Minggu, 3 Desember 2023
29 C
Surabaya
More
    OpiniPojok TransparansiUrban Farming Sebagai Alternative Pemenuhan Gizi Masyarakat Ditengah Pandemi

    Urban Farming Sebagai Alternative Pemenuhan Gizi Masyarakat Ditengah Pandemi

    Oleh :  Mohamad Sofwan, SP, M Si (Pengajar Di Fakultas Pertanian Universitas Darul Ulum, Jombang)

    Pendemi covid 19 yang saat ini sedang berlangsung menuntut masyarakat untuk menyesuaikan dengan berbagai kegiatan yang menunjang untuk pemutusan penularan. Percepatan penyebaran Covid 19 semakin hari semakin meningkat pasien yang positif tertular dan semakin bertambah cluster-cluster penularan. Melakukan pola hidup sehat, tetap dirumah, physical distancing, menggunakan masker, serta mencuci tangan merupakan berbagai upaya yang harus dilakukan.

    Sebagai bentuk akselerasi kegiatan untuk memutus penyebaran covid 19 adalah dilakukannya berbagai tindakan pencegahan stay at home dan peningkatan membentuk imunitas tubuh yaitu dengan menggalakkan urban farming. Urban farming sebagai salah satu alternative melakukan kegiatan pertanian dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

    Nilai tambah dimasyarakat dengan melakukan urban farming dapat memberikan keuntungan dari berbagai aspek. Dari aspek social dapat meningkatkan penambahan persediaan pangan. Urban farming dapat memberikan tambahan luasan lahan baru karena selama ini salah satu ciri wilayah perkotaan adalah masih banyaknya lahan-lahan sempit yang tidak produktif yang terebar karena kelebihan pemanfaatan lahan disekitar gedung atau disudut sempit areal perkotaan lainnya.

    Pemanfaatan lahan kosong disudut kota harus dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat, maka pelaksanaan urban farming harus lebih mengedepankan kualitas bukan hanya kuantitas. Kualitas yang dimaksudkan adalah mampu untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, menambah keanekaragaman pangan serta mengurangi pengangguran dengan membuka kesempatan usaha baru sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan.

    Bentuk-bentuk urban farming saat ini telah berkembang pesat berbagai inovasi baru antara lain Hidroponik, aquaponik, aeroponik, vertikulture, hydroganik, tabulampot, microgreen, dan lain-lain. Banyak bentuk urban farming yang telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia yang semuanya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam sistim tersebut. Misalnya pada sistim hidroponik, benih tanaman ditanam dengan media selain tanah dan pemenuhan kebutuhan nutrisi diberikan dalam bentuk ion yang mudah diserap oleh akar dan serangan hama penyakit sangat mudah dikendalikan atau hampir tidak ada. Sistim hidroponik dapat memberikan peluang usaha yang menguntungkan meskipun untuk melakukannya diperlukan keuletan dan ilmu pengetahuan yang cukup.

    Berikutnya aquaponik adalah sistim pertanian yang menkombinasikan antara hidroponik dan aquakultur dalam lingkungan yang bersifat simbiotik. Dalam akuaponik ekskresi hewan diserap oleh tanaman untuk dipecah menjadi nitrat dan nitrit melalui proses alami yang sangat berguna bagi tanaman untuk nutrisi dan airnya dikembalikan kepada akuakultur. Sedangkan aeroponik merupakan bercocok tanam tanpa media dimana akar dibiarkan menggantung begitu saja diudara pada tempat tertentu yang dijaga kelembabannya. Sistim urban farming berikutnya adalah vertikulture, vertikulture merupakan sistim bercocok tanam pada bidang vertical bertingkat untuk memanfaatkan lahan sempit.

    Sistim vertikultur dapat memberikan kesan eksotis pada lahan yang ditanami, mudah dipindahkan dan tentunya dapat memberikan tambahan pendapatan bila dilakukan secara serius. Sistim hidroganik adalah sistim bercocok tanam hasil pengembangan akuaponik tetapi menggunakan media tanah dan sudah dikembangkan terutama pada tanaman padi.

    Sistim urban farming berikutnya adalah menanam sayuran dengan sistim microgreen. Microgren merupakan budidaya sayuran yang dipanen cepat yaitu pada umur 7 sampai dengan 14 hari setelah benih berkecambah tergantung benih yang ditanam. Microgreen perlu dikembangkan karena banyak manfaat yang dapat diambil antara lain kandungan vitamin, protein, mineral, antioksidan, betakaroten, minyak nabati, lebih tinggi daripada sayuran dewasa karena unsur-unsur tersebut berkurang dan bisa habis dipergunakan untuk pertumbuhan oleh tanaman itu sendiri.

    Mengkonsumsi sayuran microgreen memberikan rasa yang eksotis dan dapat mencegah penyakit serta merangsang tumbuhnya imunitas dalam tubuh. Dalam (QS. ‘Abasa 80: Ayat 24) Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
    فَلْيَنْظُرِ الْاِ نْسَا نُ اِلٰى طَعَا مِهٖۤ ۙ
    “Maka hendaklah manusia itu memerhatikan makanannya,”
    Yang artinya adalah bahwa sangat banyak makanan yang telah disediakan oleh Allah di dunia ini hendaknya manusia berupaya untuk mencarinya sehingga ditemukan makanan yang bernilai gizi tinggi serta sangat bermanfaat bagi tubuh. Berbagai sayuran yang sering ditanam dengan sistim microgreeens antara lain mustard cress, red radish (lobak merah), spinach, basil, coriander (ketumbar), fennel, arugula, bit, kale (kailan), dan brokoli. Yang terpenting dalam budidaya sayuran microgreens, harus bebas pupuk kimia dan biji yang ditanam tidak mengandung pestisida. Media tanam yang digunakan untuk budidaya Microgreens banyak jenisnya dan tentunya masing-masing media mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti media tanam yang steril, sekam bakar, cocopit, rockwool, dll

    Tanaman microgreen pertama kali muncul sebagai campuran salad, jus sayur dan garnish atau hiasan pada masakan dibeberapa restoran fine dining di Eropa, Inggris dan Amerika pada tahun 1997. Microgreen mempunyai keunggulan yaitu, tampilan visual microgreens begitu menggoda, mungil dan kaya warna. Kedua, microgreens memberikan sensasi rasa baru yang lebih intens dengan tekstur renyah yang disukai. Ketiga, microgreens punya nilai nutrisi 30 persen lebih banyak dibanding sayuran biasa. Itulah alasan mengapa microgreen sangat digilai para foody. Microgreen sebagai sayuran muda yang masih banyak mengandung vitamin, mineral, antioksidan, betakaroten, minyak nabati, dan protein yang lebih lengkap daripada sayuran dewasa. Kandungan antioksidan tinggi dalam sumber makanan nabati telah terbukti bermanfaat untuk kesehatan dan mencegah berbagai penyakit. Sebagai contoh antioksidan polifenol.

    Polifenol memiliki tanda khas yakni memiliki banyak gugus fenol dalam molekulnya. Polifenol berperan dalam memberi warna pada suatu tumbuhan. Pada beberapa penelitian disebutkan bahwa kelompok polifenol memiliki peran sebagai antioksidan yang baik bagi kesehatan. Antioksidan polifenol dapat mengurangi risiko penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, dan alzemier.

    Ditengah pandemic saat ini yang menuntut kita semua untuk hidup sehat, maka urban farming terutama microgreen sangat layak untuk dikembangkan dimasyarakat apabila tidak untuk dijual paling tidak dapat dikonsumsi sendiri terutama sebagai keaneka ragaman makanan dan pemenuhan gizi masyarakat.

    Proses pertumbuhan tanaman dan cara budidaya sistim microgreen ini pada mulanya adalah menyediakan wadah, media tanam, benih dan air. Benih disebar pada media secara merata dan letakkan pada tempat gelap untuk tumbuh. Setelah dua hari atau lebih ditandai benih berkecambah maka tanaman tersebut dikeluarkan pada tempat yang terkena sinar matahari tidak langsung. Pada umur 7 hari atau lebih akan muncul kotiledon selanjutnya daun sejati, maka tanaman siap dipanen dan disajikan dalam bentuk masih segar.

    Microogreen berbeda dengan sprouth atau kecambah karena sudah tumbuh daunnya meskipun masih sangat muda. Pada tanaman muda sudah mengandung Phytonutrients dan klorofil di dalamnya dalam jumlah yang berbeda antara tanaman yang satu dengan lainnya. Klorofil memiliki sifat antiseptic, anti inflamasi , dan antibodi serta dapat menyembuhkan beberapa jenis anemia, kehadirannya membantu tanaman untuk memproduksi gula, pati, serat tanaman, vitamin , mineral, dan Phytonutrients. Phytonutrients ditemukan di semua tanaman yang kita makan , dan terutama bila kita memakannya utuh dan mentah . Di antara sayuran , paling banyak terdapat pada jenis sayuran “brassica” , yakni keluarga besar brokoli , kubis , dan kale.

    Melihat kelebihan tanaman urban farming dengan sistim microgreen diatas, kiranya dapat digalakkan untuk melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi pangan, memanfaatkan lahan kosong didaerah perkotaan, membuka peluang lapangan kerja baru ditengah pandemic saat ini. (*)

    Penulis : Mohamad Sofwan, SP, M Si

    Sumber : WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan