Tauhid sebagai Terapi Batin Generasi Muda, Ramadhan hari ke 9

Tauhid sebagai Terapi Batin Generasi Muda, Ramadhan hari ke 9
M. Najihul Huda, M.Pd

Oleh Najihu Huda, M. Pd (Dosen Universitas Darul Ulum-UNDAR-Jombang

Di tengah meningkatnya kesadaran tentang mental health, generasi muda hari ini semakin terbuka membicarakan kecemasan, overthinking, krisis identitas, hingga depresi. Ini tentu perkembangan yang positif. Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara serius: apakah krisis mental yang marak ini semata persoalan psikologis, atau juga persoalan spiritual?

Dalam tradisi Islam, kesehatan jiwa tidak pernah dilepaskan dari kekuatan tauhid. Salah satu teks dasar yang mengajarkan fondasi ketauhidan adalah Aqidatul Awam karya Syaikh Ahmad Marzuki al-Maliki al-Makki. Kitab ini mungkin tampak sederhana karena berbentuk nazham yang mudah dihafal. Namun substansinya menyentuh akar terdalam kesehatan batin: pengenalan yang benar terhadap Allah.

Di sinilah kita menemukan relevansi kuat antara belajar tauhid dan fenomena kesehatan mental generasi muda.

Krisis Mental adalah Krisis Makna

Banyak problem mental berakar pada krisis makna. Hidup terasa kosong, arah tidak jelas, masa depan menimbulkan kecemasan, dan nilai diri bergantung pada penilaian orang lain. Media sosial memperparah keadaan dengan membentuk standar kebahagiaan berbasis pencitraan, bukan realitas.

Dalam perspektif tauhid, krisis makna terjadi ketika hubungan vertikal dengan Allah melemah. Ketika manusia tidak lagi mengenal Tuhannya secara mendalam, ia kehilangan sandaran eksistensial. Nilai diri dicari dari luar, bukan dari kesadaran sebagai hamba Allah.

Aqidatul Awam membuka dengan penegasan tentang keberadaan Allah (Wujud) dan keesaan-Nya (Wahdaniyah). Kesadaran bahwa hidup berada dalam sistem Ilahi yang teratur melahirkan stabilitas makna. Kita tidak hidup secara acak, tidak lahir tanpa tujuan, dan tidak diuji tanpa hikmah.

Banyak kecemasan muncul karena merasa hidup tak terkendali. Tauhid mengajarkan bahwa kendali tertinggi ada pada Allah.

Qudrah dan Iradah: Meredakan Overthinking

Sumber kecemasan terbesar generasi muda seringkali adalah ketidakpastian masa depan—karier, jodoh, ekonomi, reputasi. Overthinking menjadi fenomena umum.

Dalam Aqidatul Awam ditegaskan bahwa Allah memiliki sifat Qudrah (Maha Kuasa) dan Iradah (Maha Berkehendak). Mengimani dua sifat ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menyadari bahwa setelah ikhtiar maksimal, ada kehendak Allah yang melampaui perencanaan manusia.

Kesadaran ini melahirkan tawakal. Dalam istilah psikologi modern, tawakal dapat dipahami sebagai healthy surrender—melepaskan beban berlebihan atas hal-hal yang memang di luar kendali kita.

Tauhid di sini menjadi terapi kognitif spiritual: membenahi cara berpikir tentang kontrol dan takdir.

Mengatasi Kesepian dengan Kesadaran Ilahiah

Fenomena lain yang sering muncul adalah rasa kesepian, bahkan di tengah keramaian digital. Banyak yang merasa tidak dipahami, tidak dihargai, atau tidak didengar.