Minggu, 21 Juli 2024
27 C
Surabaya
More
    Opini"Ketika NU "Menggugat Larangan Sholat Berjamaah Karena Corona

    “Ketika NU “Menggugat Larangan Sholat Berjamaah Karena Corona

    Pandemi virus Corona, sudah menutup ratusan bahkan ribuan masjid berhenti melaksanakan perintah sholat berjamaah 5 waktu (Isyak, Subuh, Dluhur, Ashar, dan Maghrib) juga sholat Jum’at, akibat pemberitaan begitu bombastis bahwa virus Corona mudah menyebar dan menular ke manusia dari pergerakan manusia, karena pertemuan dalam jumlah besar atau lebih dari 3 orang, dengan kondisi tidak menjaga jarak.

    Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk melakukan pencegahan penyebaran virus Corona, dengan melakukan berbagai program dan pekerjaan dilakukan di rumah. Bahkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan penanggulangan virus Corona, memberi batasan waktu sampai 29 Mei 2020, siatuasi dan kondisi Indonesia masih membahayakan.

    Sosial Destancing dan Physical Destancing diberlakukan, sehingga kerukunan di warung, pertokoan, tempat ngopi, perkantoran juga mall dan pasar, dikurangi dan diminta melakukan sistem penjualan dengan cara online. Dunia perdagangan merosot tajam sampai titik nadir paling rendah. Pekerja harian dan pedagang kecil harian juga kelimpungan. Mereka layu bak daun tanpa asupan oksigen dan angin semilir. Mereka kering kerontang ibarat tanaman tidak pernah disiram.

    Umat Islam terutama dikalangan NU (Nahdlatul Ulama), meyakini bahwa sunatullah dari Nabi Muhammad SAW, setiap ada wabah jenis virus apa saja, diyakini ketika manusia masuk masjid akan selamat. Dan virus mengikat atau menjauh. Dan di dalam masjid, seperti biasa sholat berjamaah dengan membaca do’a qunut nazilah. Tentu saja permohonan keselamatan muslimin seluruh dunia, dan dihindarkan dari wabah, musibah, juga gempa dan lainnya.

    Keyakinan begitu kuat itulah masih banyak masjid-masjid zona hijau, tetap ikhtiyar menjalankan sholat berjamaah sesuai dengan protokol kesehatan. Dimana waktu masuk wilayah masjid dengan mencuci tangan, disemprot cairan kesehatan, juga diperiksa suhu badan. Tetapi tetap melaksanakan sholat dan kegiatan di masjid seperti biasa. Bahkan ditambah do’a menolak wabah dan meminta dihindarkan.

    Baca juga :  Menelisik Gagasan Pemilihan Ulang

    Keyakinan keimanan dan menjaga syiar Islam itulah, PBNU memohon kepastian dengan “menggugat” agar pemerintah melalui Gugus Tugas melakukan pemetaan zona sampai ke tingkat kampung, “gugatan” itu sebagai upaya mengikuti pemimpin dengan baik dan benar, mengikuti program dan kebijakan pemerintah dengan patuh dan bijaksana.

    Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar meminta pemerintah untuk lebih detail memetakan zona persebaran virus Corona atau Covid-19. Dengan pemataan secara profesional sampai tingkat kelurahan/desa/kampung.

    Bahkan jika perlu, pemetaan zona tersebut dibuat sekecil mungkin hingga tingkat wilayah kelurahan. “Bila perlu diperkecil sampai ke tingkat desa tingkat kampung. Mana yang zona hijau, zona kuning, dan zona merah. Ini yang bisa hanya pemerintah, biar rakyat tidak semakin bingung,” ucap Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Rabu (8/4/2020).

    Pendetailan pemetaan zona ini, sangat berguna untuk acuan pelaksanaan Surat Edaran Menteri Agama terkait panduan ibadah bulan Ramadan di tengah wabah Virus Corona. Apalagi, dalam panduan itu disebutkan salat Tarawih dilakukan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah.

    Pelaksanaan Salat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan.

    “Kalau keadaan belum membaik kan jelas. Dalam edaran itu ada kata-kata dalam kondisi tidak memungkinkan, kalau itu alasannya kita terima, tapi jangan digeneralisir. Jangan digebyah uyah,” lanjut Pengasuh Ponpes Miftachus Sunnah, Kedung Tarukan, Surabaya ini.

    Baca juga :  Pemilihan Ulang PC NU Blitar Dinilai Tidak Sah dari Sudut Pandang Formil

    Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar mencontohkan di Surabaya, ketika ada orang di salah satu kampung positif, maka satu kecamatan bahkan se-Surabaya di zona merah semua. “Padahal di Surabaya ada kecamatan yang masih (zona) hijau dan salat Jumat masih dilakukan,” ucapnya.

    “Tapi tetap waspada, disiapkan hand sanitizer, ada tempat cuci tangan, penyemprotan (disinfeksi) sebagai sebuah ikhtiar,” tandasnya.

    Kiai Miftahul Akhmad menegaskan bahwa pemetaan zona secara mendetail ini, juga sebagai ikhtiar untuk menjauhkan prasangka buruk masyarakat kepada Kementerian Agama yang telah menerbitkan surat edaran tersebut. “Nanti ada yang curiga kalau khawatir akan menghabiskan amaliyah ibadah kita. Jangan salahkan kalau tidak dipetakan zonanya,” ujarnya.

    Berbeda dengan Salat Tarawih, untuk Salat Idul Fitri, KH Miftachul Akhyar melihat pelaksanaannya lebih kompleks. “Laki perempuan, tua muda keluar semua dan itu (hukumnya) Sunnah. Kalau demi kesehatan dan mengkhawatirkan ya tidak masalah (tidak dilaksanakan),” ucapnya.

    “Tapi kalau tidak mengkhawatirkan dan daerah itu masih hijau ya jangan (ditiadakan). Karena ini syiar kita jangan sampai syiar ini mati*,” lanjutnya.

    Namun dengan satu syarat, jika tetap ingin melaksanakan Salat Idul Fitri harus tetap berkoordinasi dengan stakeholder setempat. Mulai dari Kodim, Polsek, dan Kecamatan.

    Permohonan sekaligus sikap kritis NU meminta pemetaan zona sampai tingkat kampung, merupakan upaya mencari kepastian hukum dengan menampung aspirasi umat Islam yang masih aman melakukan sholat berjamaah ran sholat Jum’at, termasuk sholat Tarawih dan Idul Fitri, supaya tidak terkesan melanggar ketentuan terkait wabah virus Corona atau Covid-19.

    Baca juga :  Asyuro Awal Cakada Memantabkan Pilkada

    Juga ikhtiyar batiniyah supaya umat Islam memohon do’a agar Allah SWT, segera mengangkat virus Corona dan membebaskan sebelum bulan suci Ramadan. Selain itu, sebagai sikap menghargai dan menghormati pemerintah yang berkuasa, supaya lebih profesional dalam menetapkan ketentuan beribadah. Apalagi setiap sholat selalu memenjatkan do’a dan usaha pencegahan dengan banyak membaca dzikir.

    Sebagai saran kepada pemerintah yang berkuasa, sebaiknya untuk kegiatan beribadah dibuatkan pemetaan zona sampai pada skala paling kecil di lingkungan masjid atau wilayah masjid. Sehingga terkesan sangat profesional dan menumbuhkan semangat umat untuk bersama memerangi penyebaran Corona.

    Juga penyebaran informasi lain yang sangat dibutuhkan membantu pemerintah pemenang kan suasana, sekaligus mencegah penyebaran virus Corona juga menyembuhkan yang sudah positif terinfeksi virus Corona. Juga menghentikan dengan menemukan vaksin terbaik.

    Dan memberikan kepastian hukum atas masjid boleh atau tidak melakukan sholat berjamaah dan do’a qunut nazilah berjamaah, merupakan upaya ghoib untuk memohon pertolongan keajaiban dari Allah SWT, sangat membantu meringankan memerangi wabah dan musibah virus Corona.

    Apalagi, butir-butir pengamalan Pancasila sila pertama, “KeTuhanan Yang Maha Esa”, sudah jelas, di antaranya Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

    Dan, Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. (Djoko Tetuko)

    Penulis : Djoko Tetuko

    Sumber : WartaTransparansi.com

    COPYRIGHT © 2020 WartaTransparansi.com

    Berita Terkait

    Jangan Lewatkan