Kamis, 23 September 2021
32 C
Surabaya
More
    OpiniIdulfitri, Agungkan Nama Allah, Muliakan Ciptaan-Nya

    Idulfitri, Agungkan Nama Allah, Muliakan Ciptaan-Nya

    Oleh M Fuad Nasar

    Seiring alunan azan Subuh di ketenangan pagi 1 Syawal, umat Islam di seluruh dunia menyambut Idulfitri, hari kemenangan. Idulfitri menandai selesainya ibadah puasa Ramadan dan dimulainya perjuangan menegakkan nilai-nilai ibadah puasa dalam kehidupan nyata.

    Semenjak bada Magrib pada hari terakhir puasa Ramadan, kalimat takbir telah bergema bersahut-sahutan dari masjid ke masjid, dari musalla ke musalla, di setiap lingkungan muslim.

    Dalam keadaan bagaimana pun, setiap datangnya Idulfitri, seperti saat ini kita berhari raya dalam suasana kekhawatiran terhadap risiko penyebaran virus global Covid 19. Namun, sesuai tuntunan Al Quran dan Sunnah, hari Idulfitri yang penuh kemuliaan tetap disambut dengan sikap ruhani yang positif dan kegembiraan.

    Idulfitri adalah hari besar yang dimuliakan Allah SWT sebagai salah satu lambang kebesaran agama yang diridai-Nya. Ada dua hari raya dalam Islam yang diperintahkan manusia merayakannya, yaitu Idulfitri 1 Syawal dan Iduladha 10 Dzulhijjah yang disebut juga Hari Raya Haji.

    Di hari ini umat Islam mengumandangkan kalimat Takbir membesarkan Allah Yang Maha Agung, kalimat Tauhid mengesakan Allah Yang Maha Kuasa, dan kalimat Tahmid mensyukuri nikmat Allah Yang Maha Kaya. Allah berfirman, Dia menghendaki agar anda menyempurnakan hari puasa yang telah ditentukan, dan bertakbirlah mengagungkan nama Allah atas petunjuk-Nya. Dan kiranya anda bersyukur. (QS Al-Baqarah [2]: 185).

    Mengagungkan asma (nama) Allah dan memuliakan sesama ciptaan-Nya merupakan dua dimensi perilaku yang tidak terpisahkan dari spirit Idulfitri. Setelah menjalani shaum (puasa) selama satu bulan (29 atau 30 hari) sebagai sarana penyucian jiwa dan pengendalian diri, diharapkan terbentuk pribadi muslim yang bertakwa sesuai dengan tujuan puasa dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 183.

    Orang yang bertakwa pasti memuliakan sesama ciptaan-Nya karena Allah. Pribadi muttaqin menghargai setiap manusia walaupun berbeda pendapat dan keyakinan. Orang yang takwa mempunyai sikap istiqamah, berpihak pada nilai-nilai kebenaran dan keadilan di mana pun dan dalam posisi apa pun.

    Orang bertakwa selalu merasa terpanggil untuk mendakwahkan Islam sesuai kapasitas ilmu dan kemampuannya sebagaimana pesan Nabi Muhammad SAW, sampaikan kepada manusia apa yang kuajarkan walaupun satu ayat. Setidaknya seorang muslim wajib mendakwahkan Islam melalui akhlak pribadinya yang baik dalam berinteraksi dengan orang lain.

    Seorang muslim yang ikhlas menjalankan ibadah puasa diharapkan bisa memelihara kesucian diri yang diraih dengan perjuangan. Dia tidak mau meruntuhkan nilai-nilai puasa dengan perilaku di luar Ramadan yang bertentangan dengan ajaran agama.

    Pengalaman berpuasa yang dirangkaikan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah menjelang Idulfitri diharapkan menumbuhkan solidaritas sosial dalam rangka membangun masyarakat, umat, bangsa dan bahkan dunia yang lebih baik.

    Hikmah ibadah puasa Ramadan membersihkan diri dari sifat-sifat yang tidak baik dan mengukuhkan pribadi muslim sampai pada derajat takwa. Ibadah Ramadan menggembleng setiap muslim menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan mencintai sesama ciptaan-Nya.

    Pegangan hidup muslim yaitu Al-Quran dan Sunnah harus benar-benar dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim. Kekosongan jiwa manusia dari pegangan hidup akan menyebabkan penderitaan.

    Dalam konteks Idulfitri, sebuah Hadis Rasulullah SAW patut direnungkan, Pemimpin Iblis berteriak-teriak setiap datangnya Hari Raya Idulfitri.

    Berkumpullah anak buahnya. Mereka bertanya; Apakah yang menyebabkan anda marah besar pada hari ini? Pemimpin Iblis itu berkata; Pada hari ini Tuhan telah memberi ampunan kepada orang-orang beriman yang selesai menjalankan ibadah puasa dengan sempurna.

    Maka kalian harus menggoda mereka agar tenggelam dengan hura-hura dan kembali memperturutkan hawa nafsunya sampai Tuhan murka kepada mereka!

    Potret dunia dewasa ini diliputi persoalan kemiskinan dan kesenjangan sosial yang mencolok. Pada tahun 2018 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data lebih dari 821 juta penduduk menderita kelaparan hingga gizi buruk di seluruh dunia. Jumlah tersebut terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Tahun 2020 PBB juga merilis data 265 juta orang penduduk dunia terancam kelaparan akibat pandemi COVID 19.

    Sementara itu ambisi penjajahan, sikap arogan dan agresif suatu bangsa yang ingin menguasai bangsa lain, seperti contoh buruk yang diperlihatkan secara kasat mata oleh zionis Israel terhadap bangsa Palestina, menambah buram sebagian wajah dunia. Umat Islam karena panggilan risalah agamanya harus berdiri paling depan dalam membela kemerdekaan dan hak asasi manusia di mana pun.

    Khalifah Umar bin Khattab pernah menegur seorang gubernur yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat kecil, Sejak kapan anda memperbudak manusia. Padahal mereka dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merdeka.

    Persamaan derajat kemanusiaan dan solidaritas sosial seperti diajarkan dalam Islam merupakan religiosity jenious dan modal sosial yang efektif untuk mendekatkan jurang kesenjangan sosio-ekonomi antara golongan kaya (the have) dan golongan miskin (the have not) serta menyelamatkan kehidupan orang-orang yang menderita.  Senapas dengan semangat beragama, kesenjangan sosial dan ketidakadilan harus dikoreksi dan diperbaiki karena menjadi salah satu sumber disintegrasi sosial bahkan dapat menimbulkan gejolak sosial.

    Selain itu, pemberantasan korupsi harus dimaksimalkan karena korupsi adalah kejahatan yang sangat menyakitkan kemanusiaan dan menambah kesenjangan sosial di setiap negara.  Kemiskinan yang terjadi di negara-negara berkembang tidak lepas dari korupsi yang menggurita.

    Dalam Islam, zakat dan wakaf berfungsi sebagai instrumen redistribusi kekayaan secara adil dan manusiawi. Islam mengajarkan sikap tidak kikir dan tidak berlebih-lebihan dalam menikmati rezeki dari Allah hingga menimbulkan kecemburuan sosial.

    Pesan moral Idulfitri yang diawali dengan membagikan zakat fitrah, mendorong umat Islam memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

    Hubungan manusia dengan Allah harus dilaksanakan berpedoman sepenuhnya pada ketentuan syariat dan hubungan kemanusiaan harus dibangun tanpa sekat-sekat pemisah yang menjauhkan kita dari kebersamaan dan keakraban sosial.

    Ramadan telah berlalu dan kita lepas dengan alunan takbir. Akan tetapi nilai-nilai ibadah puasa sebagai pendidikan (tarbiyah) Ilahi kepada hamba-Nya harus terpatri dalam kehidupan sehari-hari.

    Dewasa ini, kita merasakan gejala arus kehidupan yang mengutamakan materi dan status. Perlombaan mengejar kekayaan dan kedudukan membuat sebagian orang menghalalkan segala cara.

    Manusia seolah tidak dihargai karena ketinggian akhlak, kedalaman ilmu dan keluhuran budi pekertinya, tapi dari kekayaan, jabatan dan keturunannya. Pengaruh materialisme yang mengepung kita dari segenap penjuru akan dapat ditanggulangi dengan keteguhan iman yang dibentuk melalui puasa dan kesadaran imsak (menahan diri).

    Semangat Idulfitri sebagai rekonstruksi mental dan revitalisasi moral, mendorong kita semua kembali pada kesucian asal, kesucian fitrah yang hanif, mencari dan mengikuti kebaikan dan kebenaran.

    Ketakwaan harus tertanam pada setiap diri, yang esensinya menyadari kehadiran Allah SWT dan pengawasan-Nya dalam kehidupan kita. Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada dan melihat apa yang kamu perbuat. (QS Al Hadid {57} : 4)

    Idulfitri hadir mengingatkan umat Islam dan dunia terhadap pentingnya moralitas kemanusiaan yang harus ditegak-hormati serta pilar-pilar kedamaian, kesucian serta kasih sayang yang perlu ditumbuh-kembangkan di tengah masyarakat.

    Dalam menghadapi tantangan kehidupan yang semakin kompleks, pengetahuan tentang agama haruslah berbanding lurus dengan penghayatan dan pengamalan ajaran agama sebagai sikap hidup muslim.

    Umat Islam perlu mengasah kepekaan moral, kepekaan sosial, kepekaan intelektual, kepekaan teknologi dan kepekaan lingkungan di tengah dunia yang mengalami perubahan sangat dinamis.

    Islam mengajarkan prinsip bahwa semua umat manusia dinaungi oleh persaudaraan kemanusiaan yang universal. Persaudaraan kemanusiaan itu harus menumbuhkan sikap saling mengenal (taaruf), menghormati serta melindungi satu sama lain.

    Persaudaraan kosmopolitan mengharuskan umat manusia di mana pun harus hidup saling membantu terutama di saat yang lain menderita atau ditimpa bencana. Kewajiban membantu sesama yang menderita atau ditimpa bencana harus menghormati keyakinan dan identitas agama mereka yang dibantu.

    Mengenang ucapan ulama besar Prof. Dr. Hamka, Islam bukanlah semata-mata hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan masyarakat. Bukan semata-mata ibadat, tetapi mencakup juga bernegara dan bermasyarakat.

    Sejalan dengan itu, para orang tua berkewajiban mewariskan ajaran dan nilai-nilai Islam kepada anak dan generasi penerusnya, sehingga Islam membentuk sikap dan pandangan hidup dalam keluarga secara turun-temurun.

    Janganlah menganggap keberagamaan kita telah sempurna hanya dengan menjalankan ibadah ritual, sedang pada sisi lain kita mengabaikan makna substantif ibadah yang sarat dengan pesan moral.

    Untuk menjadi seorang muslim yang baik, tidak cukup hanya dengan kesalehan individual dalam arti hanya menunaikan ibadah mahdah (ibadah formal) yang telah disyariatkan. Setiap muslim diperintahkan menunaikan kewajiban kepada sesama manusia dengan jalan berbuat baik (ihsan) karena Allah.

    Umat Islam diajarkan oleh agama agar meraih kebahagiaan Idulfitri dengan membagi kebahagiaan kepada sesama manusia yang kurang beruntung secara materi melalui pemberian zakat, wakaf, infak dan shadaqah serta empati terhadap penderitaan orang lain. Rasulullah SAW bersabda; Manusia yang paling dicintai Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

    Amal yang paling utama ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang yang beriman, melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-utangnya. (H.R. Ibnu Hajar al-Asqalani).

    Marilah lestarikan hikmah ibadah puasa dengan memperbaiki sikap, perilaku dan gaya hidup (life style) yang mencerminkan jatidiri sebagai muslim. Kesalehan umat harus meliputi segala hal, termasuk kesalehan dalam berpolitik, berekonomi, dan mengelola birokrasi yang bersih, membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.

    Semoga kita semua diberi umur panjang dan kesempatan agar bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan tahun depan dalam kondisi yang lebih baik. Di hari Idulfitri yang istimewa ini mari kita berdoa dan mohon ampun kepada Allah, semoga marabahaya Covid 19 segera berlalu. Hanya kepada Allah SWT, kita semua mencari kekuatan dan pertolongan.

    Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Walillaahil hamd. (*)

    Reporter :
    Penulis :
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber :

    KOMENTAR

    Berita Menarik Lainya

    Jangan Lewatkan