Boks culvert adalah beton jenis precast berbentuk kubus segi empat ditutupkan di atas sungai seperti gorong-gorong raksasa. Di atasnya dibangun jalan dengan aspal tebal supaya bisa dilewati angkot maupun truk.
Seperti memotong celana. Bukannya tambah pendek tapi tambah tinggi. Jalanan mungkin berkurang macetnya, tapi sampah di sungai akan jadi masalah baru yang serius.
Lihatlah sungai-sungai di Surabaya. Dari anakan sungai Brantas saja setiap hari harus diangkat 40 kubik sampah. Sungai-sungai kecil di sepanjang daerah Asemrowo sampai Sukomanunggal menghitam airnya dan dangkal oleh tumpukan sampah.
Pemandangan yang hampir sama terlihat di banyak wilayah di pinggiran Surabaya. Sungai yang terbuka saja tidak terurus dari sampah, bagaimana kalau sungai itu ditutup gorong-gorong yang rapat dan ditutupi aspal.
Pemandangan proyek boks culvert di pusat kota memang terlihat mulus dan rapi di permukaan. Tapi dalam jangka panjang ancaman sampah dan limbah kotor lainnya akan menjadi masalah serius. Ini sama saja dengan menyapu lantai tapi menyembunyikan sampah di bawah karpet. Dari luar terlihat indah tapi di dalamnya bau sampah.
Tata kota Surabaya terlihat indah dan permai dengan taman-taman cantik di pusat kota. Tapi, di pinggiran kota sampah dan pemukiman kumuh terlihat di mana-mana. Ibarat wanita cantik Surabaya cuma bersolek cantik di bagian wajah. Mukanya dirawat tiap hari dan diberi make-up dan kosmetik mahal. Tapi badannya tidak pernah diurus, dibiarkan nglombrot, pakai daster kumal dan sobek.
Wajah memang sumber pencintraan yang paling gampang mendapatkan puja-puji dari mana-mana. Wajah menjadi etalase yang membuat dagangan cepat laku. Tapi, tanpa tubuh yang sehat dan terawat sama saja dengan penampilan palsu yang menipu.
Sesekali bagian pinggiran Surabaya ini ingin merasakan kebaikan yang selama ini dinikmati bagian pusat kota Surabaya. Jangan cuma pusat kota saja yang menikmati kebaikan dalam bentuk taman-taman. Daerah-daerah pinggiran juga perlu menikmati kebaikan.
Warga Surabaya layak diperlakukan secara setara dan sederajat. Pembangunan Surabaya harus merata ke semua wilayah. Jangan hanya banjir saja yang merata, tapi kebaikannya tidak merata.
Warisan kebaikan sepuluh tahun Bu Risma dalam bentuk taman-taman yang indah boleh dilestarikan. Tapi warisan “kebanjiran” yang ditinggalkan Bu Risma tidak boleh diteruskan.
Ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Tapi jangan nyolong sandal di masjid. Warga Surabaya ingin maju, bukan pancet apalagi mundur. Surabaya butuh kebaikan bukan kebanjiran. (*)
Oleh Dhimam Abror Djuraid – Wartawan senior, tinggal di Surabaya





