Minggu, 5 Februari 2023
26 C
Surabaya
More
    OpiniPiala Dunia 2022 dan Yakjuj dan Makjuj

    Piala Dunia 2022 dan Yakjuj dan Makjuj

    Oleh Anwar Hudijono

    Qatar tak gentar. Betapapun tekanan bertubi-tubi agar mau menerima LGBT di Piala Dunia 2022.

    Tekanan pertama dari dilakukan secara ekonomi. Kalangan pebisnis pendukung LGBT mengancam tidak akan ikut sponsor. Tapi Qatar tak takut karena duitnya sudah lebih dari cukup. Mampu menggelar Piala Dunia terbesar sepanjang masa. Apalagi perusahaan-perusahaan China justru yang ambil bagian terbesar. China adalah negara anti LGBT.

    Tekanan kedua secara politik. Amerika Serikat dan gengnya terus menerus menekan Qatar agar mau mengakomodasi LGBT. Mulai ditakut-takuti ancaman teroris, serangan Iran dan sebagainya. Soal HAM.

    Qatar tetap tegar. Lebih takut kepada Allah dari pada Amerika dan gengnya.

    Tekanan ketiga, melalui media massa. Media mainstream maupun media sosial Barat, termasuk kantor berita dunia terkemuka BBC, tak henti-hentinya menyerang Qatar. Melakukan pelbagai disinformasi. Menyebar hox. Misalnya Qatar dituduh melakukan diskriminasi terhadap golongan LGBT. Ribuan tenaga kerja imigran mati saat membangun infrastruktur Piala Dunia. Penuh korupsi.

    Modus media Barat itu persis bagaimana mengkampanyekan Islamphobia. Russophobia (fobia terhadap Rusia).

    Perkumpulan rahasia

    Ada kekuatan dahsyat di belakang tekanan-tekanan yang dilakukan secara sistematis, massif. Kekuatan kelompok rahasia. Persis yang dikatakan Dan Brown dalam bukunya The Da Vincy Code. “Banyak peristiwa besar yang dikendalikan oleh perkumpulan rahasia.”

    Demikian pula gerakan LGBT global ini, saya haqqul yaqin, pasti ada yang menggerakkan. Penggeraknya bukan kekuatan kaleng-kaleng.Betapa tidak, hanya dalam waktu sekitar 22 tahun sudah puluhan negara yang melegalkan LGBT. LGBT merajalela di Eropa, Amerika, Kanada, Amerika Latin. Kini sudah merambah Asia yaitu Taiwan.

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Siapa aktor rahasia (dalang) di belakangnya? Saya haqqul yaqin adalah Yakjuk dan Makjuj. Jejak Yakjuj dan Makjuj tidak akan bisa dikenali secara fisik. Sesuai Hadits, ketika mereka keluar dari tembok Zulkarnain, mereka berbaur. Artinya menghilangkan jejak. Masuk ke dunia rahasia.

    Cara mengenali Yakjuj dan Makjuj adalah perbuatannya. Tabiatnya. Yaitu melakukan kerusakan di atas bumi. Quran memberi petunjuk bahwa LGBT itu didalangi Yakjuj dan Makjuj adalah dengan memberikan kesamaan yaitu sebagai “mufsidun” (golongan perusak).

    “Mereka berkata ,”Wahai Zulkarnain. Sungguh Yakjuj dan Makjuj itu mufsiduna fil ardhi (sekelompok manusia) berbuat kerusakan di bumi.” (Quran, Kahfi 94).

    LGBT atau juga disebut kaum sodom dan gomoroh atau kaum muktafikah (yang tempatnya dijungkirbalikkan), juga termasuk mufsidun.

    “Dia (Luth) berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan mufsidun (yang berbuat kerusakan) itu.” (Quran, Al Ankabut 30).

    Zaman Nabi Luth

    Sebagai negara Islam, Qatar tahu persis LGBT itu dilarang keras oleh Allah. Mereka ini pertama kali muncul di dunia pada zaman Nabi Luth. Dan Allah sudah membinaskan mereka.

