Selasa, 16 Agustus 2022
27 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiMeluruskan Berita Hoaks Kaum Musyrikin Quraisy

    Meluruskan Berita Hoaks Kaum Musyrikin Quraisy

    Catatan HS. Makin Rahmat

    HAMPIR setiap tahun memasuki bulan haji (Syawal, Dzuqo’dah, Dzulhijjah), umat muslim di seluruh jagad disibukkan dengan aktifitas ibadah mempersiapkan diri memenuhi panggilan ibadah haji ke Makkatul Mukaromah dan melaksanakan kurban di hari Raya Idul Adha (10 Dzlhijjah) dan hari Tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).

    Dan, yang mendasari perintah berkurban, adalah firman Allah SWT, QS Al-Kautsar: Innaa a’thoinaa kal kautsar (1). Fasholli lirobbika wanhar (2). Inna syaani-aka huwal abtar (3). Artinya : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak (1). Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (2). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (3).

    Setelah penulis ngaji ke beberapa Kiai dan Gus dengan sumber berbagai kitab tafsir, tentu semakin menarik untuk ditelaah, baik dari perbedaan pendapat ulama tentang turunnya surat Al Kautsar dan riwayat turunnya (asbabun nuzul). Semoga kita selalu mendapat ridlo Allah, syafaat dari Rasulullah SAW, dan syafaat dari Al-Quran sebagai firman-firman Allah yang tidak diragukan kesucian dan kebenarannya.

    Menurut Ibnu Muzir bersumber dari Ibnu Juraij bahwa Surah Al-kautsar diturunkan terkait kematian putra Nabi bernama Ibrahim. Dengan kematian putranya tersebut, beliau tidak lagi memiliki anak laki-laki. Hal tersebut mengundang kaum musyrikin Quraisy untuk menyebarkan berita hoaks tentang beliau.

    Orang kafir Quraisy mengatakan “Bataru Muhammad” (Muhammad telah terputus keturunannya) ucapan ini sempat membuat hatinya baginda gelisah. Dan untuk menghiburnya Allah SWT menurunkan surah Al-Kautsar.

    Ditambahkan dari riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik RA, terkait asbabun nuzul Surat Al Kautsar. Ternyata, ada sahabat yang menyaksikan baginda Rasulullah menundukkan kepalanya sejenak lalu beliau mengangkat kepalanya seraya tersenyum. Para sahabat bertanya, “Mengapa engkau tersenyum ya Rasulullah?” Maka Rasulullah menjawab; “Sesungguhnya telah diturunkan kepadaku suatu surat.” Lalu beliau membaca Surat Al Kautsar. “Tahukah kalian apakah Al Kautsar itu?”
    Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Lantas Rasulullah SAW bersabda: Al Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga. Padanya terdapat kebaikan yang baik. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat.

    Jumlah wadah-wadah (bejana-bejana)nya sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat-buatnya sesudahmu.” (HR. Ahmad; shahih)
    Dari hadits tersebut ulama berpendapat bahwa Surat Al Kautsar turun di Madinah, karena Anas bin Malik RA baru masuk Islam ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

    Sedangkan pada hadits berikut ini terjadi di kota Makkah. Sebab turunnya Surat Al Kautsar dalam buku “Asbabun Nuzul: Sebab-Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an” halaman 616, karya Imam As-Sayuthi, dituliskan hadits yang berasal dari Ibnu Katsir (6/395), Al-Quthubi (10/7679), Ibnu Jarir (30/212)
    “Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari As-Suddi, ia mengatakan; Dahulu orang-orang Quraisy ketika ada anak laki-laki seseorang meninggal dunia, maka mereka mengatakan, “Telah terputus keturunan si Fulan.” Maka ketika putra Nabi salallahu ‘alaihi wasalam meninggal dunia, maka Al-Ash bin Wa’il berkata; “Telah terputus keturunan Muhammad.” Maka turunlah ayat tersebut.”
    Pengakuan Ibnu Abi Syaibah bersumber dari Ikrimah menjelaskan bahwa sebab turunnya surah Al-Kautsar ketika, Ka’ab bin Astraf (pemimpin yahudi Madinah) datang ke Mekah. Orang kafit quraisy bertanya kepadanya.

