Sementara itu, Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa (Gus Barra), menyampaikan perkembangan kondisi para siswa terdampak. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, total kumulatif terdapat 411 pasien yang telah mendapatkan penanganan medis.
“Pemkab Mojokerto sudah bergerak cepat dengan mendirikan posko penanganan sejak peristiwa tersebut baik di Pondok Pesantren Annur, Kutorejo, yang menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak,”terang Gus Barra, Kamis (15/1/2026).
Gus Barra menjelaskan, lonjakan kasus terjadi secara bertahap. Pada 11 Januari tercatat 260 pasien, meningkat menjadi 384 pasien pada 12 Januari, kemudian 404 pasien pada 13 Januari. Dijelaskan pada Rabu (14/1/2026) masih ada tambahan 7 pasien dengan gejala serupa messki jeda menkonsumsumsinya sudah lebih dar 2 X 24 jam, sehingga total kumulatif mencapai 411 korban.
Sedangkan pada hari Kamis (15/1/2026) pagi ini, pemerintah daerah menutup penerimaan pasien baru dengan gejala serupa karena masa inkubasi medis telah dinyatakan berakhir.
“Dari total 411 pasien, sebanyak 334 orang telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang, sementara 77 pasien lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit,” jelas Gus Barra, didampingi Kadinkes, Dyan Anggrahini dikonfirmasi, Kamis (15/1/2026).
Ditegaskan Pemkab Mojokerto menjamin seluruh biaya pengobatan korban yang merupakan warga Kabupaten Mojokerto melalui program Universal Health Coverage (UHC) Prioritas.
Sementara itu, untuk santri dari luar daerah seperti Sidoarjo dan Jombang, koordinasi pembiayaan akan diteruskan kepada BGN.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto kini mempercepat proses kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Bergizi (SPPBG). Dari total 77 SPPBG, baru 11 unit yang telah memiliki SLHS.
Pemerintah juga terus melakukan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL), termasuk pengujian saluran air, fasilitas cuci tangan, hingga higienitas tempat pengolahan makanan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi. “Saat ini, sampel makanan masih dalam proses analisis laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan,”pungkas Kadinkes Kab. Mojokerto.(*)





