YA SAYA SENDIRI
Tatanan dunia sedang mengalami jungkir balik secara massif. Istilah para dalang wayang kulit: sungsang bawana balik (tatanan dunia dijungkir balik). Secara fisik dunianya sih tetap saja. Kaki tetap di bawah sedang kepala di atas. Lagit di atas sedang tanah di bawah. Yang lain juga tetap di tempatnya. Yang jungkir balik adalah tata nilainya.
Dalam kaitan sungsang bawana balik. Rasulullah sudah mengingatkan dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah: Akan datang tahun-tahun penuh kedustaan yang menimpa manusia. Pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan. Amanat diberikan kepada pengkhianat. Orang jujur dikhianati. Ruwaibidhah turut bicara. Lalu Rasulullah ditanya, apakah ruwaibidhah itu? Rasulullah menjawab, orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum.
Mau tahu ruwaibidah? Sangat mudah ditemukan, Yaitu di media, khususnya media sosial. Di situ bertebaran manusia yang memiliki ciri “3-kem”. Yaitu, keminter, kemeruh, kemlinthi. Artinya: sok pintar, sok tahu, sok paling jago. (Gitu itu ya bukan siapa-siapa. Tapi ya saya sendiri hahahaha).
Apa saja dikometari. Apa saja diposting. Terhadap hal apa saja, merasa dirinya paling tahu dan baling benar. Bicara berubah jadi bernuansa meludah. Berpendapat bernuansa menghujat dan mengumpat. Diskusi menjadi bulli dan caci maki. Dialog berubah jadi olok-olok dan tohok-tohok.
Ranah virtual publik sepi dan garing dengan nilai wa tawa shabil haqqi wa tawa shaubis-shabr (saling nasehati dalam bidang kebenaran dan kesabaran). Sebaliknya riuh ramai, hiruk pikuk, gegap gempita dengan ujaran kebencian, propaganda kebohongan, penyebaran permusuhan, pernyataan dan postingan yang sia-sia, tanpa makna. (Gitu itu bukan orang lain tapi ya saya sendiri hihihihi).
Dunia ruwaibidhah telah menggelincirkan martabat dan derajat manusia. Kelas manusia penyandang gelar-gelar akademik telah turun kelas menjadi nitizen kelas urakan. Pemilik gelar kehormatan sosial turun kelas jadi nitizen blakrakan.
Kenapa? Gelar akademik tertinggi itu membawa konsekuensi pemiliknya bicara berlandaskan kaidah ilmiah, dipikir matang-matang sebelum diungkap. Pemilik gelar sosial kehormatan itu menuntut bersikap airf bijaksana, tidak asal bicara. Sementara kelas nitizen urakan bin blakrakan itu pokok asal njeplak, asal ngomong, asal komen, asal pencet tombol smartphone.
Sungsang bawana balik ini sebenarnya hanya varian dari kebohongan akbar yang dibawa Dajjal. Bagian kecil dari kepalsuan mahadahsyat yang disebarkan Dajjal. Dan Covid-19 membawa tanda-tanda itu dengan banyak varian seperti pandemi hoax (pandemi kebohongan), fake news (berita palsu), infodemik (misiformasi di kalangan masyarakat akademis), Deep fake, belum lagi malinformasi dan disinformasi.
Varian-varian itu, insya Allah akan saya uraikan di ciri ketiga Covid-19 sebagai pertanda semakin dekatnya kemunculan Dajjal. Hingga puncaknya pada kegelapan total. Sehingga mata eksternal ini tidak bisa membedakan lagi yang haq dengan yang batil, yang ori dengan yang palsu, kejujuran dengan kedustaan, hoax dengan fakta dll.
Sampai-sampai untuk mengetahui secara benar dan presisi harus menggunakan mata hati, bashirah. “Minumlah air apinya Dajjal dengan memejamkan mata. Biarkan mata hati yang melihat. Maka akan mendapat air segar dan nikmat yang sejatinya.”
Rabbi a’lam amma ba’du.
Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo.