    “Tuan adalah pemimpin orang Madinah, Bagaimana pendapat tuan tentang si pura-pura sabar (Muhammad) yang diasingkan oleh kaumnya, yang menganggap dirinya mulia dari pada kita ? padahal, kita yang menyambut orang-orang yang melaksanakan jamaah haji dan pemberi minuman orang ka’bah”. Ka’ab menjawab, “Kalian lebih mulia dari padanya”. Pada saat itulah turun surah Al-Kautsar.

    Berdasarkan asbabun nuzul ini, sebagian ulama berpendapat surat Al Kautsar adalah madaniyah. Karena Anas bin Malik masuk Islam setelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Namun ada pula yang berpendapat, surat ini turun di Makkah, lalu diturunkan lagi di Madinah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya tidak memastikan apakah Al Kautsar ini makkiyah atau madaniyah.

    Asbabun nuzul yang lain, surat ini turun berkenaan dengan Ash bin Wail. Dia menghina Rasulullah sebagai abtar (terputus) karena putra beliau meninggal sehingga nasabnya terputus. Lalu Allah menurunkan surat ini memberitakan bahwa Ash bin Wail yang telah memusuhi Rasulullah itulah yang abtar. Peristiwa itu terjadi di Makkah sehingga menjadi hujjah bahwa surat ini merupakan surat Makkiyah.

    Subyektif al faqir, Allah telah memberikan nikmat luar biasa kepada baginda Muhammad dan umatnya yang teguh dalam pendirian iman serta melaksanakan ibadah karena Allah. Sebaliknya, siapa yang mengingkari dan menebar isu, kebohongan, serta kebencian akan menuai azab.

    Fakta nyata dialami Ash bin Wail yang suka menghina Rasulullah “biarkan dia, sesungguhnya dia abtar” akhirnya justru menjadi orang abtar karena semua anaknya mati. Ia juga abtar karena terputus dari sejarah, namanya tidak dikenal kecuali dengan kejelekan. Juga abtar karena terputus dari nikmat Allah.
    Para pembenci Nabi pasti abtar sebagaimana ayat ini, walaupun ia punya anak banyak. Walid bin Mughirah yang membenci Nabi, ia punya sebelas anak.

    Tapi anaknya tidak melanjutkan misi dan pandangan Walid sehingga ia bisa disebut abtar. Terputus dari keturunannya dan terputus pula dari kebajikan. Orang yang abtar, jika dihubungkan dengan Al Kautsar yang bermakna telaga surga, ia juga tidak akan bisa meminum dari sana.

    Quran Surat Al Kautsar menjelaskan bahwa Allah memberikan nikmat banyak kepada Rasulullah. Diantara nikmat banyak itu, Allah memberikan keturunan yang banyak kepada Rasulullah dan telaga kautsar di surga nanti. Surat ini memberikan arahan (Taujih Rabbani) agar Rasulullah mensyukuri nikmat itu dengan shalat dan berkurban. Shalat yang semata-mata karena Allah dan berkurban juga untuk Allah.
    Yang jelas, tanpa diragukan surat ini merupakan mukjizat Allah SWT. Bukti kebenaran Rasulullah.

    Bahwa siapapun yang membenci Rasulullah, dia akan terputus dari kebaikan dan rahmat Allah. Di dunia, mereka terputus dari rahmat Allah dan terputus dari keturunannya, sedangkan di akhirat kelak mereka tidak bisa minum dari telaga kautsar.

    Semoga dari catatan ini, semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah serta memotivasi kita untuk mendirikan shalat dan berkurban. Wallahu a’lam bish shawab. (*)

    *) Penulis adalah Jurnalis dan Advokat

    Reporter :

    Penulis :

    Editor :

    Redaktur :

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan