Dr. H. Muhtadi Mahfudh,M.Ag

Oleh : Dr. H. Muhtadi Mahfudh M.Ag

Suasana Idul Adh-ha 10 Dzulhijjah 1441 H saat ini masih dalam suasana pandemi, namun dua agenda penting umat Islam tetap bisa dilaksanakan. Meski suasana pandemi Kerajaan Arab Saudi memutuskan untuk tetap melanjutkan pelaksanaan ibadah haji pada tahun ini dengan mengikuti sejumlah aturan baru, dengan membatasi kuota sekitar 10.000 jamaah dan itu hanya untuk warga negara Arab Saudi dan warga asing yang tinggal di negara itu.

Dua agenda penting yang dilakukan oleh umat Islam di masa pandemi tahun ini adalah:

Pertama: Pada hari ini kaum muslimin yang dikarunia kesempatan beribadah haji sedang berkumpul di kota Mina setelah kemarin melaksanakan wukuf di padang Arafah dan tadi malam mabit di Muzdalifah. Mereka hari ini  “meskipun tidak  segegap gempita tahun-tahun sebelumnya”, tetap semangat menuju “jamarat” untuk melaksanakan kewajiban haji yakni melontar jumrah aqabah.

Kisah melempar jumrah ini, terjadi sekitar 4000 tahun yang lalu tepatnya pada 1870 SM, ketika Nabi Ibrahim as bermaksud menyembelih putranya Nabi Ismail as atas perintah Allah SWT, tiba-tiba datanglah syetan menghampiri dan menggodanya, agar menghentikan niatnya untuk menyembelih nabi Ismail as.

Namun dengan penuh keyakinan dan ketaatan kepada Allah, beliau tetap melaksanakan perintah tersebut. Oleh sebab itu, ia segera mengambil tujuh batu kerikil dan melemparkannya satu persatu kearah syetan dengan membaca : Bismillahi Allahu Akbar 3X, sehingga syetan menjauhinya.

Kegagalan syetan dalam menggoda dan mempengaruhi Nabi Ibrahim As, dilanjutkan untuk untuk mendekati, merayu  dan mempengaruhi Sayyidati Hajar as (‘alaiha salam), agar suaminya tidak mengorbankan putra yang sangat dicintainya, namun Sayyidati Hajar as dengan tegas menolak rayuan syetan tersebut seraya mengambil tujuh batu kerikil dan melemparkanya kearah syetan satu persatu dengan bacaan : Bismillahi Allahu Akbar.

Tidak ckup disitu, kegagalannya  merayu Nabi Ibrahim AS dan Sayyidati Hajar as, syetan pun mencari cara lain yaitu dengan  mendekati dan mempengaruhi Nabi Ismail as, yang dianggapnya masih kecil, dan masih lemah keimanannya. Namun ia  juga menunjukkan perlawanan atas rayuan syetan.  Sehingga ia pun mengambil 7 batu kerikil dan melemparkanya satu persatu kearah syetan dengan bacaan Bismillahi Allahu Akbar.

Bismillah, tanpa ragu dan menunda-nunda, Nabi Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, sebagaimana binatang yang akan disembelih, pisau yang sangat tajam, atas kuasa Allah SWT tidak melukai sang anak sedikitpun, dan kemudian Allah SWT melalui malaikat memanggilnya: “Hai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik”, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran:al-Shaffat, 103-111

Kedua: Pada hari ini juga kaum muslimin di seluruh penjuru dunia, dengan penuh antusias berbondong-bondong menuju ke mushalla, masjid, atau tanah lapang dengan menggunakan protokol kesehatan untuk melaksanakan shalat Idul adh-ha sebagai manifestasi perasaan takwa kepada Allah SWT.

Dalam kedua peristiwa penting ini, kaum muslimin dan muslimat mengagungkan asma Allah, mengumandangkan pula kalimah-kalimah takbir, tahlil, tasbih dan tahmid. Membesarkan asma Allah, meng-esakan Allah, mensucikan asma-Nya dan untuk menyatakan rasa syukur kepada-Nya. Bacaan takbir muqayyad ini bisa diteruskan setiap setelah shalat fardhu, hingga setelah shalat Ashar pada akhir hari tasyrik, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah/03 Agustus 2020.

Berbicara Idul Adh-ha tidak bisa dilepaskan dari lembaran sejarah dan peristiwa yang dialami Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya (Ismail dan Siti Hajar). Idul Adh-ha atau hari raya kurban merupakan hari yang penuh dengan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan, untuk menjunjung tinggi nilai-nilai iman dan Islam yang telah tertanam dalam hati sanubari kita.

