Minggu, 7 Maret 2021
More
    Tajuk Jember di antara Musibah Banjir Nasional

    Jember di antara Musibah Banjir Nasional

    Oleh Djoko Tetuko – Pemimpin Redaksi WartaTransparansi

    Banjir di Kabupaten Jember, sempat mengagetkan banyak pihak. Apalagi banjir
    sangat parah terjadi di Kecamatan Tempurejo dan Bangsalsari. Hanya saja, di Bangsalsari banjir bandang sehingga cepat selesai. Sementara di Tempurejo banjir menggenang dan lama surut.

    Banjir Jember pada masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) awal tahun 2021, merupakan rangkaian banjir nasional terjadi hampir di beberapa tempat di Pulau Jawa maupun di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.

    Menghimpun data dari berbagai sumber sejak awal tahun 2021 banjir sudah menenggelamkan beberapa daerah;

    Pertama, di Kabupaten Demak Jawa Tengah, Jumat (1/1/2021) ratusan rumah di Desa Sumberejo Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah terendam banjir luapan Sungai Tuntang pada hari pertama tahun baru

    Banjir terjadi karena tanggul Sungai Tuntang di Dukuh Sawi Desa Sumberejo terputus sepanjang 30 meter dengan kedalaman 5 meter dan lebar 6 meter. Sebanyak 300 rumah warga terendam banjir luapan Sungai Tuntang setinggi 30 sentimeter.

    Kedua, di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau,
    Minggu (3/1/ 2021) sejumlah wilayah di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, dilanda musibah banjir dengan ketinggian air mencapai 2 meter.

    Sejumlah titik yang terdampak banjir itu adalah daerah Lembah Purnama, Perumahan Sri Andana, bilangan jalan Hanjoyo Putro Batu 8, Jalan Hang Lekir Perum Elang Semesta Batu 9, daerah Bangunsari KM 11 Gg Perkutut, daerah Green Camp Jalan Lembah Merpati, kawasan Taman Seraya Batu 9 dan lokasi sekitaran KPU Tanjugpinang serta perumahan Hangtuah Permai KM 12.

    Baca juga :  Penanganan Covid-19, Jatim Bebas Zona Merah

    Ketiga, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (4/1/2021) genangan air setinggi 10 hingga 50 sentimeter menggenangi Jalan Raya Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Juga
    terpantau menggenangi Jalan Nasional menuju Sumedang, Tasikmalaya, dan Garut.

    Banjir terjadi akibat drainase yang buruk sehingga tidak dapat menampung debit air secara maksimal saat hujan lebat mengguyur kawasan Bandung Raya.

    Keempat, di Indramayu, Jawa Barat,
    Selasa (5/1/2021) ratusan rumah warga di Desa Widasari, Indramayu, Jawa Barat, terendam air akibat dilanda banjir dengan ketinggian air 50 sentimeter hingga satu meter.

    Kelima, di Cerme Gresik, sebanyak 9 desa di Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, ratusan rumah terendam banjir dari luapan Kali Lamong.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan, banjir melanda setelah sebelumnya terjadi hujan dengan intensitas tinggi pada Selasa (5/1/ 2021) pukul 09.20 WIB.

    Sembilan desa yang terdampak meliputi Desa Guranganyar, Desa Dungus, Desa Morowudi, Desa Iker-iker, Desa Cerme Kidul, Desa Pandu, Desa Jono, Desa Tambak Beras dan Desa Banjarsari.

    Menurut laporan dari Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dengan Tinggi Muka Air (TMA) 5-45 sentimeter itu berdampak pada kurang lebih 760 KK.

    Keenam, di Kalimantan Selatan, sejak Rabu (6/1/2021) 8 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan banjir hebat. Mulai dari 50 centimeter hingga 4 meter. Penggundulan hutan dikaitkan sebagai penyebab terjadinya banjir yang kini melanda wilayah Kalimantan Selatan, dan menyebabkan lebih dari 20.000 warga harus mengungsi.

