“Maka, Jawa Timur merupakan salah satu lumbung jagung terbesar di Indonesia karena kontribusi produksi kita sangat signifikan terhadap kebutuhan nasional. Insya Allah, ke depan, kita tetap akan jadi penguat bagi swasembada pangan,” jelasnya.
Gubernur Khofifah menegaskan, Jawa Timur tidak hanya fokus pada penanaman, tapi juga memastikan hasilnya memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi petani.
“Konsen utama kita selalu petani. Apapun yang kita lakukan, itu pasti memikirkan petani. Maka dari itu, Alhamdulillah menurut BPS, NTP Jawa Timur pada bulan Desember 2025 lalu mencapai 118,96. NTP ini naik sebesar 3,95 persen, yang menjadikan kenaikan kita merupakan kenaikan tertinggi di Pulau Jawa,” terangnya.
Hal ini, tutur Gubernur Khofifah, tentu
menunjukkan posisi yang sangat kuat dan kesejahteraan petani di Jawa Timur. Ini juga menjadi indikator positif pendapatan petani yang terus meningkat dan semakin membaik.
Lebih jauh, mantan Menteri Sosial RI itu memaparkan bahwa produksi jagung dengan kadar air 14% diproyeksikan mencapai 5.445.158 ton dan 89.820 ton untuk kebutuhan konsumsi jagung pada 2026.
Proyeksi kebutuhan pakan ternak pada 2026 diprediksi 4.152.060 ton dan potensi surplus jagung 2026 diprediksi mencapai 1.203.818 ton.
“Jagung ini komoditas strategis karena jagung bukan hanya bahan pangan, tetapi juga pakan yang menopang sektor peternakan dan agribisnis lainnya. Sehingga, kalau kita bisa bertahan dalam swasembada pangan dengan jagung ini, insya Allah kualitas ternak kita juga ikut meningkat. Terimakasih kepada jajaran POLR khususnya Kapolda Jawa Timur yang sudah menguatkan produksi jagung di Jawa Timur,” pungkasnya. (*)