Oleh sebab itu, Allah SWT mengingatkan kepada kita semua, agar tidak salah didalam menjalankan Qurban, sebagaimana fiman-Nya dalam  Q.S, 22:37

“Sekali-kali tidak dapat mencapai (ridla) Allah SWT daging-dagingnya dan darah-darahnya, tetapi yang dapat mencapainya adalah ketakwaan kamu (semuanya) Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini memberitahukan kepada kita semua, bahwa ketika kita ingin berkorban binatang ternak, yang menjadi landasan utama adalah keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal yang sama Rasulullah saw mengingatkan kepada kita dalam sebuah hadits yang artinya :

Dari Sayyidah Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam melakukan pekerjaan yang paling dicintai Allah pada hari nahr (kurban), kecuali mengalirkan darah (menyembelih hewan qurban). Hewan itu nanti pada hari kiamat akan datang dengan tanduk, rambut dan bulunya. Dan pahala kurban akan diterima oleh Allah sebelum darahnya  menetes ke tanah. Maka hiasilah dirimu dengan ibadah qurban.” ( HR. Imam at-Tirmidzi dan imam Ibnu Majah)

Kisah tentang kelulusan dan kesabaran nabi Nabi Ibrahim dan keluarga dalam menghadapi ujian dan aneka godaan syetan dalam rangka menjalankan perintah Allah. Oleh sebab itu, kisah tersebut bisa kita jadikan sebagai Ibrah, pelajaran berharga  buat kita semuanya dalam mengahadapi al-Bala’ (cobaan), berupa wabah COVID19 (Corona viruses deseas 19), agar kita selalu bisa melihat sisi positif dan husnu dzan (berbaik sangka) kepada Allah SWT.

Kita harus selalu waspada dan pandai mensyukuri nikmat dan anugerah yang  telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, sebab  anugerah dan nikmat Allah jauh lebih besar dari sekedar pandemi Corona ini. Janganlah ujian virus ini menjadikan kita berputus asa sehingga meninggalkan kewajiban kita kepada Allah SWT. Janganlah Covid 19 ini menghalangi kita untuk beribadah, bersedekah dan berkorban pada idhul adh-ha.

Menghindari sifat sombong

Hadirnya covid-19. ini, Allah menunjukkan kemahakuasaannya lewat berbagai media, termasuk lewat makhluk kecil yang tak terlihat secara kasat mata. Hanya melalui virus, sebagian lapisan masyarakat menjadi takut, mencekam dan khawatir. Fenomena ini memberi pelajaran bahwa betapa tidak pantasnya manusia bila bersikap sombong dan takabbur, karena menghadapi makhluk yang sangat kecil saja sudah sangat kerepotan.

Dana trilyunan sudah dikucurkan, namun musibah ini juga belum berakhir. Sehat, sakit, dan kematian adalah taqdir Allah. Wabah Covid-19 seakan masih menjadi hantu bagi sebagian manusia.

Hal ini membangunkan kesadaran kita bahwa datangnya kematian yang selama ini seolah hanya menimpa orang lain itu, pasti tiba tanpa belas kasih dan tanpa pandang berapa usia kita. Upaya preventif merupakan wujud ikhtiar. Namun berhasil atau tidak, menjadi takdir yang Allah tetapkan.

Manusia tidak dapat mengelak dari apa yang Allah putuskan, maka sebaiknya kita segera sadar dan berpikir, sudah seberapa jauh kita mempersiapkan diri menyambut kematian dan meninggalkan keluarga yang kita cintai?. Sudah cukupkah bekal kita untuk dibawa ke alam kubur dan akhirat dalam menghadapi pengadilan tanpa direkayasa, yaitu pengadilan Allah? Idul adh-ha membuka peluang sangat lebar untuk bekal akhirat kita dengan meningkatkan iman dan amal shalih, baik berupa ritual seperti shalat Id saat ini, maupun berupa menyembelih hewan kurban yang berdampak besar secara sosial.

Pelajaran yang dapat kita petik antara lain adalah:

Pertama; Nabi Ibrahim patut dijadikan contoh bagi para ayah masa kini, ayah yang sangat penyayang dan mencintai keluarganya, namun cintanya pada Allah diatas segala galanya. Karena ia yakin bahwa segala yang diperintahkan Allah pasti baik untuk dirinya, dan segala larangan Allah, jika dilanggar pasti bendampak buruk baginya.

Kedua; Siti Hajar patut menjadi contoh bagi ibu-ibu masa kini, ibu yang sangat baik, sabar dan tabah. Semangatnya mencari air untuk memenuhi kebutuhan keluarganya merupakan bukti sebagai sosok ibu yang tangguh tak mudah menyerah. Iman dan taqwa menyatu pada sosok dirinya, serta mendukung suaminya untuk taat pada Allah SWT.

Ketiga; Nabi Ismail adalah prototipe generasi muda milenial, teladan remaja masa kini, baktinya kepada orang tua sangat luar biasa, semuanya didasarkan karena Allah. Figur ini layak untuk selalu dihadirkan ditengah-tengah remaja masa kini di era pandemi yang mengalami beragam krisis, baik krisis moral yang menyangkut akhlaq dan etika hidup maupun krisis birrul walidain. Keshalihan dirinya, tidak hanya secara ritual yang menyangkut dimensi vertikal ibadah mahdhah belaka, namun juga keshalihan secara sosilal yang menyangkut hubungan horizontal sesama manusia.

Semoga covid 19 segera diangkat oleh Allah dari bumi Indonesia tercinta, sehingga kita bisa leluasa beraktivitas seperti semula, dan semoga kita termasuk golongan orang-orangyang bertakwa dan orang-orang yang shalih, aamiin.

(Dr. H. Muhtadi Mahfudh, M.Ag, adalah dosen fakultas Agama Islam Undar Jombang)