dengki, serakah, sombong serta berbagai penyakit hati.
Dimudahkan segala urusan kebaikan yang bermanfaat dan mencukupi untuk bekal ibadah dan mengabdi kepada Ilahi Robbi, selalu berbuat baik kepada kedua orang tua kita. Berbuat baik dengan fakir dan miskin, saudara dekat dan saudara jauh, sahabat.
Dijadikan Allah swt ahli ilmu, ahli takwa, ahli istiqomah, ahli kebaikan, ahli sadaqoh, ahli bersyukur, ahli sujud (shobat), dan ahli sabar. Allah SWT senantiasa memberikan barokah umur kita, barokah ilmu kita, barokah rejeki kita, dan berokah anak keturunan yang sholeh/sholihah, yang selalu perjuanga di jalan Allah. amin ya robbal alaamin.