    Baca juga :  Eri Ikuti Jejak Risma dan Porkas

    Ketujuh, di Halmaherah Utara Maluku Utara, Sabtu (16/1/2021) hujan intensitas tinggi
    membuat sejumlah desa di Kabupaten Halmahera Utara (Halut) dilanda banjir.
    Sedikitnya 5 desa di wilayah Kecamatan Kao Barat digenangi banjir setinggi 80 hingga 100 sentimeter. Ratusan rumah warga dan fasilitas umum di wilayah itu ikut terendam.

    Sekretaris Daerah Halut Yudihart Noya, yang berada di lokasi banjir ketika dikonfirmasi, menyatakan banjir di Kao Barat disebabkan meluapnya Sungai Nguailami usai hujan deras mengguyur selama sehari.

    Kedelapan, di Manado Sulawesi Utara, sejak Jumat (1/2/2019) sampai banjir dan longsor Sabtu (16/1/2021) banjir menerjang Kota Manado. Bahkan pada awal tahun 2021 sempat menunda
    4 penerbangan, satu diantaranya pesawat yang ditumpangi staf kepresidenan Moeldoko, terpaksa mendarat di Bandara Jalaluddin Gorontalo, Jumat (1/2/2019).

    Di Jember, Bupati Jember dr. Faida, MMR. menyalurkan sejumlah bantuan kepada warga terdampak bencana banjir, Sabtu (16/1/2021), di Kecamatan Bangsalsari dan Puger.

    Diketahui, di Desa Bangsalsari, Faida melihat Pondok Pesantren Ar Rosyid yang terkena terjangan banjir hingga menjebolkan dinding bangunan. Bahkan para santri menyelamatkan diri ke tempat lebih tinggi. Barang mereka hanyut dan rusak. Buku-buku pelajaran di pondok itu juga rusak.

    Setelah memantau plengsengan yang jebol, Faida kemudian melihat kondisi pondok, sekaligus memberikan sejumlah bantuan untuk para santri. Berupa alas tidur, selimut, Al Qur’an, dan sembako.

    Baca juga :  Vaksinasi dan PPKM Mikro Jangan Kendor (Pasein Dirawat Masih 147.845)

    Penyebab utama banjir itu adalah curah hujan yang sangat tinggi, saluran air tidak mampu menampung, dan gangguan saluran. Sehingga perlu normalisasi saluran sungai.

    Bagi warga yang terdampak banjir, Faida menyebut memberikan bantuan sesuai kebutuhan mereka. Diantaranya pertolongan jiwa untuk diamankan di tempat pengungsian. Pertolongan ini terutama lansia, anak-anak, difabel, dan warga yang sakit.

    Kebutuhan lain yang juga dipenuhi yaitu kebutuhan pokok berupa sembako, bahan keperluan lain yang disesuaikan masing-masing warga terdampak.

    Pemerintah bersama masyarakat pada masa
    pandemi Covid-19, harus bersama-sama gotong royong dan saling bahu membahu membantu ketika ketika musibah banjir.

    Sekedar sebuah peringatan banjir dan cuaca ekstrim karena kerusakan alam akibat ulah manusia. Sebagaimana firman Allah SWT pada (Surat Ar-Rum ayat 41), “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

    Mengingat hujan deras dan daerah rawan banjir, diperkirakan masih akan terjadi ke depan, maka wilayah dengan ancaman cuaca ekstrim dan daerah langganan banjir atau kini menjadi wilayah baru banjir sebaiknya tanggap dan waspada.

    Karena hampir semua pakar dengan rendah hati mengakui bahwa banjir dan cuaca ekstrim, karena kerusakan alam terutama alih fungsi hutan, lautan, dan polusi udara. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan alam sesuai dengan jati diri alam itu, merupakan upaya mencegah cuaca ekstrim dan banjir dengan senantiasa menjaga keseimbangan seluruh alam semesta. (*)

    Reporter :
    Penulis : Djoko Tetuko
    Editor :
    Redaktur :
    Sumber : WartaTransparansi.com

    Komentar

    guest
    0 Komentar
    Inline Feedbacks
    View all comments

    Terkini

    Jangan Lewatkan