Tauhid sebagai Terapi Batin Generasi Muda, Ramadhan hari ke 9

Tauhid sebagai Terapi Batin Generasi Muda, Ramadhan hari ke 9
M. Najihul Huda, M.Pd

Dalam Aqidatul Awam dijelaskan bahwa Allah memiliki sifat ‘Ilm (Maha Mengetahui) dan Sama’ (Maha Mendengar). Tidak ada keluh kesah yang luput dari pengetahuan-Nya.

Jika kesadaran ini hidup dalam jiwa, doa bukan lagi formalitas, melainkan ruang dialog terdalam. Sujud bukan sekadar gerakan, tetapi momen terapi batin.

Banyak gangguan mental diperparah oleh perasaan terisolasi. Tauhid menghadirkan koneksi permanen dengan Allah—koneksi yang tidak pernah offline.

Mukhalafatuhu lil Hawadits: Membebaskan dari Tekanan Sosial

Generasi muda hidup dalam tekanan standar sosial yang sering tidak realistis: harus sukses cepat, tampil sempurna, selalu bahagia. Perbandingan tanpa henti melahirkan rasa tidak cukup (insecurity).

Salah satu sifat Allah yang diajarkan dalam Aqidatul Awam adalah Mukhalafatuhu lil hawadits—Allah berbeda dari makhluk-Nya. Kesempurnaan mutlak hanya milik Allah. Manusia secara fitrah terbatas.

Pemahaman ini melahirkan penerimaan diri dalam bingkai iman. Kita tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi dituntut untuk berproses dan berikhtiar. Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan standar makhluk.

Tauhid sebagai Fondasi Preventif Kesehatan Mental

Belajar Aqidatul Awam bukan hanya memperkaya pengetahuan akidah, tetapi juga menjadi langkah preventif terhadap gangguan mental. Tauhid yang kuat melahirkan:

  • Rasa aman karena yakin Allah Maha Menjaga
  • Harapan karena yakin Allah Maha Pengasih
  • Keseimbangan karena yakin Allah Maha Adil
  • Optimisme karena yakin Allah Maha Kuasa

Tentu, persoalan mental tidak cukup diselesaikan hanya dengan ceramah tauhid. Islam tidak menafikan peran psikolog, konselor, maupun terapi profesional. Namun tanpa fondasi spiritual, intervensi psikologis sering kali hanya menyentuh permukaan.

Tauhid adalah akar. Psikologi adalah cabang. Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Menjadikan Tauhid sebagai Ruang Aman Jiwa

Di tengah kampanye mental health yang semakin luas, sudah saatnya pendidikan tauhid dihidupkan kembali secara mendalam dan kontekstual. Aqidatul Awam tidak cukup diajarkan untuk dihafal, tetapi perlu dijelaskan relevansinya terhadap kecemasan, tekanan sosial, dan krisis identitas generasi muda.

Ketika tauhid menjadi kesadaran hidup, jiwa memiliki tempat kembali. Hati memiliki sandaran tetap. Pikiran memiliki kerangka yang kokoh.

Mental health dalam perspektif Islam bukan sekadar bebas dari gangguan, melainkan hadirnya ketenangan (sakinah) yang lahir dari keyakinan.

Dan keyakinan itu bermula dari mengenal Allah—sebagaimana diajarkan dalam bait-bait sederhana namun mendalam dalam Aqidatul Awam. (*)