Opini  

IDUL QURBAN DI MASA PANDEMI

IDUL QURBAN DI MASA PANDEMI
Dr. H. Muhtadi Mahfudh,M.Ag

Dari Sayyidah Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr (kurban), kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala kurban akan diterima oleh Allah sebelum darahnya  menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.” ( HR. Imam at-Tirmidzi dan imam Ibnu Majah)

Kisah tentang kelulusan dan kesabaran nabi Nabi Ibrahim dan keluarga dalam menghadapi ujian dan aneka godaan syetan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Oleh sebab itu, kisah tersebut bisa kita jadikan sebagai Ibrah, pelajaran berharga  buat kita semuanya dalam mengahadapi al-Bala’ (cobaan), berupa wabah COVID19 (Corona viruses deseas 19), agar kita selalu bisa melihat sisi positif dan husnu dzan (berbaik sangka) kepada Allah SWT.

Kita harus selalu waspada dan pandai mensyukuri nikmat dan anugerah yang  telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, sebab  anugerah dan nikmat Allah jauh lebih besar dari sekedar pandemi Corona ini. Janganlah ujian virus ini menjadikan kita berputus asa sehingga meninggalkan kewajiban kita kepada Allah SWT. Janganlah Covid 19 ini menghalangi kita untuk beribadah, bersedekah dan berkorban pada idhul adh-ha.

Menghindari sifat sombong

Hadirnya covid-19. ini, Allah menunjukkan kemahakuasaannya lewat berbagai media, termasuk lewat makhluk kecil yang tak terlihat secara kasat mata. Hanya melalui virus, sebagian lapisan masyarakat menjadi takut, mencekam dan khawatir. Fenomena ini memberi pelajaran bahwa betapa tidak pantasnya manusia bila bersikap sombong dan takabbur, karena menghadapi makhluk yang sangat kecil saja sudah sangat kerepotan.

Dana trilyunan sudah dikucurkan, namun musibah ini juga belum berakhir. Sehat, sakit, dan kematian adalah taqdir Allah. Wabah Covid-19 seakan masih menjadi hantu bagi sebagian manusia.

Hal ini membangunkan kesadaran kita bahwa datangnya kematian yang selama ini seolah hanya menimpa orang lain itu, pasti tiba tanpa belas kasih dan tanpa pandang berapa usia kita. Upaya preventif merupakan wujud ikhtiar. Namun berhasil atau tidak, menjadi takdir yang Allah tetapkan.

Manusia tidak dapat mengelak dari apa yang Allah putuskan, maka sebaiknya kita segera sadar dan berpikir, sudah seberapa jauh kita mempersiapkan diri menyambut kematian dan meninggalkan keluarga yang kita cintai?. Sudah cukupkah bekal kita untuk dibawa ke alam kubur dan akhirat dalam menghadapi pengadilan tanpa direkayasa, yaitu pengadilan Allah? Idul adh-ha membuka peluang sangat lebar untuk bekal akhirat kita dengan meningkatkan iman dan amal shalih, baik berupa ritual seperti shalat Id saat ini, maupun berupa menyembelih hewan kurban yang berdampak besar secara sosial.

Pelajaran yang dapat kita petik antara lain adalah:

Pertama; Nabi Ibrahim patut dijadikan contoh bagi para ayah masa kini, ayah yang sangat penyayang dan mencintai keluarganya, namun cintanya pada Allah diatas segala galanya. Karena ia yakin bahwa segala yang diperintahkan Allah pasti baik untuk dirinya, dan segala larangan Allah, jika dilanggar pasti bendampak buruk baginya.

Kedua; Siti Hajar patut menjadi contoh bagi ibu-ibu masa kini, ibu yang sangat baik, sabar dan tabah. Semangatnya mencari air untuk memenuhi kebutuhan keluarganya merupakan bukti sebagai sosok ibu yang tangguh tak mudah menyerah. Iman dan taqwa menyatu pada sosok dirinya, serta mendukung suaminya untuk taat pada Allah SWT.

Ketiga; Nabi Ismail adalah prototipe generasi muda milenial, teladan remaja masa kini, baktinya kepada orang tua sangat luar biasa, semuanya didasarkan karena Allah. Figur ini layak untuk selalu dihadirkan ditengah-tengah remaja masa kini di era pandemi yang mengalami beragam krisis, baik krisis moral yang menyangkut akhlaq dan etika hidup maupun krisis birrul walidain. Keshalihan dirinya, tidak hanya secara ritual yang menyangkut dimensi vertikal ibadah mahdhah belaka, namun juga keshalihan secara sosilal yang menyangkut hubungan horizontal sesama manusia.

Semoga covid 19 segera diangkat oleh Allah dari bumi Indonesia tercinta, sehingga kita bisa leluasa beraktivitas seperti semula, dan semoga kita termasuk golongan orang-orangyang bertakwa dan orang-orang yang shalih, aamiin.

(Dr. H. Muhtadi Mahfudh, M.Ag, adalah dosen fakultas Agama Islam Undar Jombang)