Oleh : Djoko Tetuko (Pemimpin Redaksi WartaTransparansi.com)

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah pulang ke rahmatulloh KH. Muhammad Rozi Shihab (KH Muchrodji Sihab), pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Najah, Warukosek, Pasuruan, 8 Agustus 2020.

Almarhum adalah seorang guru, seorang kiai, seorang dosen, seorang motivator, dan seorang negarawan, juga seorang pejuang Nahdlatul Ulama serta pejuang umat.

Putra tertua almarhum, Ustad Ahmad Zulfikar menuturkan bahwa mengetahui kesibukan sang ayah —biasa dipanggil Aba— setelah wafat, karena sebagian kehidupan sehari-hari memang lebih banyak diabdikan kepada anak bangsa ini sabagai pengajar, sebagai seorang guru dan sebagai kiai di pesantren juga sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi, serta dalam setiap ektifitas organisasi selalu menjadi penyemangat (motivator).

Penulis sendiri mendapat pelajaran bahasa Arab dari almarhum ketika belajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sidoarjo tahun 1981-1984, sekaligus dipandu menjadi asisten pengenalan dan pemantapan bahasa Arab untuk siswa baru kelas 1 atau sekarang kelas 10.

Ketika sambutan pemberangkatan almarhum kiai sepuh dari Banyuwangi, KH Suyuti, menceritakan bahwa almarhum KH Muhammad Rozi Shihab, ialah menjadi salah Rois Am di PBNU pada Komite Khittah, komite untuk meluruskan perjuangan dan ajaran NU, supaya sesuai dengan garis perjuangan.

Sebagai kiai almarhum mendirikan pondok pesantren dan lembaga pendidikan di sekitar tempat tinggalnya. Sebagai guru dan dosen juga menjadi pendiri bebarapa lembaga pendidikan, sekaligus sebagai guru dan dosen aktif. Dan kembali ke ILAHI ROBBI pada usia 70 tahun.

Dalam perjuangan untuk umat, almarhum pernah dipercaya menjadi salah satu tim perumus Undang Undang Khusus untuk Nangroe Aceh Darussalam. Tetapi sebagai guru, dosen, kiai, dan motivator selalu menyembunyikan aktifitas dalam beberapa kegiatan, dengan tetap rajin di lingkungan ponpes maupun menjadi guru anak bangsa selamanya, sepanjang hajatnya, karena selalu memberi pelajaran dengan akhlaq mulia dan memberikan semangat (motivasi) kepada seluruh anak bangsa untuk berkarya dan beribadah serta berjuang terus dalam mengisi kehidupan. Mengedepankan ilmu yang manfaat dan hidup penuh barokah, walaupun terus dalam perjuangan.

Begitu Istiqomah mengabdikan di salah Univeritas dan aktif mempejuangkan hingga mampu bersaing dan melahirkan generasi hebat, almarhum mendapat gelar sebagai profesor, sebagai guru besar. Dan sebagai kiai juga menjadi guru dari ratusan santri bebarapa anggota Kepoisian, belajar mengaji dan ilmu agama Islam, karena kampung almarhum memang bertetangga dengan Pusdiklat Watukosek.

Selamat jalan guru, kiai, dan motivator. Garis keturunan dari Sayyida Husein dengan beberapa catatan perjuangan untuk bangsa dan negara, akan terkenang dalam perjalanan panjang berbangsa dan bernegara. Tentu para santri, murid, dan siapa saja ketika pernah mendapat pelajaran satu huruf sekalipun insyaAllah akan mengamalkan, dan itu menjadi catatan amalan ibadah selamanya, tidak putus walau sudah kembali ke harapan ILAHI ROBBI. (Djoko Tetuko)