Rabu, 22 September 2021
33 C
Surabaya
More
    Opini“Kuburan” Politik Puan Maharani

    “Kuburan” Politik Puan Maharani

    Oleh: Edi Sudarjat (Analis Politik dan Media)

    Alih-alih menganalisis, mengkaji strategi, dan taktik baru, untuk mengangkat popularitas, favorabilitas, dan elektabilitas Puan Maharani (PM), tim kampanye PM justru bersikeras bahwa “banjir” baliho PM telah berhasil meningkatkan popularitasnya. Mereka mengabaikan reaksi negatif yang cukup keras dari publik, tokoh masyarakat, media massa dan media sosial (medsos).

    Kanal https://www.youtube.com/watch?v=kQlZBSk6vy0 IDN Times, misalnya, menampilkan gambar berjalan (_slide_) yang menjelaskan baliho PM berhasil menggerek popularitasnya di media sosial (medsos). Berkat “banjir” baliho itu popularitas PM setara dengan Ridwan Kamil, bahkan mendekati Ganjar Pranowo.

    Untuk menopang argumennya, tim kampanye PM, mengutip analisis twitter @ismailfahmi, pada 8/8/2021, salah seorang pendiri laman Drone Emprit, (https://twitter.com/ismailfahmi/status/1424214419806986246/photo/1).

    Yang lucu, tim kampanye PM tidak menjelaskan keterangan dari @ismailfahmi bahwa _PM makin populer, lewat baliho yang banyak disindir dan jadi meme netizen_. Juga keterangan bahwa _populer saja tidak cukup, apalagi populer karena hal yang negatif dan tidak ada positifnya. Harus ada bukti kerja dan prestasi yang bisa digunakan untuk menaikkan tren_.

    Baca juga :  PMI Bergerak Bersama Untuk Sesama

    Dari keterangan tersebut semestinya tim kampanye PM menyadari bahwa popularitas dengan sentimen negatif yang meninggi, akan merusak favorabilitas dan elektabilitas PM.

    Dengan bahasa sederhana, dapat dikatakan: PM memang makin populer, tapi makin tidak disukai. Ujung-ujungnya, dukungan kepada PM dan tingkat keterpilihannya, tidak akan naik.

    Mengapa Demikian?

    Karena “banjir” baliho hanya efektif, dengan syarat keadaan masyarakat normal; sebagai kami sampaikan pada kolom yang lalu (“_Banjir” Baliho Capres RI 2024: Menggali Kuburan Sendiri_”). “Banjir” baliho akan meningkatkan popularitas dengan sentimen positif—atau setidak-tidaknya netral; bukan negatif—asalkan masyarakat tidak dalam kondisi kesusahan sebagaimana terjadi setahun belakangan ini.

    Tatkala masyarakat makin kepayahan dalam sebulan terakhir ini, gambar-gambar besar berwajah manis di berbagai baliho itu akan tampak menyebalkan. Bersikeras “membanjiri” ruang terbuka dengan baliho merupakan “kuburan” politik bagi PM.

    Baca juga :  PMI Bergerak Bersama Untuk Sesama

    Dalam sebulan ini jumlah penderita Covid-19 dan tingkat kematian harian di Indonesia sempat menduduki posisi tertinggi di dunia. Rumah sakit di berbagai kota sempat tidak sanggup menerima pasien; tabung oksigen sulit didapat.

    Sejumlah sektor usaha tidak dapat beroperasi normal di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sejumlah besar anggota masyarakat jungkir balik untuk memenuhi kebutuhan primer keluarganya.

    _Nah_, siapapun yang ingin meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya (baik sebagai calon presiden 2024, kepala daerah, atau anggota legislatif) harus menjawab kebutuhan mendesak masyarakat tersebut. Harus ada aksi nyata membantu masyarakat.

    Tentu aksi nyata itu tidak melulu berarti menyebar “logistik” kampanye alias tebar uang. Dengan dana setara satu baliho besar di tepi jalan di suatu kota, misalnya, dapat disusun aksi nyata, yakni membentuk satuan tugas (Satgas) dari pengurus atau sayap partai untuk membantu masyarakat.

    Baca juga :  PMI Bergerak Bersama Untuk Sesama

    Aksi tersebut bisa berupa penyediaan informasi bagaimana penanganan Covid-19 yang efektif & efisien; informasi rumah sakit yang masih bisa menampung pasien; informasi depot pengisian tabung oksigen yang siap pakai; dan sejumlah aksi lainnya.

    Peningkatan elektabilitas Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil dalam setahun terakhir, tidak terlepas dari sorotan media yang terus-menerus terhadap kerja-kerja mereka menangani pandemi Covid-19. Kinerja keduanya dipandang positif. Alhasil popularitas, favorabilitas, dan elektabilitas mereka terangkat.

    Dari fenomena tersebut, tim kampanye PM mesti lebih kreatif menciptakan aksi yang menghasilkan simpati, bukan bersikeras, lantas menyebar kampanye tandingan bahwa baliho merupakan alat kampanye yang efektif dan efisien. Pasalnya, di zaman tidak normal, “banjir” baliho akan menjadi “kuburan” politik bagi para pemasangnya. (*)

    Reporter :
    Penulis : Edy Sudarjat
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan