Senin, 21 Juni 2021
25 C
Surabaya
More
    Pojok TransparansiNama Kota Sejarah Lama, Pasar Ternama seperti Lupa

    Nama Kota Sejarah Lama, Pasar Ternama seperti Lupa

    Oleh : Djoko Tetuko, Pemimpin Redaksi Wartatransparansi

    Refleksi HJKS ke 728 (2)

    Kota Surabaya memang lebih lama dari hari jadi sekarang ini. Tetapi semua karena permasalahan catatan sejarah. Apalagi sejarah lama dengan penguatan dan tetenger sesuai dengan kemauan penguasa ketika itu.

    Kota Surabaya dengan luas sekitar ±326,81 km², dan 3.158.943 jiwa penduduk pada tahun 2019. Daerah Metropolitan Surabaya yaitu Gerbangkertosusila yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa, adalah kawasan Metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabodetabek. Surabaya dan wilayah Gerbangkertosusila dilayani oleh sebuah bandar udara, yakni Bandar Udara Internasional Juanda yang berada 20 km di sebelah selatan kota,

    Pasar lama dengan sejarah cukup ternama. Bahkan sampai di ujung dunia, kini hampir sudah lupa dari hiruk pikuk keramaian, atau tujuan utama warga kota. Pasar Turi masih mangkrak karena sengketa pengelola.

    Pasar Genteng, Pasar Wonokromo, Pasar Blauran, bukan lagi pasar tradisional ternama dan populer, seperti ketika masih zaman keemasan. Semua berubah karena tuntutan zaman, atau karena kemajuan zaman dan tekonologi. Juga pertumbuhan pasar modern, sehingga seperti semua jadi lupa.

    Baca juga :  Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

    Jadilah pasar tradisional ternama zaman lama, sudah hampir terlupakan. Karena Pasar Tambakrejo dengan konsep modeenisasi menjadi “Pasar Mall”, demikian juga Pasar Wonokromo seperti sudah kehilangan pamor. Nama tetap ada, tetapi keramaian tidak seperti harapan.

    Surabaya memang terkenal dengan Kota Pelabuhan karena sejak zaman Kerajaan Majapahit menjadi pintu utama masuk dari transportasi perairan laut. Hingga sekarang memiliki dua pelabuhan, yakni Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Ujung.

    Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena begitu kental dengan
    perjuangan Arek-Arek Suroboyo (remaja dan pemuda Surabaya) dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dari serangan penjajah.

    Sejarah Kota Surabaya secara
    Etimologi
    Kata Surabaya (bahasa Jawa Kuno: Surabhaya) sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air.

    Baca juga :  Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

    Selain itu, dari kata Surabaya juga muncul mitos pertempuran antara ikan sura/suro (ikan hiu) dan baya/boyo (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut.

    Asal usul Surabaya
    Bukti sejarah menunjukkan bahwa Surabaya sudah ada jauh sebelum zaman kolonial, seperti yang tercantum dalam prasasti Trowulan I, berangka 1358 M. Dalam prasasti tersebut terungkap bahwa Surabaya (Churabhaya) masih berupa desa di tepi sungai Brantas dan juga sebagai salah satu tempat penyeberangan penting sepanjang daerah aliran sungai Brantas.

    Surabaya juga tercantum dalam pujasastra Kakawin Nagarakretagama yang ditulis oleh Empu Prapañca yang bercerita tentang perjalanan pesiar Raja Hayam Wuruk pada tahun 1365 M dalam pupuh XVII (bait ke-5, baris terakhir).

    Surabaya pendapat budayawan Surabaya berkebangsaan Jerman Von Faber, wilayah Surabaya didirikan tahun 1275 M oleh Raja Kertanegara sebagai tempat permukiman baru bagi para prajuritnya yang berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan pada tahun 1270 M. Pendapat lain mengatakan bahwa Surabaya dahulu merupakan sebuah daerah yang bernama Ujung Galuh.

    Baca juga :  Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

    Sumber berbeda menyebutkan, Surabaya berasal dari cerita tentang perkelahian hidup-mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling.

    Peperangan itu berakhir. Konon, setelah mengalahkan pasukan Kekaisaran Mongol utusan Kubilai Khan atau yang dikenal dengan pasukan Tartar, Raden Wijaya mendirikan sebuah keraton di daerah Ujung Galuh dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama karena menguasai ilmu buaya, Jayengrono semakin kuat dan mandiri sehingga mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit. Untuk menaklukkan Jayengrono, maka diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu sura.

    Adu kesaktian dilakukan di pinggir Kali Mas, di wilayah Peneleh. Perkelahian itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dan berakhir dengan tragis, karena keduanya meninggal setelah kehilangan tenaga.

    Nama Surabhaya sendiri dikukuhkan sebagai nama resmi pada abad ke-14 oleh penguasa Ujung Galuh, Arya Lembu Sora. (Jt/bbs/bersambung)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan