Minggu, 11 April 2021
24 C
Surabaya
More
    Jawa TimurSurabayaWarga Desa Borong Mobil, Pentingnya Kelola Keuangan

    Warga Desa Borong Mobil, Ketua DPD RI Ingatkan Pentingnya Kelola Keuangan

    SURABAYA (Wartatransparansi.com) – Aksi borong mobil yang dilakukan warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten , Jawa Timur, turut disorot Ketua RI, AA . Dalam kondisi seperti ini, LaNyalla berharap keuangan bisa dikelola dengan baik.

    Warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur mendapat ganti untung dari pembelian tanah. Karena, di lahan mereka dibangun proyek kilang minyak dan petrokimia Grass Root Refinery (GRR) pada Januari 2020 lalu.

    Proyek ini membebaskan 870 KK meliputi desa lainnya, yaitu Wadung dan Kaliuntu.

    “Warga yang lahannya dibeli menjadi kaya mendadak. Mereka mendapat ganti untung sampai puluhan miliaran rupiah. Karena membeli tanah seharga Rp 600 ribu-Rp 800 ribu ribu permeter. Keuntungan ini yang dimanfaatkan warga untuk membeli mobil,” ujarnya, Minggu (21/2/2021).

    Baca juga :  Cara Dinkes Surabaya Ajak Lansia Vaksin, Jemput Bola hingga Naik Odong-Odong

    Warga Desa Sumurgeneng tercatat membeli 380 unit mobil gres, dari 225 penduduk yang menerima pembayaran. Maklum angka ganti untung yang diterima warga mencapai miliaran rupiah. Terutama warga yang memiliki tanah yang luas.

    “Berdasarkan info yang kita terima, aksi borong mobil masih berlanjut hingga hari ini. Media pun memberitakan 17 unit kembali dikirim ke Desa Sumurgeneng,” terang Senator asal Jawa Timur itu.

    LaNyalla mengatakan, fenomena borong mobil sering dilakukan warga yang mendapat ganti untung dari penggusuran lahan.

    “Tidak salah memang, namun kita khawatir masyarakat tidak memiliki kemampuan mengelola uang sebanyak itu. Akibatnya, uang bisa cepat habis dan kehidupan ekonomi tidak berubah dari sebelumnya,” ulasnya.

    Baca juga :  Eri Terima Penghargaan Pembina K3 Jatim 2020

    Mantan Ketua Umum Kadin Jawa Timur menambahkan, kalau sampai masyarakat menjadi konsumtif membelanjakan barangnya untuk suatu yang tidak begitu menunjang aktivitas ekonominya, dikhawatirkan malah menjadi hura-hura.

    “Dengan kata lain keuntungan itu tidak akan banyak membantu masyarakat sendiri,” ujarnya.

    Untuk itu, alumnus Universitas Brawijaya Malang meminta daerah atau pihak pertamina untuk memberikan pendampingan pengelolaan dan manajemen keuangan produktif untuk masyarakat.

    “Masyarakat yang dapat ganti  untung, harus diberikan pendampingan agar mereka memiliki kemampuan mengelola keuangan. Mereka harus mengelola keuangan berdasarkan kemampuannya di bidang pertanian atau usaha pengembangan pertanian yang lebih produktif dan menguntungkan,” ujarnya.(nur)

    Reporter : Nuriyah Maslaha
    Penulis :
    Editor : Samuel Ruung
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Komentar

    guest
    0 Komentar
    Inline Feedbacks
    View all comments

    Berita Menarik Lainya

    Terkini

    Jangan Lewatkan