“Ya sangat membantu, lebih murah kan. Kalau di pasar (ayam) 36 (ribu), gulanya 17 (ribu). Jadi membantu sedikit untuk persiapan nanti lebaran,” tutur Siti.
Sementara itu, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, yang meninjau langsung lokasi menegaskan bahwa pasar murah ini adalah langkah strategis stabilisasi harga di tengah fluktuasi pasar. Pemprov Jatim sengaja mematok harga jauh di bawah rata-rata, seperti daging ayam seharga Rp30.000 dari harga pasar Rp42.000, hingga cabai rawit yang dibanderol Rp40.000 per kilogram.
“Jadi penjangkauan pasar murah ini upaya untuk pengendalian inflasi sekaligus stabilisasi harga,” kata Khofifah.
Ia juga memastikan lokasi pasar murah tidak berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak mematikan ekonomi pedagang lokal.
“Saya selalu sampaikan, jangan berdekatan dengan pasar tradisional karena ini bukan kompetitor pasar tradisional,” tegasnya.
Melalui sinergi dengan Bank Indonesia melalui mobil EPIC (Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota), Pemprov Jatim menjamin stok pangan dalam kondisi aman. Empat kunci utama yakni ketersediaan stok, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, menjadi pegangan pemerintah agar warga seperti Musiyam dan Siti Sundari tak perlu lagi cemas saat menghadapi Idulfitri.
“Empat ini sebetulnya kunci proses pengendalian inflasi,” pungkas Khofifah. (*)





