SURABAYA, Wartatransparansi.com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima anugerah tertinggi Tunjung Wiyata Jati dari Komisi Informasi Provinsi Jawa Timur pada Malam Anugerah Keterbukaan Informasi Publik (KI Awards) 2025 yang digelar di Hotel Aston Bojonegoro, Sabtu (29/11).
Penghargaan ini diserahkan oleh Ketua Komisi Informasi Jawa Timur Edi Purwanto dan diterima Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim Sherlita Dewi Agustin yang mewakili Gubernur Khofifah.
Atas penganugerahan tersebut, Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi dan menegaskan bahwa penghargaan ini menjadi penyemangat bagi seluruh jajaran Pemprov Jatim untuk terus meningkatkan kinerja, terutama dalam menghadirkan layanan publik yang transparan, adaptif, dan berdampak.
“InsyaAllah ini akan menjadi motivasi bagi kami untuk bekerja lebih baik lagi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Khofifah menekankan bahwa budaya transparansi serta ekosistem digital merupakan fondasi penting untuk mewujudkan Jawa Timur yang smart, inklusif, dan berdaya. Keterbukaan, akurasi, dan akuntabilitas, menurutnya, adalah karakter kerja yang harus terus dijaga oleh setiap instansi pemerintah.
“Budaya transparansi, keterbukaan dan ekosistem digital harus terus dilakukan karena ini adalah upaya kita bersama mewujudkan Jawa Timur yang smart, inklusif dan berdaya,” katanya.
“Ini menjadi kunci bahwa pemerintah provinsi terus berusaha mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan dan dejat dengan rakyat,” imbuh Khofifah.
Khofifah juga menyoroti pentingnya ekosistem digital sebagai kekuatan baru dalam pelayanan publik. Digitalisasi, kata Khofifah, membuat layanan pemerintah semakin cepat, mudah diakses, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satu contohnya adalah layanan TransJatim yang kini semakin terintegrasi dengan aplikasi TransJatim Ajaib dan pembayaran digital via QRIS.
“Mobilitas masyarakat di wilayah Gerbangkertasusila terbantu dengan TransJatim, mereka bisa mengakses informasi kapan TransJatim akan sampai di titik mereka lewat aplikasi TransJatim Ajaib, membayar juga bisa dilakukan dengan QRIS, dengan harga yang terjangkau,” jelasnya.
“Saat ini kami tengah mengembangkan di wilayah Malang Raya baru saja dilaunching, ini koridor satu Malang Raya tapi sesungguhnya koridor kedelapan,” imbuhnya.
Khofifah menegaskan bahwa keberlanjutan transformasi digital dan keterbukaan informasi membutuhkan SDM pemerintah yang unggul, adaptif, dan siap berubah mengikuti dinamika zaman.
“Tentu _support_ dari seluruh aparatur menjadi penting, karena implementasi ini juga melibatkan para aparatur,” ucapnya.
Sementara itu Ketua Komisi Informasi Jawa Timur, Edi Purwanto menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
“Penganugerahan Tunjung Wiyata Jati ini adalah pengakuan atas kepemimpinan Ibu Gubernur yang secara konsisten membuka ruang terang dan menembus ruang-ruang temaram dalam pelayanan publik,” katanya.
Edi menjelaskan bahwa gelar ini merangkum filosofi kepemimpinan Gubernur Khofifah. Tunjung memiliki arti bunga teratai yang mekar di atas lumpur, melambangkan kemurnian niat dan keteguhan dalam menghadapi tantangan. Wiyata, bermakna pembelajaran tanpa henti, simbol kecerdasan dan kebijaksanaan yang terus tumbuh bersama zaman.
Kemudian Jati mengandung makna keaslian dan keteguhan jati diri, menegaskan integritas yang menjadi dasar setiap keputusan dan kebijakan.
“Beliau adalah sosok yang menjiwai filosofi ini, dengan keteguhan niat, kecerdasan dalam merangkai solusi, dan integritas yang tak tergoyahkan, yang telah menuntun Jawa Timur menuju masa depan yang lebih bermartabat,” pungkasnya. (djoko)