    “Maka ketika keputusan Kami datang, Kami menjungkir-balikkan negeri kaum Luth, dan Kami hujani mereka bertubi-tubi dengan batu dari tanah yang terbakar.” (Quran, Hud, 82).

    Qatar tahu persis kisah umat Luth di Quran itu bukan dongeng melainkan peringatan untuk kapan saja dan di mana saja. Dan hukum Allah itu kekal dan pasti terjadi.

    “Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (Quran, Al Baqarah 66).

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Qatar tenang-tenang saja menghadapi serangan media Barat secara membuta-babi eh .. membabi buta. Istilah Jawa: sik betah tunggak timbang gagak (masih betah tunggak kayu daripada gagak yang kaok-kaok).

    Qatar sangat mafhum bahwa caci maki, ujaran kebencian, menyerang dengan hoax, mencela, menfitnah itu adalah salah senjata golongan mufsidun dan sejenisnya seperti buzzer.

    “…maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum. Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya. Bersikap lemah lembut terhadap orang-oang yang beriman, tetapi bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela…” (Quran, Al Maidah 54).

    Yang mencak-mencak membela Qatar adalah Presiden FIFA Gianni Infatino. “Media Barat munafik. Menuntut orang lain menghormati budaya Barat tetapi tidak mau menghormati budaya orang lain.”

    Cukup sekali bagi Qatar memberi penjelasan. Setelah itu diam. Lebih baik menunjukkan dengan bukti, bukan dengan pernyataan sampai mulut berbusa-busa dan mata mendelik-delik.

    “Kami tidak menolak penganut LGBT datang menyaksikan Piala Dunia. Silakan datang. Tapi jangan melakukan praktik LGBT di negara kami. Jangan melakukan kampanye dan propaganda.

    “Kami menghormati setiap tamu yang datang tanpa pandang bulu. Karena itu ajaran Rasulullah kami, bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah menghormati tamunya.”

    “Tapi tolong para tamu juga menghormati budaya kami. Masyarakat kami. Masyarakat dan budaya kami menolak LGBT,” kata utusan Qatar dalam rapat FIFA.

    Baca juga :  Tantangan Pendidikan Filsafat dan Perlunya Polisi Berkarakter 

    Timnas Jerman

    Qatar konsisten dengan sikapnya. Tidak model kok pagi kedele sore tempe malamnya jadi mendolan. Contoh sikapnya terhadap Timnas Jerman.

    Timnas Jerman datang ke Qatar dengan membawa dua misi. Pertama, merebut juara dunia untuk kelima kalinya. Kedua, melakukan propaganda LGBT. Qatar tetap melayani Jerman seperti terhadap tim-tim lain. Tim umumnya naik bus ke stadion, Jerman juga naik bus. Tidak kok dinaikkan truk atau colt tepak. Suporter Jerman pun ditawari makanan sedekah seperti kepada suporter yang lain.

    Tetapi ketika Jerman hendak melakukan misi kedua dengan memasang simbol-simbol kaum sodom dan gomoroh, Qatar dengan tegas menentang.

    Syukurlah kedua misi Jerman berantakan. Jerman harus pulang pagi-pagi setelah tidak lolos grup. Misi propagandanya seperti hendak mengenakan pita pelangi di lengan ditolak FIFA. Jerman harus pulang dengan muka kecut, kepala ditekuk seperti unta. Untungnya tidak pulang tidur di gardu bantal kentongan. Qatar mengantar kepulangan Jerman tetap dengan sikap hormat.

    Dan Qatar telah mengglobalkan konsep dasar hubungan manusia yang didasarkan Quran Surah Hujurat 13.

    “Wahai manusia. Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamju berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah di antara kamu ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Maha Teliti.”

    Konsep dasar ini merupakan antitesis dari konsepnya Yakjuj dan Makjuj yang melakukan penindasan sesama manusia, diskriminasi, pembersihan etnis dan genocide melalui penghentikan reproduksi manusia, perdagangan manusia, perbudakan, menggelapkan hati manusia.

    Rabbi a’lam (Tuhan Mata Tahu).

    *) Penulis adalah wartawan senior tinggal di Sidoarjo.

    Penulis : Anwar Hudijono

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan